Pesan TGB, Wisudawan IAIH Harus Cerminkan Nilai Perjuangan Maulana Syaikh

208
kali tampilan.
Loading...

LOMBOKita – Sebanyak 321 mahasiawa-mahasiswi Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor diwisuda, Ahad (08’12/2019) di GOR Hamzanwadi Pancor Lombok Timur NTB.

Para wisudawan-wisudawati diharapkan bisa menjadi problem solver terhadap berbagai permasalah yang terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini.

Rektor IAIH Pancor, Dr. TGB Zainul Majdi mengucapkn selamat kepada wisudawan dan wisudawati yang lulus menempuh pendidikan di IAIH Pancor selama bertahum-tahun.

Ia berharap lulusan IAIH Pancor ini hadir di tengah masyarakat dengan membawa kemaslahatan bagi masyarakat banyak.

“Jika ada masalah masalah sosial, jadilah tumpuan untuk menyelesaikan masalah itu, kalau ada masalah pendidikan, maka berikan kontribusi untuk penyelesaikan pendidikan,” ungkap mantan Gubernur NTB dua periode itu.

Loading...

Demikian juga masalaha lain seperti masalah ekonomi, para sarjana diharapkan mampu menjadi bagian dalam menyelesaikan masalah ekonomi tersebut, termasuk masalah lain harus menjadi problem solver di tengah kehidupan masyarakat.

“Dengan disiplin keilmuan dan pendidikan yang dimiliki, saya berharap semua lulusan bisa menjadi solusi bagi masalah di tengah masyarakat,” harap TGB di hadapan wisudawan-wisudawati.

TGB juga berharap, IAIH sebagai lembaga pendididikan yang didirikan Almagfullah TGH KH. M. Zainuddin Abdul Majid bisa menjadi tempat belajar kader-kader yang memperjuangkan agama, bangsa dan tanah air.

“Sejak awal didirikan IAIH telah dihajatkan sebagai tempat mendidik kader-kader pejuang, sehingga lulusan IAIH Pancor harus mencerminkan nilai-nilai perjuangan untuk kemaslahatan umat,” urainya.

Ia juga berpesan jangan sampai alumni atau lulusan IAIH Pancor ini menjadi bagian dari pembuat ulah atau masalah di tengah kehidupam masyarakat karena hal itu tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

Sementara itu, Bupati Lombok Tumur, HM Sukiman Azmy juga menyampaikan Wisuda ke-29 yang digelar IAIH Pancor ini haris menjadi sarjana yang dalam istilah yang pernah disebut pendiri NW, sarjana itu adalah siroo jun lana bukan sarrun jaa ana.

“Siroo jun lana maknanya adalah sarjana itu adalah penerang bagi masyarakat, penerang bagi keluarga, penerang bagi lingkungan, jangan jadi sarjana yang sarrun jaa ana yang artinya keburukan yang mendekati kita,” ulas bupati yang juga alumni madrasah Pancor itu.

Bupati berharap semua sarjana yang diwisuda untuk menjaha nama baik almamater, gali dan kembangkan potensi yang dimiliki sehingga pada akhirnya bisa membawa kebaikan untuk kehidupan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.