Ramadhan di Tengah Pandemi Covid-19

Ditulis oleh Amar Alhaq*

29
kali tampilan.
Amar Alhaq, Mahasiswa Sosiologi / Kepala Divisi Pengabdian Masyarakat Himpunan Mahasiswa Sosiologi Unram 2020
Loading...

Sebagai muslim tentunya kita sangat berbahagia dan gembira dengan datangnya bulansuci Ramadhan. Kebahagiaan dan kegembiraan ini sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT yang masih mempertemukan kita dengan bulan-Nya yang penuh kemuliaan.

Ramadhan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena saat ini di seluruh belahan dunia sedang dilanda Wabah Corona Virus Deaseas 2019 (Covid-19) yang secara resmi telah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pandemi global pada Rabu (11/3/2020).

Bulan suci Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, ini berdasarkan pada dalil hadist Nabi Rasulullah SAW yang artinya : ”Sungguh telah dating kepada kalian bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini diwajibkan puasa kepada kalian.” (HR. Ahmad, An-Nasa’idan Al-Baihaqi). Dan juga bahwa setiap ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan, maka Allah akan melipatgandakan pahalanya.

Secara Nasional, data terakhir jumlah kasus Covid-19 di Indonesia pada hari Rabu (13/052020) menujukkan bahwa sebanyak 15.438 orang dinyatakan positif Covid-19, sebanyak 3.287 orang dinyatakan sembuh dan sebanyak 1028 orang dinyatakan meninggal (www.covid19.go.id). Penyebaran Covid-19 yang begitu massif di seluruh Indonesia membuat pemerintah terus berupaya mencari solusi untuk mengurangi dan memberantas pandemi Covid-19 ini. Mulai dari penerapan psysical distancing hingga kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Tingkat kedisiplinan masyarakat menerapkan physical distancing masih rendah, ini dibuktikan dengan survei yang dilakukan oleh Alvara Research Publik pada tanggal 9 April 2020, menilai tingkat kedisplinan dan partisipasi warga menjalankan sociall / physical distancing di lingkungan mereka cukup rendah.

Zeinta Tour and Travel - Solusi Ke Baitullah
Zeinta Tour and Travel
Loading...

Hasil survey menunjukkan hanya 8,3% menilai ‘Semuanya benar-benar patuh’. 38,7% menilai “Sebagian kecil mengikuti’, 50,2% menilai “Sebagian besar mengikuti’, dan 2,6% menilai “Tidak ada yang mengikuti’. Serta ada 0,2% menjawab “Tidak tahu”(https://is.gd/yGYGV2). Penulis menilai bahwa masih rendahnya kedisiplinan masyarakat ini karena kebijakan yang diterapakan pemerintah tidak dibarengi dengan jaminan bahwa pemerintah akan sepenuhnya memenuhi kebutuhan pokok masyarakat.

Pemerintah melalui Kemenag telah mengeluarkan surat edaran Kementrian Agama RI. No: SE.6 TAHUN 2020, tentang Panduan ibadah Ramadhan dan Idul Fitri l Syawal 1441 H di tengah pandemic Covid-19. Tujuan dari surat edaran Kementrian Agama tersebut yaitu memberikan panduan beribadah yang sejalan dengan Syariat Agama Islam sekaligus mencegah, mengurangi penyebaran, memutus mata rantai Covid-19 dan melindungi masyarakat muslim di Indonesia dari resiko Covid-19.

Masih adanya masyarakat yang melakukan ibadah di luar rumah bahkan ada yang melakukan aksi penolakan penutupan masjid. Kondisi seperti inilah yang mengkhawatirkan karna justru akan meningkatkan jumlah kasus pandemic Covid 19. Seperti yang terjadi pada tanggal 1 Mei 2020, masyarakat Desa Bengkel Lombok Barat melakukan aksi penolakan ditutupnya Masjid Jami’ Shaleh Hambali karena keberatan dengan kebijakan Pemerintah yang melakukan penutupan masjid selama wabah pandemi Covid-19. Karakteristik masyarakat yang kental akan nilai-nilai religious dan kebiasaan masyarakat yang guyub dan solider dalam hal beragama, membuat masyarakat sulit mentaati himbauan yang telah dilakukan pemerintah.

Menurut penulis, perlunya peran serta seluruh pihak seperti tokoh agama, tokoh masyarakat untuk membantu pemerintah memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pelaksanaan ibadah di rumah. Dengan begitu membuat masyarakat menerima dan melaksanakan himbauan tersebut. Inilah kemudian secara otomatis menyebabkan berubahnya nilai dan norma yang ada di masyarat, seperti kebiasaan masyarakat di bulan suci Ramadhan melakukan ibadah di masjid ataupun mushola kini beralih untuk beribadah di rumah.

Seorang Tokoh Sosiologi bernama Max Wabber dalam teorinya tentang Tindakan Sosial mengatakan bahwa suatu tindakan disebut tindakan social apabila tindakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain, dan berorientasi pada perilaku orang lain.

Menurut Weber ini dunia terwujud karena tindakan sosial. Weber mengklasifikasikannya menjadi empat tindakan dasar, yang dibedakan dalam konteks motif para pelakunya:

  • Tindakan Rasionalitas Instrumental (berorientasi tujuan) adalah tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan dengan pertimbangkan rasional, seperti orang belajar agar pintar.
  • Tindakan Rasionalitas Nilai (berorientasi nilai/berdasarkan nilai) adalah tindakan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan nilai etis, estetis, dan religious.
  • Tindakan Afektif adalah tindakan yang dilakukan lebih berdasar factor emosi/perasaan.
  • Tindakan Tradisional adalah tindakan yang dilakukan karena sudah menjadi kebiasaan dan lazim dilakukan, seperti mudik waktu lebaran.

    Penulis menilai bahwa himbauan yang dilakukan pemerintah agar masyarakat melakukan ibadah di rumah termasuk ke dalam tindakan rasionalitas instrumental. Hal ini didasari pada tujuan pemerintah yang berusaha memutus matarantai Covid-19 dengan menghimbau masyarakat melakukan ibadah di rumah.

Pemerintah harus melakukan kolaboratif dalam rangka memutus mata rantai Covid-19 ini. Kebijakan kolaboratif ini menurut penulis harus melibatkan seluruh pihak seperti masyarakat dan mengikutsertakan peran swasta agar agar saling bersinergi mengatasi Covid-19. Khususnya pada bulan suci ramadhan ini Pemerintah harus menggandeng tokoh masyarakat, tokoh agama untuk memberikan edukasi, nasehat dan peringkatan agar masyarakat mengikuti himbauan yang disampaikan oleh Pemerintah.

Terakhir, untuk menutup tulisan ini, penulis mengutif ungkapan yang disampaikan oleh Wakil Presiden RI KH. Ma’ruf Amin saat teleconference dalam sambutannya pada “Doa dan Dzikir Nasional untuk Keselamatan Bangsa.” Beliau mengatakan kita tetap bertawakal kepada Allah Swt, tetapi kita juga harus berusaha, harus berikhtiar, dan harus melakukan kasab.

Lakumakasabtum, bagimuapa yang akan kamu usahakan. Karena itu ulama mengajarkan kita supaya bersikap ikhtiaran dhahiran, itiraran batinan supaya kita ikhtiar secara lahiriah dan kita pasrah secara batiniah kepada Allah SWT.

* Amar Alhaq
Mahasiswa Sosiologi / Kepala Divisi Pengabdian Masyarakat Himpunan Mahasiswa Sosiologi Unram 2020

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.