Sebanyak 62 Persen JCH Lombok Barat Beresiko Tinggi

Ilustrasi Calon Jemaah Haji
Ilustrasi Calon Jemaah Haji/Foto JawaPos

LOMBOKita – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat mencatat jumlah jamaah calon haji (JCH) diberangkatkan ke Mekkah pada 2017 sebanyak 639 orang, di antaranya sebesar 62 persen masuk kategori risiko tinggi.

“Sebagian besar masuk risiko tinggi karena usianya lebih dari 60 tahun, bahkan ada yang lebih dari 100 tahun,” kata Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid saat bersilaturahmi sekaligus memberikan pembinaan kepada JCH di Gerung, Rabu.

Terkait jumlah JCH risiko tinggi yang relatif banyak itu, pihaknya sudah menyiapkan tenaga medis yang akan memberikan pelayanan kesehatan selama di Tanah Suci Mekkah.

“Saya tugaskan satu orang dokter dari RSUD Gerung, dan dua orang perawat dari Puskesmas Narmada, serta Puskesmas Lingsar. Mereka yang akan mengawal dan memberikan penanganan medis,” ujarnya.

Sementara itu, dr Baiq Yulia Handayani mengatakan para JCH asal Kabupaten Lombok Barat yang masuk kategori risiko tinggi itu, teridentifikasi dengan berbagai macam penyakit.

“Rata-rata usia jamaah di atas 62 tahun. Pada kloter empat, usia paling tua yaitu 79 tahun, ini diketahui setelah melakukan ‘screaming’ di masing-masing puskesmas,” ucapnya.

Ia juga menyebutkan JCH asal Lombok Barat yang paling berisiko adalah dengan usia 104 tahun, yakni Baiq Mariah.

JCH asal Desa Mambalan, Kecamatan Gunung Sari, itu masuk dalam kelompok penerbangan (kloter) 10 atau kloter campuran.

Menurut Yulia penanganan yang diberikan kepada JCH risiko tinggi berupa perhatian lebih instensif dengan memberikan penanda berupa gelang.

“Ada tiga macam warna gelang untuk masing-masing, yaitu warna merah, kuning, hijau. Ini diberikan berdasarkan usia dan penyakit tertentu,” ujar dokter muda yang bertugas di RSUD Gerung ini.

Jumlah JCH asal Kabupaten Lombok Barat sebanyak 639 orang terbagi dalam dua kloter, yakni kloter empat sebanyak 450 orang, dan kloter 10 atau kloter campuran sebanyak 189 orang.

Komentar Anda