Fenomena TGB dan Momentum Bagi NTB

TGB HM Zainul Majdi / foto: Istimewa

Politik
Typography

Bulan Oktober tahun 2016 mungkin bisa dikatakan langkah awal dari Muhammad Zainul Majdi atau lebih dikenal dengan nama Tuan Guru Bajang (TGB) menuju pertarungan politik nasional. Bulan itu ketika TGB diminta menjadi pengisi materi dalam sebuah kegiatan di Masjid Universitas Indonesia dengan memberikan materi kepemimpinan, berhasil mengundang kehadiran jamaah dalam jumlah besar yang berasal dari berbagai kalangan, baik itu mahasiswa maupun masyarakat umum.

Kondisi ini mungkin diakibatkan oleh banyaknya kejadian yang pada saat itu seakan memberikan “angin segar” bagi TGB untuk menapakkan langkahnya menuju pentas nasional Dimana beberapa minggu sebelum itu di Jakarta sedang berlansung aksi bela Islam untuk menuntut penegakan hukum bagi Ahok, yang tidak bisa dipungkiri secara tidak langsung menaikkan nama TGB pada saat itu.

Sepak terjang Tuan Guru Bajang dalam dunia politik dimulai ketika beliau menjadi salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Bulan Bintang untuk periode 2004-2009. Belum sampai akhir periode di parlemen, TGB memilih untuk mengikuti pemilihan Gubernur Nusa Tenggara Barat untuk periode 2008-2013. Munculnya TGB dalam kontestasi pemilihan Gubernur pada saat itu bisa dikatakan memecah kebiasaan yang ada, usia TGB yang pada saat itu belum genap 36 tahun merupakan suatu hal yang belum lazim terjadi, namun dengan sistem pemilihan langsung kelaziman-kelaziman tersebut terkikis oleh polpularitas beliau yang berasal dari trah keluarga ulama kharismatik bagi kalangan masyarakat NTB.

Namun usia yang masih terbilang muda membuat banyak kalangan skeptis terhadap beliau dan banyak yang beranggapan keterpilihan TGB hanya karena trah kakeknya yang merupakan pendiri Nahdlatul Wathan (NW) yaitu TGKH M. Zainuddin Abdul Madjid. Namun seiring berjalanya waktu TGB dapat membuktikan kapasitasnya sebagai seorang pemimpin. Terbukti dengan keberhasilanya terpilih lagi untuk periode selanjutnya memimpin NTB, secara langsung mematahkan skeptis dari berbagai kalangan terhadap TGB.

Keberhasilan TGB dalam memimpin Provinsi Nusa Tenggara Barat dan beberapa prestasi individu yang diterima mengundang perhatian banyak pihak untuk mengarahkan TGB ke pertarungan yang lebih besar, pertarungan menuju istana. Namun ada satu hal yang bisa menjadi pengganjal TGB untuk bertarung dan memenangkan konstentasi di tingkat politik nasional, asal daerah TGB yang bukan dari daerah tradisional penyumbang tokoh nasional.


Iya, NTB dalam pertarungan nasional belum bisa berbicara banyak,terbukti sampai saat ini belum ada satupun tokoh dari NTB asli yang menempati posisi setingkat menteri dalam setiap kabinet pemerintahan Indonesia.

Masih kuatnya sifat primodial masyrakat Indonesia bahwa seroang presiden haruslah orang Jawa dan wakilnya jika tidak dari Sumatra ya dari Sulawesi, masih berat bagi tokoh dari luar daerah tersebut untuk memecahkan kelaziman tradisional yang ada ini. Jika realistis, berat bagi TGB untuk bertarung menjadi seorang RI 1 bahkan untuk RI 2 pun masih berat. Terbukti dengan beberapa survei yang dilakukan saat ini belum ada yang memperhitungkan TGB secara signifikan, lembaga survei masih didominasi oleh dua tokoh nasional yang pernah bertarung pada pilpres 2014 yang lalu yaitu Jokowi dan Prabowo.

Kondisi realistis ini memang harus diterima, suka tidak suka primodialisme kedaerahan masih erat dalam kancah perpolitikan Indonesia. Tapi jika berbicara kapasitas, dari segi apapun diluar Jokowi dan Prabowo, TGB adalah figur alternatif terbaik untuk bertarung dalam pilpres 2019 nanti atau setidaknya sebagai calon RI 2 pedamping dua kandidat tersebut merupakan sebuah hal yang sangat layak bagi seorang TGB, dengan pencapainnya yang ada saat ini. Jika dinamika politik yang ada benar akan membawa TGB ke dalam pertarungan menuju istana, ini bukan hanya akan menjadi mementum bagi individu TGB semata, namun momentum bagi masyarakat NTB secara keseluruhan, NTB sudah terlalu lama dianggap daerah kelas 2.

Sudah saatnya NTB naik kelas, menghapus segala stigma ketertinggalan yang ada saat ini, seperti salah satu “Jokes” TGB ketika menjadi pembicara di masjid UI, bahwa NTB erat dengan akronim “Nasib Tidak Baik”, “Nasib Tergantung Bali”, harus segera hilang dari stigma masyarakat ketika mendengar kata NTB dan ini bisa tercapai jika masyarakat NTB bersatu membantu TGB mendobrak kelaziman yang ada, memunculkan kandidat diluar daerah tradisional yang ada saat ini.

Namun pasti tidak semua orang NTB sepakat atau suka dengan sosok TGB, tapi jika kita melihat munculnya TGB ini sebagai jalan masuk kita ke tingkat nasional maka seharusnya kita sampingkan ego pribadi kita, lihat ini sebagai langkah pertama untuk sosok lain dikemudian hari berbicara banyak dalam kancah perpolitikan nasional. Inilah momentum terbaik untuk menghapus stigma tertinggal dan terbelakang untuk NTB, memastikan di tahun-tahun yang akan datangkan tidak ada lagi yang memandang NTB sebagai provinsi kelas 2, provinsi antah berantah.


Penulis: Rijal Rivaldi
Mahasiswa Magister Ilmu Administrasi Pajak-Universitas Indonesia
Tergabung Dalam Aliansi Pemuda NTB-Jakarta