Pendaki Gunung Tambora Lebih 2.000 Orang

Pendakian Gunung Tambora / foto: Go-IndoSpot

LOMBOKita – Kepala Balai Taman Nasional Tambora Budi Kurniawan memprediksi jumlah pendaki Gunung Tambora pada 2017 mencapai lebih dari 2.000 orang atau meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya sebanyak 1.331 orang.

“Prediksi kami, jumlah pendaki tahun ini lebih dari 2.000 orang,” kata Kepala Balai Taman Nasional Tambora (BTNT) Budi Kurniawan, di Mataram, Sabtu.

Menurut dia, jumlah wisatawan yang mendaki Gunung Tambora dalam dua tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Hal itu dibuktikan dengan data jumlah pendaki pada 2016 sebanyak 1.331 orang atau jauh meningkat dibanding tahun sebelumnya sebanyak 230 orang.

Sementara jumlah pendaki selama periode Januari-Juli 2017 mencapai 800 orang, baik dari dalam negeri dan luar negeri.

Namun jika ditambah dengan jumlah pendaki yang memperingati Hari Ulang Tahun ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2017 sebanyak 1.000 orang, maka total pendaki Gunung Tambora sudah mencapai 1.800 orang periode Januari-Agustus.

“Biasanya pada musim liburan tahun baru, minat pendaki cukup tinggi. Kami optimis jumlah pendaki Gunung Tambora pada 2017 lebih dari 2.000 orang,” ujarnya.

Menurut dia, adanya minat wisatawan menjajal jalur pendakian Gunung Tambora sambil menikmati panorama alam kawasan Taman Nasional Tambora sebagai efek dari promosi kawasan wisata alam tersebut oleh pemerintah pusat dan daerah.

Kementerian Pariwisata bersama Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kabupaten Dompu, menggelar Festival Tambora Menyapa Dunia pada April 2015. Kegiatan tersebut bertepatan dengan peringatan 100 tahun atau satu abad letusan besar Gunung Tambora pada 11 April 1815.

Pemerintah Provinsi NTB bersama dengan Pemerintah Kabupaten Dompu, dan Kabupaten Bima menggelar Festival Tambora secara rutin setiap tahunnya dalam rangka meningkatkan angka kunjungan wisawatan ke Pulau Sumbawa, khususnya Taman Nasional Tambora.

“Bisa jadi, peningkatan jumlah pendaki secara signifikan dampak dari gaung Festival Tambora,” ujar Budi.

Pria yang pernah menjabat Kepala Bagian Tata Usaha Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTB ini mengatakan seiring makin kuatnya animo wisatawan mendaki Gunung Tambora, pihaknya perlu memperkuat fasilitas pendukung.

Fasilitas yang perlu mendapat perhatian adalah pos peristirahatan yang layak bagi para pendaki. Di lokasi tersebut harus dilengkapi dengan fasilitas sarana mandi, cuci dan kakus (MCK), serta tempat pembuangan sampah.

Upaya membangun dan menata jalur pendakian dilakukan oleh BTNT bersama dengan Dinas Pariwisata NTB dan Kabupaten Dompu serta Bima. Selain itu, dengan pihak-pihak terkait lainnya.

“Kami belajar dari kondisi Rinjani saat ini. Jangan sampai kawasan taman nasional menjadi tempat pembuangan sampah oleh para pendaki,” kata Budi.

Taman Nasional Tambora secara administratif termasuk dalam Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima, Pulau Sumbawa, NTB.

Penunjukan kawasan Taman Nasional Tambora dilakukan dengan SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 111/MenLHK-II/2015 tanggal 7 April 2015. Taman nasional itu diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 11 April 2015, bertepatan dengan peringatan 100 tahun letusan besar Gunung Tambora pada 11 April 1815.

Status kawasan sebelum menjadi taman nasional terdiri dari cagar alam seluas 23.840,81 hektare, suaka margasatwa seluas 21.674,68 hektare, dan taman buru seluas 26.130,25 hektare. ant

Komentar Anda