Tukang Becak Baca Koran, Mahasiswa Baca Status

Mimin Intan Sari

Pendidikan
Typography

LOMBOKita - Membaca adalah sebuah proses yang digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan atau gagasan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media tulisan. Keterampilran membaca dapat dikembangkan sendiri, seperti menyimak dan berbicara.

Mimin Intan Sari

Sungguh memprihatinkan kalau kemampuan dan minat membaca di Indonesia pada umumnya tergolong terendah di ASEAN. Oleh karena itu, minat kebiasaan membaca perlu dikembangkan secara terus menerus di dalam lembaga-lembaga pendidikan, keluarga dan masyarakat.

Untuk kalangan mahasiswa, membaca adalah salah satu keterampilan dan keharusan yang harus dimiliki, meskipun mahasiswa dituntut untuk selalu membaca, tetapi kesadaran mahasiswa akan pentingnya membaca masih jauh dari kata baik, bisa dikatakan memprihatinkan.

Mahasiswa harus dipaksa terlebih dahulu dengan berbagai tugas-tugas kuliah, sehingga mereka mau mencari buku di perpustakaan, membeli buku atau bahkan pinjam orang lain. Mahasiswa juga tak jarang terpaksa membaca buku karena besok akan melakukan ujian.

Tetapi di luar ini budaya malas membaca masih sangat melekat pada mahasiswa. Budaya ini dapat dibuktikan dari berbagai kebiasaan sejumlah besar mahasiswa. Misalnya, kebiasaan yang lebih sering menggenggam Handphone dibandingkan buku. Ya, Handphone di mata mahasiswa bisa dikatakan lebih penting sebagai kebutuhan primer, dibandingkan buku yang dianggap mahasiswa sebagai kebutuhan sekunder.

Buya Hamka pernah mengatakan “Membaca buku-buku yang baik, berarti memberi makanan rohani yang baik”, bahkan soekarno, Hatta, Tan Malaka, Syahrir, dan tokoh-tokoh penting lainnya, membangun negara dengan dimulai dari membaca.

Budaya malas membaca pada mahasiswa, sangat berbanding terbalik dengan budaya membaca para tukang-tukang becak. Ya yang saya lihat saat sedang menunggu penumpang, ataupun sedang istirahat, bahkan setelah makan di warung, tukang becak sibuk menjelajah dan mendapatkan informasi terbaru dari bacaan-bacaan dan berita-berita yang tersaji dalam koran. Berbeda jauh dengan kebiasaan mahasiswa sekarang, mereka cenderung asyik bermain dengan Handphone, membarui status akun media sosialnya, serta bingung mencari caption yang pas untuk foto/video yang akan diupload di akun media sosial mereka. Sehingga, tukang becakpun lebih tahu berita terbaru mengenai masalah-masalah dan kejadian-kejadian di Indonesia karena membaca koran, sedangkan mahasiswa lebih tahu mengenai status atau hal yang dilakukan teman-temannya melalui akun media sosial.

Tukang becak memiliki budaya membaca yang sangat baik dibandingkan mahasiswa. Tukang becak tanpa diperintah, tanpa dipaksa, mereka membaca, bahkan menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari.

Faktor-faktor yang mempengaruhi minat membaca antara lain faktor internal (usia, jenis kelamin, perasaan, perhatian dan motivasi) faktor eksterna seperti lingkungan, faktor social, ekonomi.

Mungkin ada beberapa hal untuk menumbuhkan agar minat baca mahasiswa lebih baik lagi di antara lain:
(1) ketahui manfaat besar membaca
(2) alokasikan waktu untuk membaca
(3) Buat diri anda terpaksa untuk membaca
(4) Temukan buku buku yang tepat
(5) Baca review review tentang buku
(6) Bergabung dengan komunitas
(7) sampaikan yang anda baca.

Menurut saya, sangat tidak ada ruginya kita menjadi seorang yang sangat senang dengan membaca. Benar-benar tidak ada ruginya. Tidak perlu takut menjadi orang yang introvert karena membaca buku merupakan bekal penting, karena dari keterampilan membaca, bisa membantu wawasan dan pengetahuan yang lebih lebih luas.


Mimin Intan Sari
Jurusan ilmu keperawatan Fakultas ilmu kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang