Sudah Lebih dari 100 Hari Tidak Pernah Hujan, Waspada Kekeringan!

89
kali tampilan.
Loading...

LOMBOKita – Pada Bulan September 2020 ini seluruh wilayah di Provinsi NTB secara merata telah memasuki musim kemarau. Bahkan musim kemarau sedang mengalami puncaknya seiring dengan semakin banyaknya wilayah yang sudah tidak pernah merasakan hujan dalam kurun waktu yang cukup panjang.

Suhu dingin yang mulai dirasakan secara konsisten dan meluas di seantero Bumi Gora, mempertegas bahwa cengkraman musim kemarau memang semakin dalam seraya menorehkan dampak yang semakin nyata.

Berita demi berita kekeringan mulai meramaikan beranda media sosial, cetak, maupun elektronik. Lantas sampai saat ini, sudah seberapa parahkah kondisi kekeringan di Provinsi NTB ditinjau dari ketidakhadiran hujan?

Zeinta Tour and Travel - Solusi Ke Baitullah
Zeinta Tour and Travel

Dilansir dari Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis NTB yang dikeluarkan oleh BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat tertanggal 31 Agustus 2020. Kondisi monitoring hari tanpa hujan berturut-turut menjelaskan kepada kita bahwa secara umum kategori hari tanpa hujan berturut-turut di Provinsi NTB berkisar pada kategori Menengah (11 – 20 hari tanpa hujan) yang meliputi 36,4% wilayah, serta kategori Sangat Panjang (31 – 60 hari tanpa hujan) yang meliputi 19,8% wilayah.

Namun dari kondisi yang umum terjadi tersebut, ada beberapa daerah yang sudah berada dalam kategori Kekeringan Ekstrim (Extreme Drought). Dimana daerah yang berada dalam kategori ini termonitor sudah tidak pernah merasakan hujan selama lebih dari 60 hari (2 bulan) berturut-turut. Daerah-daerah tersebut meliputi 22,9% wilayah dan tersebar di beberapa kabupaten seperti di Kabupaten Lombok Timur, Sumbawa, Dompu dan Kabupaten Bima.

Loading...

Secara lebih spesifik, beberapa Kecamatan yang berada pada kategori ini antara lain ; Kecamatan Praya Timur (77 hari tanpa hujan), Jerowaru (85 hari tanpa hujan) dan Kecamatan Sambelia (89 hari tanpa hujan) di Kabupaten Lombok Timur. Menyusul beberapa kecamatan di Kabupaten Sumbawa dengan kondisi kekeringan yang tidak lebih baik, antara lain ; Kecamatan Orong Telu (76 hari tanpa hujan), Kecamatan Plampang (78 hari tanpa hujan), Kecamatan Terano (79 hari tanpa hujan) serta Kecamatan Batulanteh, Moyo Hilir, Rhee, Sumbawa, dan Utan (93 hari tanpa hujan).

Lebih kering dari yang lainnya, Kabupaten Dompu dan Bima menjadi daerah yang termonitor mengalami hari tanpa hujan terpanjang dari seluruh kabupaten di Provinsi NTB, antara lain ; Kecamatan Manggalewa (75 hari tanpa hujan), Madapangga, Soromandi dan Hu’u (78 hari tanpa hujan), Bolo (79 hari tanpa hujan), Kilo (92 hari tanpa hujan), Wawo (96 hari tanpa hujan), serta Kecamatan Pajo Kabupaten Dompu yang sudah tidak pernah hujan selama 103 hari berturut-turut!.

Dipadukan dengan prakiraan peluang turunnya curah hujan di atas 20 mm / 10 hari sampai 20 hari kedepan yang kurang dari 30%, maka daerah dengan kategori Kekeringan Ekstrim ini secara umum menjadi daerah yang berada pada level peringatan dini “AWAS” yang harus sangat diperhatikan perkembangan kekeringan dan kondisi ketersediaan airnya. Karena daerah-daerah ini amat sangat rentan terhadap kekeringan parah. Dimana ketiadaan hujan yang telah sekian lama melanda, membuat neraca air lahan menjadi defisit. Evaporasi (penguapan dari muka air) dan evapotranspirasi (penguapan dari tanah dan tanaman) menjadi faktor utama yang dapat mengurangi kelembaban tanah dan kandungan air tanaman.

Jika dalam kondisi tanpa hujan saja rata-rata ada 5 Liter air yang akan menguap ke udara per meter persegi per harinya, maka berapa Liter air yang akan menguap ke atmosfer dalam 70, 80 atau 100 hari tanpa hujan di dalam 1 wilayah kecamatan atau kabupaten? Tentu sangat banyak air yang telah menguap dan menghilang dari embung, sungai, lahan dan tanaman yang ada di sekitar kita.

Dari beberapa daerah yang berada dalam level peringatan dini “AWAS”, ada pula daerah yang berada dalam level peringatan dini “SIAGA”, yaitu daerah yang tidak pernah mengalami hujan paling sedikit 31 hari berturut-turut (kategori Sangat Panjang). Daerah-daerah ini adalah daerah yang mengalami kondisi kekeringan yang perlu diwaspadai setelah daerah dengan level peringatan “AWAS”. Karena jika dalam 30 hari kedepan hujan tidak kunjung turun, maka kondisi ini akan semakin memburuk menyusul daerah yang berada pada level peringatan dini kekeringan “AWAS”.

Daerah-daerah tersebut meliputi Kecamatan Pekat (Kabupaten Dompu) serta Kecamatan Donggo, Lambitu, Palibelo, Parado, Sape dan Woha (Kabupaten Bima).

Kondisi ini dapat berubah sewaktu-waktu jika hujan kembali turun seperti yang telah terjadi dalam beberapa minggu belakangan ini sebagaimana yang telah terjadi di beberapa wilayah. Namun hujan yang turun secara tidak merata dengan intensitas dan jumlah yang tidak signifikan dalam beberapa hari, tidak akan mampu mengembalikan kandungan air tanah menuju kapasitas lapangnya. Apalagi setelah berpuluh-puluh hingga 100 hari lebih daerah tersebut tidak mendapatkan hujan sama sekali.

Karena itulah masyarakat tetap dihimbau untuk waspada dengan melakukan langkah-langkah preventif guna mengantisipasi munculnya dampak-dampak buruk yang mungkin ditimbulkan dari kejadian kekeringan ini, seperti kekurangan air baku untuk pertanian dan rumah tangga, kebakaran semak, lahan, hutan dan perumahan.

Hendaknya masyarakat juga tetap memperhatikan kesehatan khususnya pernafasan dan menghindari kondisi dehidrasi untuk kelompok usia tertentu.

Ditulis oleh : Anas Baihaqi, Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.