Seminar Internasional Universitas Hamzanwadi, Menggali Pembelajaran Terbaik

56
kali tampilan.
SEMINAR INTERNASIONAL: Rektor Universitas Hamzanwadi Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah (empat dari kiri) bersama para narasumber HICE 2018, (3/11/2018)

LOMBOKita – Universitas Hamzanwadi Sabtu (03/11/2018) menggelar seminar international “The 4th Hamzanwadi International Conference on Education (HICE) 2018” di Hotel Lombok Raya Mataram. Seminar ini selama dua hari sejak 3 – 4 November.

Seminar yang bertujuan menggali gagasan-gagasan akademik dari para dosen, mahasiswa, guru, serta pemerhati pendidikan bahasa dan budaya Indonesia ini di buka oleh Wakil Gubernur NTB yang juga Rektor Universitas Hamzanwadi Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah.

Dalam sambutannya, Ummi Rohmi sapaan akrabnya mengapresiasi kehadiran para narasumber yang sudah menjalin kerjasama lama dengan Universitas Hamzanwadi. Konsep “Bersaing dan Berbudaya Santri” yang tersemat pada Universitas Hamzanwadi telah banyak menyelenggarakan even nasional bahkan internasional.

“Motto bersaing dan berbudaya santri membawa Universitas Hamzanwadi jauh dari ketertinggalan, kita tidak mau ketinggalan dengan kemajuan dunia saat ini. Bersaing namun tetap berbudaya santri,” katanya.

Dijelaskan, kerjasama yang dilakukan Universitas Hamzanwadi  sudah lama terjalin dengan berbagai universitas di dunia. Hal ini terkait dengan telah sering kalinya event internasional yang di gelar.

“Ini event yang keempat dan kita sudah lama bekerja sama dengan berbagai universitas dunia, kita sadar hidup dimasa sekarang tidak bisa lepas dari networking hubungan antar negara,” imbuhnya.

Terkait tema yang diambil, Ummi Rohmi mengatakan ini bagian terpenting untuk tetap memberikan pendidikan berkualitas sehingga keberlangsungan pendidikan tetap beriringan dengan kemajuan zaman.

“Berinteraksi dengan universitas dan terus meningkatkan kerjasama program terutama dalam bidang penelitian, universitas tanpa kualitas tidak ada apa-apanya,” tegasnya.

Hadir sebagai narasumber yaitu Prof. Keith Robert John Wood, Phd, dari Universitas Brunei Darussalam, Prof. Dr. Muhammad Syukri Bin Saud dari Universitas Teknologi Malaysia, Associate Prof. Gerrard Marchesseau, Phd, dari Universitas Pendidikan Naruto Jepang, Associate  Ravinesh Rohit Prasad, Phd, dari Fiji, dan Presiden TEFLIN Prof. Dr. H. Joko Nurkamto, MPd dari Universitas Negeri Surakarta.

Associate Prof. Gerrard Marchesseau, Phd, dari Universitas Pendidikan Naruto Jepang dalam pemaparannya mengungkapkan, bila di Jepang tidak ada pembelajaran bahasa Inggris dari kecil. Inilah awal dibentuknya Japanese Exchange and Teaching (JET).

“Di Jepang kenapa tidak dari SD diajarkan bahasa Inggris, ada rasa khawatir kemampuan anak menurun,” katanya.

Namun dari hasil penelitian, lanjut Gerrard, pembelajaran bahasa kedua dalam usia emas (golden age) tidak menganggu bahasa utama. Terkait data hasil tes bahasa Inggris dari Jepang yang tertinggi di Asia, itu kaitan karena syarat TOEFL dab IELTS yang menjadi syarat masuk perguruan tinggi.

“Jadi sejak sekolah menengah Bahasa Inggrisnya dipersiapkan betul,” sambungnya.

Sementara itu, Prof Keith Wood dari University Brunei Darussalam membahas mengenai lesson study. Dimana pembelajaran memperhatikan beragam aspek. Mulai objek pendidikan, tujuan, implementasi dan berbagai hal lainnya. Itulah yang disebut langkah pembelajaran.

“Mengarahkan tujuan pendidikan, menceritakan yang dilakukan pembelajar bukan apa yang dipelajari,” katanya.

“Dari lesson study kita mencari masalah untuk menentukan solusi,” sambungnya.

Keith menambahkan, guru mendesain belajar siswa dari apa yang tidak dipahami, dibuat untuk dipahami. Pembelajaran ini tidak hanya melibatkan satu guru. Setelah melihat perkembangan belajar, nanti akan ada tindaklanjut guru.

“Ada kritik aspek dalam pembelajaran. Melalui berbagai tahap sampai mencapai tujuan dari pembelajaran,” tukasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.