Ilustrasi perbedaan uang asli dan palsu

LOMBOKita – Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat, mengantisipasi modus kejahatan dari peredaran uang palsu di tengah tingginya animo masyarakat melakukan transaksi tunai menjelang hari lebaran Idul Fitri 1439 Hijriyah.

Kabid Humas Polda NTB AKBP I Komang Suartana di Mataram, Sabtu, mengatakan, langkah antisipasi sudah dilakukan dengan menggelar kegiatan patroli lapangan, terutama di kawasan yang menjadi sentra transaksi tunai.

“Kalau pencegahannya sudah kita lakukan, kita turunkan tim Reskrimum, dan sejauh ini belum ada laporan atau pun temuan uang palsu yang beredar, digunakan orang untuk transaksi,” kata Suartana.

Menurutnya, peredaran uang palsu menjelang hari lebaran memang menjadi salah satu kejahatan yang perlu di antisipasi oleh masyarakat. Cara mudah untuk mengenalinya cukup dengan mengecek dengan dilihat dan diraba fisik kertasnya, kemudian diterawang.

“Tentunya dengan cara begitu, masyarakat bisa lebih waspada dan lebih hati-hati saat bertransaksi dengan uang tunai,” ujarnya.

Terkait dengan ancaman pidana untuk kelas kejahatan yang masuk dalam kategori penipuan ini telah diatur dalam Perundang-undangan Republik Indonesia tentang Mata Uang.

Sesuai dengan aturan Undang-Undang RI Nomor 7/2011 tentang Mata Uang, jelasnya, berbelanja dengan uang palsu dapat di pidana penjara selama 15 tahun dan denda Rp10 miliar.