TGB Tanggapi Pembakaran Bendera Bertulis Kalimat Tauhid

179
kali tampilan.
Ketua Umum Dewan Tanfiziyah PB NW Pancor, TGB Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA

LOMBOKita – Ketua Umum Dewan Tanfiziyah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW), Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA menanggapi aksi pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid yang terjadi di Garut oleh oknum anggota Banser berseragam lengkap.

Menurut TGB, dirinya hanyalah seorang muslim yang mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kesatuan dan persatuan NKRI lebih penting dibandingkan sistem khilafah.

Oleh karena itu, TGB menyebut pemerintahan Republik Indonesia tidak kalah dengan sistem khilafah. Apalagi diyakininya jika Islam tidak menetapkan suatu bangsa untuk menjalankan pemerintahan sesuai dengan pemerintahan khilafah.

“Saya muslim yang cinta NKRI. Bangsa ini bagi saya adalah amanah dari Alloh yang wajib dijaga dan dikokohkan. Inilah kesepakatan kita sejak para pendiri bangsa. Karena itu saya tidak mendukung ide khilafah.

Saya meyakini, Islam tidak memerintahkan satu sistem pemerintahan tertentu, namun memberi panduan nilai-nilai mulia yang harus terwujud dalam sistem apa pun,” tulis TGB melalui akun instagramnya, Selasa (23/10/2018) siang.

View this post on Instagram

Saya muslim yang cinta NKRI. . . Negara bangsa ini bagi saya adalah amanah dari ALLOH yang wajib dijaga dan dikokohkan. Inilah kesepakatan kita sejak era para pendiri bangsa. Karena itu saya tidak mendukung ide khilafah. . . Saya meyakini, Islam tidak memerintahkan satu sistem pemerintahan tertentu, namun memberi panduan nilai-nilai mulia yang harus terwujud dalam sistem apapun. Sistem republik demokratis yang kita sepakati dalam NKRI tak kalah valid dan sahnya dibanding sistem khilafah. . . Karena nilai-nilai dasar yang diperjuangkan Islam telah ada, utamanya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, syura dan keadilan. Tinggal bagaimana kita mengimplementasikan nilai-nilai itu dalam kehidupan berbangsa. . . Bagi saya, NKRI adalah maslahat nyata, sedangkan khilafah adalah maslahat prediktif. Kaidah mengatakan, al-maslahah al-mutahaqqiqah an-naajizah muqaddamah 'alal maslahah al-mustaqbalah al-marjuhah. Maslahat nyata, jelas dan telah terwujud, didahulukan diatas maslahat prediktif yang belum terwujud. . . Namun cinta NKRI adalah satu hal, sedangkan membakar bendera yang bertuliskan kalimat tauhid adalah hal lain. Bagi saya, perbuatan itu bisa menimbulkan fitnah antar kita. Kalau tidak setuju, lipat dengan takzim dan serahkan kepada aparat. . . Perilaku tercela menggunakan kalimat tauhid untuk tujuan kekuasaan tidak boleh menyebabkan kita ikut melakukan perbuatan tercela. Segala anarkisme akan menghilangkan keadaban publik kita. Tahan diri, perbanyak silaturahmi. . . Kalimat tauhid adalah persaksian kita di dunia dan akhirat. Padanya ada dua asma termulia. Asma ALLOH yang kepadaNya lah kita akan kembali dan asma RasulNya yang syafaatnya kita harap dan nanti. Muliakan asma-asma itu dengan tidak menjadikannya tameng mencari kekuasaan.

A post shared by Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi (@tuangurubajang) on

“Sistem republik demokratis yang kita sepakati dalam NKRI tak kalah valid dan sahnya dibanding sistem khilafah. Karena nilai-nilai dasar yang diperjuangkan Islam telah ada, utamanya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, syura dan keadilan. Tinggal bagaimana kita mengimplementasikan nilai-nilai itu dalam kehidupan berbangsa,” tegasnya.

NKRI menurutnya adalah adalah maslahat nyata, sedangkan khilafah adalah maslahat prediktif. Dipaparkannya, kaidah mengatakan, ‘al-maslahah al-mutahaqqiqah an-naajizah muqaddamah ‘alal maslahah al-mustaqbalah al-marjuhah’, artinya maslahat nyata, jelas dan telah terwujud, didahulukan diatas maslahat prediktif yang belum terwujud.

Namun cinta NKRI menurutnya adalah satu hal, sedangkan membakar bendera yang bertuliskan kalimat tauhid adalah hal lain.

“Bagi saya, perbuatan itu bisa menimbulkan fitnah antar kita. Kalau tidak setuju, lipat dengan takzim dan serahkan kepada aparat,” imbuh gubernur NTB dua periode itu.

Walau tidak disebutkan siapa kelompok dibalik bendera tauhid, TGB secara langsung menyebut kelompok tersebut memanfaatkan kalimat tauhid untuk tujuan kekuasaan

Sehingga secara langsung TGB mengimbau agar pihaknya tidak melakukan perbuatan tercela. “Perilaku tercela menggunakan kalimat tauhid untuk tujuan kekuasaan tidak boleh menyebabkan kita ikut melakukan perbuatan tercela. Segala anarkisme akan menghilangkan keadaban publik kita. Tahan diri, perbanyak silaturahmi,” jelas alumni Universitas Al Azhar, Kairo itu.

“Kalimat tauhid adalah persaksian kita di dunia dan akhirat. Padanya ada dua asma termulia. Asma Alloh yang kepadaNya lah kita akan kembali dan asma Rasul-Nya yang syafaatnya kita harap dan nanti. Muliakan asma-asma itu dengan tidak menjadikannya tameng mencari kekuasaan,” tambah TGB mengakhiri postingan.

Postingan mantan gubernur penghafal Alqur’an tersebut telah disukai lebih dari 39 ribu pengguna instagram dengan mendapat komentar lebih dari tiga ribu komentar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.