Penolakan dan Drama Aktivis

"Penolakan Nama Baru Bandara"

1271
kali tampilan.
Ilustrasi bandar udara internasional Zainuddin Abdul Madjid Lombok

LOMBOKita – Beberapa hari terakhir, media sosial di pulau Lombok sangat dihebohkan dengan berita penolakan Nama bendara. Sebelumnya beberapa kali bandara ini berganti nama, mulai dari BIL (Bandara Internasional Lombok), kemudian berganti lagi menjadi LIA (Lombok Internasional Airport) dan terakhir, berdasarkan SK dari Menteri Perhubungan, bandara ini mengambil nama Pahlawan Nasional yang ada di pulau Lombok, NTB. Dan sekarang ditetapkan Bandara Internasional ini bernama “Zainuddin Abdul Madjid international Airport” disingkat ZAMIA.

Pengambilan nama pahlawan, tentunya ada misi besar dari pemerintah, dimana hampir semua bandara di seluruh Indonesia menggunakan nama Pahlawan Nasional sebagai nama bandara.

Berbanding terbalik dengan kondisi pulau Lombok hari ini, mereka segelintir orang justru melakukan penolakan nama bandara, setelah bandara ini menggunakan nama Pahlawan Nasional, sebelumnya tidak pernah ada penolakan, semua adem ayem, tapi inilah dinamika kehidupan.

Berangkat dari polemik yang ada terkait penolakan ini, kebetulan penulis merupakan mantan aktivis jalanan, yang tentunya pernah merasakan demonstrasi, meskipun saat demonstrasi kami lakukan, kami tidak tau isu apa yang diangkat saat demonstrasi itu dilakukan, dan tidak jarang sebuah demonstrasi kami lakukan hanya dikarenakan ada tujuan pragmatis yang memang sedang kami target, pada waktu itu kami harus betul-betul matang membaca peluang, kapan dan dimana kami akan berdemonstrasi, terkadang isu yang kami angkat tidak ada kaitannya sama sekali dengan tujuan yang kami target, kami mau dapat jatah menteri di BEM universitas, justru isu yang kami angkat adalah masa lalu calon Presma yang akan dilantik, akhirnya akan terjadi sebuah dialog dan diskusi, dan saat diskusi berlangsung, kami bisa mengutarakan apa yang kami inginkan, jika keinginan kami sudah terwujud, seolah masa lalu sang Presma baru tak akan diungkit dan dipermasalahkan lagi.

Hal seperti ini memang sangat naif untuk kami ceritakan, tapi bagi penulis itu sebuah masa lalu, masa dimana kami hanya seorang mahasiswa yang masih berproses dan belajar. Jadi sebuah titik kenaifan itu harus betul-betul bisa kami rubah, dan sejujurnya penulis juga sangat malu dengan langkah-langkah politik yang kami lakukan itu. Tapi kami selalu yakin, masih ada langkah politik baik untuk mewujudkan kebaikan, kami tak ingin kembali pada langkah politik amatiran masa itu.

Ah, ternyata tulisan ini awalnya mau bahas secara ilmiah, justru malah bernostalgia dengan masa lalu, pada dasarnya dalam tulisan ini penulis ingin menyampaikan tentang kepribadian Abah Uhel (panggilan akrab Bupati Lombok Tengah HM Suhaili Fadil Tohir) sang komandan yang jadi garda terdepan penolakan nama baru bandara menjadi ZAMIA.

Secara pribadi, Abah Uhel selama ini saya kenal sebagai seorang orator cerdas, dalam setiap untaian ceramah dan orasinya, sangat lugas dan penuh kesejukan, beliau sangat pandai memilih diksi dalam setiap ceramah yang beliau sampaikan. Malahan menurut cerita beberapa tokoh yang pernah belajar di Yatofa Bodak, Abah Uhel pengurus asrama yang visioner penuh tanggung jawab, artinya bisa kita maknai, Abah Uhel adalah orang sangat baik.

