TGB: Negara dan Agama Ibarat Saudara Kembar

382
kali tampilan.
Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi / Humas NTB

LOMBOKita – Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi mendorong para mahasiswa, termasuk mahasiswa yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi Islam untuk aktif dalam proses pembangunan.

Sebab, menurut Gubernur yang kerap disapa Tuan Guru Bajang (TGB) itu, ikhtiar dan dakwah yang dilakukan para mahasiswa Islam adalah bagaimana peran dalam pembangunan pada konteks persaingan global.

“Karena jika ada bagian dari warga negara yang paling bertanggungjawab terhadap masa depan Indonesia, itu adalah umat islam,” ungkap Gubernur saat Kuliah Umum Semester Genap dengan tema Merajut Kebersamaan dalam Keragaman Peran dan Profesi, di UIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat, Kamis (08/02/2018).

Selain itu, TGB mengajak mahasiswa untuk tidak lagi mempertentangkan antara agama dan nasionalisme. Meskipun perdebatan tentang negara bangsa sudah cukup lama terjadi di dunia Ini, yang menyebabkan sebagian umat Islam merasa berat bahkan ada yang tidak mau mengikuti dan mengakui sistem politik yang ada.

“Sebenernya, jika kita kembali ke hazanah yang dijelaskan panjang lebar oleh ulama kita, maka negara dan agama itu seperti saudara kembar,” kata Gubernur NTB penghafal Alqur’an ini.

Memang, kata TGB Zainul Majdi, negara dan bangsa lahir pada pertengahan abad ke 20, kemudian sering menganggap bahwa ada bagian dari negara bangsa itu yang tidak sesuai dengan islam.

Jika masuk ke konteks Indonesia, bagi gubernur, Indonesia adalah negara bangsa yang seluruh persyaratan untuk membangun suatu entitas sosial yang menaungi semua di dalam konsep islam untuk mewujudkan kemaslahatan

”Walaupun bukan negara Islam, tapi Indonesia merupakan negara yang memiliki sistem yang mampu membawa kemaslahatan bagi seluruh masyarakatnya,” jelas gubernur NTB dua periode itu.

Rektor UIN Imam Bonjol Dr. Eka Putra Wirman menyampaikan bahwa maksud menghadirkan TGB ke UIN Imam Bonjol padang adalah untuk membangkitkan rasa percaya diri sebagai akademisi pendidikan berbasis islam. Karena sebagian dari kita merasa minder atau pesimis.

“Dengan hadirnya TGB ini, saya berharap bisa membangkitkan percaya diri kita sebagai akademisi muslim,” harap rektor.