Ilustrasi produksi cabai

LOMBOKita – Dinas Perdagangan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyatakan tidak dapat mengendalikan harga cabai secara maksimal karena stok berkurang.

“Kenaikan harga cabai ini dipicu karena stok berkurang, sementara Mataram bukan daerah penghasil cabai,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram Lalu Alwan Basri di Mataram, Senin.

Harga cabai di pasar induk saat ini mencapai Rp70 ribu lebih per kilogram dan diyakini harga pasar tradisional lainnya lebih tinggi lagi.

Dikatakan, kenaikan harga cabai ini terjadi secara nasional, sementara Mataram bukan menjadi daerah penghasil cabai seperti kabupaten/kota lainnya.

Untuk memenuhi kebutuhan cabai, Mataram masih ditopang dari kabupaten/kota lain seperti di Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Tengah.

Sementara, upaya melibatkan Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) dalam kegiatan pasar murah juga belum bisa menekan harga cabai, karena harga cabai yang ditetapkan juga hampir sama dengan di pasar induk.

“Saat kami melibatkan PPI dalam kegitan pasar murah pada Sabtu (3/3), juga belum bisa memberikan dampak terhadap harga cabai,” katanya.

Terkait dengan itu, untuk menekan harga cabai secara signifikan pihaknya perlu berkolaborasi dengan sejumlah pihak terkait, seperti Dinas Pertanian, Dinas Perdagangan Provinsi NTB termasuk dengan satgas pangan.

“Satgas pangan selama ini tetap bekerja melakukan pengawasan terhadap adanya indikasi-indikasi dalam proses distribusi. Tapi untuk cabai diyakini kenaikan murni karena stok sebab cabai tidak bisa disimpan lama,” katanya.

Hal senada sebelumnya juga dikatakan Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli yang membantah jika kenaikan harga cabai disebabkan adanya penimbunan oleh para pengusaha, sebab cabai merupakan komoditas pertanian tidak tahan lama.

“Kalau pengusaha menimbun, mereka akan rugi karena cabai cepat busuk,” ujarnya.

Menurutnya, kenaikan harga cabai ini dipicu beberapa faktor antara lain karena musim panen sudah habis dan faktor cuaca sehingga mengganggu pengiriman.

Dari hasil survei yang telah dilakukan dibeberapa hektare areal tanam cabai di Kota Mataram baik di kawasan Sekarbela dan Karang Rundun, kondisinya memang sudah tidak ada yang bisa dipanen.

Karenanya, jika kondisi ini tidak segera disikapi dikhawatirkan kenaikan harga cabai akan menjadi penyumbang inflasi. Oleh karena itu, saat ini pihaknya telah melakukan koordinasi dengan sejumlah daerah penyuplai cabai di Kabupaten Lombok Timur.

“Kami meminta agar para pengusaha cabai dapat memenuhi kebutuhan untuk dalam daerah sebelum dikirim ke luar daerah agar tidak terjadi kenaikan harga lagi,” ujarnya.