TGB singkatan Tuan Guru Bajang, sapaan akrab TGH. Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Barat. Ia doktor lulusan Al Azhar, Kairo, Mesir, hafiz Al Quran. Ulama sekaligus Umara.

Pada Jumat pagi, 12 Mei pekan lalu ia mendarat di Jogja. Di media saya baca tajuk Safari Dakwah TGB di Jogja dan Jawa Tengah. Ia menjadi khatib Jumat, menjadi imam Shalat Subuh, melakukan Tabligh Akbar, pembicara di kampus, menguji para hafiz, di sela perjalanan acara di beberapa masjid meng-Islamkan warga. Ada tujuh orang mengucapkan Syahadat.

Ia bertemu banyak orang, berebutan pula warga ingin bersalaman, ber-selfie. Ia pun bersilaturahim ke beberapa tokoh, datang ke kediaman Amien Rais, beranjangsana ke Keraton bertemu Hamengkubuwono X, tak terkecuali mampir dan mendoakan usaha makanan dan minuman seperti Lecker. TGB membubuhi tanda tangan pesan. Semua kegiatan itu disebar warga di Sosmed. Sayangnya sosok TGB yang di-sosmed-kan tidak aktif ber-Sosmed. Dulu ia punya akun. Kepada saya tahun lalu, ia bilang sudah lupa password-nya semua.

Menyimak dari jauh, saya merasakan kerinduan akan pemimpin baru di negara ini kian tajam. Dua pekan lalu saya lihat sebuah rekaman video di mana TGB menjadi pembicara seminar ditanya kesiapannya menjadi Capres 2019? TGB menjawab dengan pakem sama, menjadi Gubernur sudah berlebih, waktu 2019 masih lama, fokus dengan pekerjaan saat ini, lagian katanya, saat ini Presiden bukanlah lagi segalanya. Kekuasaan Presiden mulai dibatasi, kita menganut sistem trias politika.

Sendiri kala itu, saya seakan menjawab kalimat TGB. Pertama waktu 2019 tidak lama. Jika memang Capres 2019, berkelilimg Indonesia dalam dua tahun tidak cukup waktu. Kedua jabatan Presiden bukan lagi segalanya, benar, ada DPR, ada DPD, ada MPR, namun Presiden mandataris MPR, ia punya hak prerogatif. Di tangannya haluan bangsa dan negara cermin. Contoh dalam Pilkada DKI Jakarta Presiden Jokowi terindikasi tajam berpihak, maka kebijakannya ke bawah, tajam pula dirasakan. Presiden simbol penentu arah langkah bangsa dan negara termasuk rujukan kebenaran.

Bicara arah kebenaran, ruh dasarnya hati nurani suci, maka kebenaran versi Presiden belumlah tentu kebenaran bagi warga kebanyakan. Dalam situasi demikian kehadiran TGB oase. Oase itu kini kian trendy.

Di jadwal agenda di Jogja dan Jawa Tengah, petang ia meninggalkan Jogja. Saya mengirim pesan perjalanan Dakwah dahsyat dan Selamat kembali ke Mataram. Eh di komunitas #TGB2019 saya temui foto TGB berjas bersorban putih hadir di Milad Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur tadi malam. Di sampingnya tampak duduk KH Ma’ruf Amin. Tak lama kemudian saya mendapatkan video khutbah TGB di Sidogiri. Sebagian besar rombongan ya sudah duluan sampai ke Mataram. TGB ngacir dengan satu staf saja.

Saya dengar akwah TGB dengan takzim. Vokal, orasi TGB kian jernih. Bila saya tak keliru, orasi TGB di Sidogiri inilah saya anggap terbaik dari perjalanan TGB Jumat hingga Minggu tengah malam. Hingga saya menuliskan ini mungkin TGB sudah mendarat di Mataram.

Dari setahun lalu saya melihat figur TGB lebih cook jadi presiden RI 2019. Keyakinan saya kian tajam setelah bertemu kedua kali pada 22 April 2017 di acara Sabtu Subuh 1000 jamaah di BSD, Tangerang. Saya simak langsung bagaimana warga lebih antusias ke TGB dibanding kepada Bapak Jokowi awal 2009 saat saya tulis-tulis dan gadang-gadang juga.

Malahan pagi ini secara sesumbar saya tulis bahwa partai pertama yang mencapreskan TGB menjadi partai beruntung. Mengapa? Ini memang ranah subjektif saya. Akan tetapi kendati subjektif berdasarkan pelihatan dan roso. Saya bisa salah, tapi tentu tak mau konyol. Faktor psikologi massa seakan telah membaiat warga bahwa TGB Presiden 2019. Bukan Wapres.

Bagaimana dengan posisi Prabowo Soebianto ratingnya paling tinggi saat ini? Betul PS paling top of mind. Akan tetapi saya yakin TGB akan Presiden.

Jabatan memang kuasa Illahi. Tapi tanda-tanda alam bisa di cium dan dirasakan. Karena itu bila boleh saran, jika PS ingin sukses pada 2019, ia cukup legowo menjadi Wapres TGB. Bila tidak maka akan ada tiga Capres, pertama PS, kedua Jokowi, ketiga TGB.

Pilihan menjadi sulit Jika TGB berpasangan dengan Jokowi.

Kemungkinan adalah hal paling mungkin di jagad ini.

Jika Jokowi dan TGB, maka Presiden akan PS, karena 2,5 tahun ini sumber masalah membuat rakyat trauma adalah Jokowi dan jaringannya di istana. Dan waktu memulihkan trauma itu habis luka kian menganga di Pilkada DKI, plus Indikasi korup Pemda DKI, kita belum dapat kabar apakah Rp 191 miliar Dana negara hasil audit BPK di kasus Sumber Waras sudah dikembalikan ke negara? Sekadar satu Contoh.

Apa layak saya bicara demikian? Sebagai warga negara bisa sok tahu, apalagi saya bukan pemilik partai. Kini dominan partai di Indonesia “dimiliki” cukong, media mainstream juga dominan milik cukong dan sistem politik seakan tercebur ke dalam oligarki fulus mulus. Mereka memang punya skenario dengan kekuatan kapitalnya di sini.

Saya dalam 2,5 tahun ini pula mara ke mana-mana, mulai ke Gunung Rinjani, shalat Magrib ke kampung Thaprek, pegunungan di Himalaya, Nepal, hingga ke kawasan tertinggi di Islandia. Di Maroko saya bertemu seorang Syeikh. “Hai anak muda, bangga lah jadi Indonesia ribuan hafiz di negerimu…,” kalimat lanjutan Syeikh itu akan saya tulis bila TGB sudah Capres. Untuk hari ini mulai pagi ini ijinkan saya menyapa TGB Syeikh, sebagai mana jaringan Nahdatul Watan menyapanya.****

Komentar Anda