Mungkin ada saja yang berfikir, setiap orang bisa berubah, bagi penulis Abah Uhel tidak ada perubahan, cuma satu hal yang perlu dilihat, hari ini sang bupati adalah seorang politisi dan ketua partai.

Apalagi partai yang beliau pimpin adalah partai terbesar di NTB, tentunya dengan besarnya partai yang beliau emban, menjadi oposisi pemerintah bukanlah karakter dari partai yang beliau pimpin, maka terbangunnya koalisi baru dengan pemimpin baru NTB mungkin saja terjadi, dimana kita tau, politik itu sangat dinamis dan cair, hari ini musuh, dua jam lagi bisa menjadi kawan.

Apalagi dalam pandangan penulis, tidak ada alasan sedikitpun Abah Uhel akan menolak nama baru bandara, akan tetapi membuat drama penolakan bagaimana? Bagi penulis apa sih yang tidak mungkin bagi seorang politikus?

Bagaimana dengan masyarakat yang terprovokasi? Politisi punya nalar pembinaan, bagi dia, gejolak masyarakat tidak akan berlangsung lama, ketika oratornya sudah mendamaikan.

Kenapa penulis berani mengatakan sang bupati tidak punya alasan menolak nama bandara Baru?. Diantaranya:

1. Abah Uhel adalah putra dari TGH. Fadhil Thohir, murid dari Maulana Syaikh, dalam adat masyarakat Sasak, menghormati guru dan keturunannya adalah sebuah tatakrama dan adat Sasak Islam murni, petuah guru adalah petunjuk menjalankan kehidupan. Etiskah seorang murid menolak gurunya diagungkan?

2. Abah Uhel ini merupakan menantu dari Uminda Hj. Siti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid, berarti istrinya adalah cucu dari Pahlawan Nasional yang menjadi Nama Baru Bandara. Apa kata masyarakat melihat sang cucu menolak kakeknya dimuliakan?

3. Abah Uhel saat pilkada banyak diuntungkan oleh suara kader NW, tentunya dengan kondisi tersebut, Abah Uhel pasti memiliki komunikasi kekeluargaan dan kebersamaan dengan beberapa kader NW yang di wilayah Lombok Tengah.

Akhirnya benak penulis terlintas, mungkinkah Abah Uhel akan menyakiti beberapa tokoh NW Lombok Tengah yang merupakan saudara seperjuangannya? Bagi penulis politisi pasti punya pertimbangan matang sebelum bertindak.

Dan Abah Uhel bukanlah aktivis amatiran seperti kami pada waktu itu, beliau adalah sang bupati, ketua partai dan pemimpin ummat, beliau faham betul peta politik dan kondisi datangnya pemimpin Baru NTB, pemimpin baru akan memaparkan visi misi dalam bentuk RPJMD yang melibatkan masyarakat dan perwakilan partai yang ada di DPRD provinsi.

Dengan paparan tigaa alasan di atas, sangat cukup bagi saya untuk mengatakan, seriuskah Abah Uhel menolak nama baru bandara? Atau apa yang terjadi kemarin hanya dagelan sang aktivis menyikapi pergantian baru pemimpin NTB? Tapi sebagai alumni aktivis jalanan, segala sesuatu bisa dan boleh kita mainkan, tapi bukan hal yang berkaitan dengan aqidah agama dan nama baik para kiyai dan ulama.

Sampai ada yang bilang (Senakal-nakalnya aktivis, kalo perintah kiyai, pasti tak mampu dia tolak dan lawan) justru aktivis memiliki kebanggaan ketika mampu menyematkan nama besar kiyainya pada karya yang pernah dia torehkan.

#ZAMIALombok
Selamat datang Nama Baru Bandara.

Penulis:
Ahmad Patoni, SS
– Pengajar Filsafat di Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) NW Pancor
– Kepala Madrasah Diniyah Salaf Modern (MDSM) Pondok Pesantren Thohir Yasin, Lendang Nangka Kecamatan Masbagik Lombok Timur

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.