TGB: Doa Mbah Moen Jangan Dijadikan Isu Politik Jelang Pilpres

176
kali tampilan.

LOMBOKita – Ketua Umum Dewan Tanfiziyah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) Pancor, TGB. KH. Muhammad Zainul Majdi memberikan respons atas banyaknya komentar terkait doa yang diucapkan pimpinan Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, KH Maimoen Zoebair atau Mbah Moen beberapa waktu lalu.

Menurut TGB, doa yang diucapkan Kiyai Sepuh tersebut tidak untuk diributkan, dipermainkan, dijadikan puisi dan apalagi dijadikan bahan mengadu sesama umat.

“Doa tidak untuk dipolemikan, tidak untuk dipuisikan, tidak untuk diributkan,” kata TGB usai mengisi diskusi di Media Centre Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Jalan Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (7/2/2019).

Menurut mantan gubernur NTB dua periode itu, sejumlah pihak yang mempertanyakan isi doa Mbah Moen lewat media sosial adalah tidak bijak. Seharusnya, pertanyaan tersebut langsung ditujukan kepada sang pemanjat doa.

Loading...

“Yang mengetahui maksud dari doa itu adalah yang berdoa. Kalau mau tahu maksud doa dari Kiyai Maimun, tanyalah kepada Kiyai Maimun. Jangan kepada siapa-siapa,” ujar TGB Zainul Majdi.

Karena itu, TGB menegaskan bahwa seorang ulama sepatutnya dihormati dan diteladani, bukan untuk dijadikan isu politik menjelang Pemilu 2019 ini. Apalagi dijadikan bahan perpecahan antarsesama umat Islam.

”Sekali lagi, tidak untuk dipolemikan, tidak untuk diributkan, apalagi dijadikan tambahan amunisi untuk memecah kita satu sama lain. Sudah, beliau adalah guru kita, orang sepuh. Siapa saja yang mau tahu maksud doa beliau maka datangilah beliau dengan baik baik. Tanyakan kepada beliau,” kata TGB yang juga menjadi Ketua Dewan Keummatan DPP Partai Golkar itu.

Sebelumnya, Mbah Moen diminta memanjatkan doa dalam acara ‘Sarang Berdzikir untuk Indonesia Maju’ di Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah, Jumat (1/2/2019).

Dalam acara itu, tampak Jokowi beserta Ibu Negara Iriana, duduk di samping Mbah Moen untuk mengaminkan doa yang dibacakan ulama besar Jawa Tengah itu.

Namun dalam video yang viral di media sosial beberapa hari setelah acara tersebut digelar, memperlihatkan Mbah Moen yang berdoa dan menyebutkan nama capres nomor urut 02 Prabowo Subianto.

Kemudian, sejumlah politisi dari partai pendukung Prabowo berkomentar. Termasuk Wakil Ketua Umun Partai Gerindra Fadli Zon. Ia bahkan membuat sebuah puisi berjudul “Doa Yang Ditukar” untuk menyindir seseorang yang dia istilahkan dengan kata “Kau”. Yaitu, dalam satu bait puisinya yang berbunyi, “Doa sakral, seenaknya kau begal, disulam tambal, tak punya moral, agama diobral,” katanya dalam puisi tersebut.

Hingga akhirnya, puisi ciptaan Fadli itu ikut dikomentari oleh Putri Almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Alissa Wahid dan Menteri Agama Lukmanul Hakim. Mereka mempertanyakan kata “Kau” yang dimasukan dalam puisi Fadli itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.