Pemuda Pejanggik: “Putrie Jangan Ngaku Datu Kalau Tidak Punya Istana”

1648
kali tampilan.
Pemuda kraton Pejanggik, Ilham Yahya

LOMBOKita – Merebaknya saling klaim trah kedatuan (trah keturunan raja) di Kabupaten Lombok Tengah akhir-akhir ini mendapat reaksi protes dari Pemuda Kraton Pejanggik. Alasannya, saling klaim kedatuan itu hanya akan menumbuhkan sikap primordialisme di kalangan masyarakat, bahkan bisa jadi benih-benih konflik.

Atas nama Pemuda Kraton Pejanggik, Ilham Yahya menegaskan, isu-isu primordialisme sudah tidak relevan lagi dimunculkan di tengah-tengah masyarakat, mengingat 73 tahun usia kemerdekaan RI disertai masuknya era modern sekarang ini.

“Sekarang ini kita hidup di zaman modern, dimana prinsip-prinsip egaliter dan persamaan harus dikedepankan. Sementara primordialisme itu harus dikubur sedalam-dalamnya karena semangat itu sudah tidak cocok lagi di zaman ini, dan bertentangan dengan asas-asas demokrasi,” kata Ilham Yahya kepada LOMBOKita, Minggu (16/9/2018).

Seharusnya, kata Ilham, mereka yang mengklaim diri sebagai keturunan raja (di Lombok disebut datu) itu malu mengakui diri sebagai datu. Sebab, menurutnya, yang namanya datu itu punya istana.

Sementara, kata Ilham, sampai saat ini jangankan istana, tanah peninggalan kerajaan bekas istananya pun tidak ada.

“Kami saja warga Pejanggik yang jelas-jelas memiliki situs kerajaan Pejanggik tidak berani mengaku diri sebagai keluarga Pemban, apalagi ngaku sebagai keturunannya. Sebab, bagi kami pengakuan-pengakuan itu hanya akan menimbulkan konflik di tengah masyarakat,” jelas pungkas Ilham.

Jika ada yang masih ngotot mengaku dirinya keturunan raja, Ilham mengajak untuk sama-sama memelihara situs kerajaan Pejanggik yang masih ada. Situs kerajaan Pejanggik itu bisa dipugar dan dirawat seindah mungkin dan dijadikan sebagai situs budaya sekaligus sebagai destinasi wisata budaya. Mengingat destinasi wisata budaya di daerah ini masih kurang.

Ilham berharap kepada semua tokoh masyarakat terutama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Tengah untuk lebih fokus membangun sektor kepariwisataan yang saat ini masih morat-marit, daripada sibuk mencari pengakuan sebagai keturunan raja.

“Lalu Putrie selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata harusnya lebih fokus mengurus kepariwisataan dengan membuat terobosan baru dalam pengembangan wisata dan budaya. Ini kok malah kerjaannya berwara-wiri kesana kemari untuk hal-hal yang tidak jelas,” tukas Ilham.

Ilham kembali menegaskan, agar hal-hal yang bersifat primordial dikubur dalam-dalam atau cukup menjadi konsumsi internal keluarga, tetapi jangan diungkap ke permukaan. Sebab, itu rentan menimbulakn resistensi di kalangan keluarga besar masyarakat Sasak (Suku di pulau Lombok).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here