Sekretaris Daerah Provinsi NTB, H. Rosyadi Sayuti meresmikan fasilitas wisata alam Gunung Tunak Kabupaten Lombok Tengah, Selasa (6/3/2018). Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti serta pengguntingan pita oleh Sekretaris Daerah didampingi Dirjen International Affairs Korea Forest Service, Mr. KO Ki Yeon, Sekjen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, LHK Dr. Bambang Hendroyono, Plt Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri dan sejumlah pejabat lainnya. / foto: Ist

LOMBOKita – Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Korea meresmikan pemanfaatan hibah fasilitas yang dibangun di Taman Wisata Alam Gunung Tunak, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, dengan anggaran Rp25,92 miliar pada 2015-2017.

Peresmian dilakukan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Bambang Hendroyono bersama Director General International Affairs Korea Forest Service (KFS) Ko Ki Yeon, dan Sekretaris Daerah NTB H Rosyadi Sayuti, serta Pelaksana tugas Bupati Lombok Tengah Pathul Bahri di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tunak, Kabupaten Lombok Tengah, Selasa.

“Fasilitas yang ada saat ini di TWA Gunung Tunak dibangun atas kerja sama Pemerintah RI dengan Pemerintah Republik Korea,” kata Sekjen Kementerian LHK Bambang Hendroyono.

Ia menyebutkan fasilitas yang diresmikan, meliputi pusat informasi bagi pengunjung, gedung serba guna, rumah penginapan dan gedung pertemuan, pusat penangkaran kupu-kupu, arena berpetualang, lapangan parkir, serta jungle track.

Luas seluruh bangunan gedung yang dibangun sejak September 2016 sekitar 1.244 meter persegi, arena berpetualang cukup untuk 20 tenda besar, sedangkan lapangan parkir, taman dan “pathway” seluruhnya seluas 1.400 meter persegi, Bambang menambahkan dana hibah dari Pemerintah Republik Korea sebesar Rp 25,92 miliar, diarahkan untuk kegiatan pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM) sebesar Rp4,3 milliar.

Kemudian pada 2018, pihak KFS masih mengalokasikan anggaran untuk perbaikan dan pemeliharaan serta untuk pengembangan kapasitas SDM.

Kementerian LHK melalui DIPA Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTB, untuk pengembangan TWA Gunung Tunak dalam kurun waktu 2013-2017 telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp6,127 miliar, “Dana tersebut di antaranya untuk pembukaan jalan pengelolaan wisata, penyediaan jaringan air dan listrik serta perbaikan jalan, dan pada 2018 dialokasikan anggaran sebesar Rp8 miliar,” ujarnya.

Ia mengatakan proyek pengembangan kawasan TWA Gunung Tunak merupakan tindak lanjut dari penandatangan nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah RI dengan Pemerintah Korea tentang Penguatan Wisata Hutan dan Wisata Alam di Kawasan Hutan Konservasi di Indonesia.

MoU tersebut ditandatangani di Jakarta pada 12 Oktober 2013 oleh Menteri Kehutanan RI pada saat itu, Dr Zulkifli Hasan, dan Menteri Kehutanan Republik Korea pada saat itu Dr Shin Won Sop, dengan disaksikan oleh Presiden RI dan Presiden Republik Korea pada saat itu.

Setelah melalui beberapa kali pertemuan di Indonesia dan di Korea antara Tim Kementerian Kehutanan Indonesia dan Tim Korea Forest Service (KFS), serta survey lapangan, akhirnya kedua belah pihak sepakat bahwa lokasi proyek adalah di TWA Gunung Tunak, di Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lomboh Tengah, NTB.

“TWA Gunung Tunak dipilih sebagai lokasi kerja sama karena lokasinya yang strategis, sehingga bisa menjadi pendukung Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, yang sedang dikembangkan oleh BUMN,” kata Bambang.

Terpisah, pelaksana tugas Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri mengharapkan seluruh fasilitas yang telah dibangun itu dapat dipelihara dan dijaga dengan sebaik-baiknya demi keamanan dan kenyamanan para wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata alam itu.

Bantuan tersebut, kata Lalu Pathul Bahri merupakan bentuk kepedulian pemerintah kepada daerah Kabupaten Lombok Tengah pada khususnya yang saat ini sedang mengembangkan sektor pariwisata.

“Dan salah satu tujuan wisata alam yang paling diidolakan oleh para wisatawan adalah disini, di Gunung Tunak,” ucap Lalu Pathul Bahri.

Karenanya, kepada para pegiat pariwisata maupun masyarakat sekitar agar mampu memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh pengunjung obyek wisata alam Gunung Tunak.

“Mudah-mudahan kemajuan sektor pariwisata ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan daerah,” kata Pathul Bahri.