Politik, Sahabat dan Sahabat Politik

Ditulis oleh Ahmad Patoni, SS *

235
kali tampilan.
Ahmad Patoni, SS - Kepala Madrasah Diniyah Salaf Modern Thohir Yasin Lendang Nangka, Masbagik – Lombok Timur.

LOMBOKita – Politik memiliki asal kata “Polis” yang memiliki arti sebuah kota atau sebuah tatanan. Dalam perkembanganya, politik memiliki arti sebuah media/jalan untuk mencapai polis.
Artinya, mengambil jalur politik memiliki arti mengambil jalan untuk mewujudkan kehidupan polis (kehidupan penuh tatanan dan berkemajuan).

Untuk membangun sebuah kehidupan bermasyarakat yang berkemajuan, dengan sekian ragam model masyarakat yang ada, maka politik/siasah sangat dibutuhkan. Tidak akan mungkin kita bisa menyatukan karakter dan kepentingan yang ada di masyarakat terkecuali dengan cara/strategi yang bagus. Strategi yang mempertimbangkan kebaikan bersama, mempertimbangkan baik buruk, serta mempertimbangkan antara prioritas dan kuantitas.

Dengan kuantitas dan heterogennya masyarakat, tentunya akan sangat sulit untuk bisa membangun kesepakatan bersama. Terkecuali dengan Teknik sistematis. Teknik sistematis inilah yang dikatakan sebagai politik.

Meskipun kita sadari, hari ini sebagian besar masyarakat kita mengakui bahwasanya politik diidentikkan dengan kotor dan penuh tipu daya muslihat. Politik adalah permainan yang selalu merusak persahabatan, merusak persaudaraan, saling makan antar sesama umat manusia. Politik juga diidentikkan dengan adu domba saling sogok dan penghianatan.

Loading...

Jika kita kembali pada orientasi awal dari politik, maka semua asumsi dan praktik politik yang kita lihat dan rasakan, sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Maka sejatinya kesemua itu sudah keluar dari orientasi/Tujuan mulia politik itu sendiri.

Politik bukanlah tipu daya, politik adalah sebuah cara untuk memberdayakan manusia yang beragam. Politik bukanlah perkara kotor, melainkan politik itu adalah cara suci mengabdi pada ilahi. Politik bukanlah penghianatan antar saudara dan sahabat, melainkan politik adalah langkah untuk menambah kawan dan sahabat. Politik bukanlah sogokan dan adu domba, melainkan politik adalah cara berbagi diantara umat manusia.

Asumsi awal diatas inilah yang berkembang di masyarakat kita selama ini, sehingga sebagian santri dan Ummat islam selalu takut ketika tokoh Agama dan keluarganya akan terlibat dalam politik praktis. Mau tidak mau harus kita akui, di sebagian besar santri, masyarakat dan keluarga kita masih meyakini politik identik dengan kelicikan dan kotor. Sehingga rasa sayang mereka itulah yang menyebabkan rasa takut jika ulama atau keluarga mereka akan terlibat dalam politik.

Begitu juga dengan sahabat dan politik. Arti kata Sahabat tidak memiliki korelasi permanen dengan arti kata politik. Karena persahabatan adalah sebuah jalinan yang terbangun diluar tendensi politik, jika persahabatan itu terbangun diatas tendensi politik, maka itu dinamakan relasi politik. Bukan dinamakan persahabatan (sahabat) karena hubungan dan perjumpaan kita berawal dan bersinergi dalam urusan kepentingan politik. Kalaupun harus ada sebuah pilihan antara kepentingan relasi politik dan kepentingan politik, Maka orientasi politik harus berada diatas kepentingan relasi politik yang sudah terbangun itu.

Jika relasi (Sahabat politik) akan menjadikan kita sebagai beban dalam mewujudkan orientasi politik, maka tujuan mulia itu akan sangat sulit terwujud.

Politik merupakan jalan mulia yang tidak akan merobohkan orientasi politik, orientasi politik adalah peradaban, kebersamaan, kemajuan dan keharmonisan. Akan sangat lucu dan menggelikan jika politik akan menghancurkan sebuah hubungan kekeluargaan, persahabatan dan keutuhan berbangsa dan bernegara. Hal ini sama halnya ingin membangun sebuah jalan bagus di sebuah kota, dengan cara menghancurkan semua isi kota.

Politik merupakan jalan, jika politik merupakan jalan, maka harus kita yakini bahwa jalan itu tidak satu. Untuk menggapai tujuan politik, tidak harus dengan satu cara, jika seribu cara sudah kita coba, maka ada sejuta cara yang belum kita coba. Dengan tanpa harus mengorbankan persahabatan/tujuan politik sendiri.

Secara tidak langsung kami ingin mengkritisi bahasa yang selama ini kita dengar “Dalam politik Tidak ada istilah Persahabatan Abadi, yang ada hanya kepentingan abadi” Kami lebih memahami bahasa ini ingin menyampaikan bahwa. “dalam mewujudkan kepentingan politik, tidak boleh/ada relasi abadi. Yang harus ada adalah kepentingan abadi” Akan sangat kaku jika sebuah kepentingan politik harus bertahan dengan satu relasi, bisa jadi relasi politik yang terbangun bisa menghambat laju kepentingan politik itu sendiri. Sehingga harus dibuka komunikasi baru untuk mencari relasi baru yang bisa mengantarkan pada orientasi politik yang mulia itu.

Wallahua’alam.
* Ahmad Patoni, SS – Kepala Madrasah Diniyah Salaf Modern Thohir Yasin Lendang Nangka, Masbagik – Lombok Timur.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.