TMMD Berakhir, Dandim Loteng Diberi Gelar Yude Negare Gumi Sasak

Upacara bendera penutupan kegiatan TMMD 2017 di Lombok Tengah

LOMBOKita – Pelaksanaan kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-99 tahun 2017 di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat telah berakhir.

Acara penutupan kegiatan dilaksanakan melalui upacara bendera di Lapangan Umum Desa Pengenjek Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah. Bertindak selaku inspektur upacara Danlanud Rembiga, Kolonel Pnb Dody Fernando dan sebagai komandan upacara Danramil 1620-06/Jonggat Kapten Inf. Abdul Razak, Rabu (2/8/2017).

Hadir dalam upacara tersebut, Danlanud Rembiga, Danrem 162/Wira Bhakti diwakili Dandim 1620/Loteng, Asisten III Sekda Loteng, Dandim 1606/Lobar, Dandim 1615/Lotim, Dadenpom Mataram, Wakapolres Loteng, Ketua Pengadilan Negeri Praya, Kepala Kejaksaan Negeri Praya, Para Kasi Korem, Para Dan/Ka Disjan Korem 162/WB, SKPD Loteng, Kepala BUMN/BPMD Loteng, Camat Jonggat dan Kades se Kecamatan Jonggat, kalangan pelajar, Pramuka, Toga, Toma dan Todat Desa Pengenjek serta undangan lainnya mencapai 1200 orang.

Usai pembacaan hasil pelaksanaan kegiatan TMMD ke-99 yang dilaksanakan selama sebulan penuh itu, Dansatgas kemudian melanjutkan dengan penandatanganan naskah serah terima.

Inspektur upacara yang membacakan amanat Kasad menjelaskan, TMMD merupakan wujud kemanunggalan TNI Rakyat dalam membantu pemerintah daerah dalam mempercepat pembangunan.

Program TMMD ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama di wilayah pelosok-pelosok pedesaan

Kegiatan TMMD ke-99 tahun 2017 di wilayah Kabupaten Lombok Tengah, katanya, dikerjakan sasaran fisik berupa infrastruktur berupa pembangunan jalan baru, peningkatan badan jalan, pembuatan talud dan gorong-gorong, pembangunan MCK, Poskamling dan pembangunan tembok kuburan yang telah tercapai seratus persen. Disamping itu juga dilaksanakan sasaran non fisik berupa penyuluhan kepada masyarakat.

Kolonel Pnb Dody Fernando juga mengatakan, kegiatan TMMD merupakan salah satu upaya TNI AD dalam memperkuat ketahanan masyarakat sebagai potensi kekuatan wilayah, utamanya upaya cegah dini dan deteksi dini terhadap berbagai ancaman yang melemahkan persatuan dan kesatuan NKRI.

“Kami mohon maaf apabila selama kegiatan TMMD terdapat tutur kata dan tingkah laku para prajurit yang tidak berkenan di hati masyarakat, baik disengaja maupun tidak disengaja,” pinta Kolonel Pnb Dody Fernando pada upacara yang dimulai sekira pukul 09.00 Wita itu.

Kolonel Pnb Dody Fernando berpesan kepada seluruh masyarakat yang hadir saat itu untuk terus memelihara semangat kebersamaan dan Kemanunggalan antara TNI-Rakyat, jangan mudah terhasut dan terprovokasi oleh pihak manapun yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

“Pelihara terus semangat gotong royong sebagai warisan budaya bangsa yang sudah terbina dengan baik selama ini. Pelihara hasil program TMMD agar manfaatnya dapat dinikmati oleh masyarakat,” pesannya.

Berita terkait: 

Pelaksanaan TMMD di Lombok Tengah Rampung

Lomba “Gendang Beleq” Warnai TMMD di Lombok Tengah

Usai upacara, Komandan Kodim 1620/Lombok Tengah Letkol Inf. Is Abul Rasyi, SE menerima penghargaan berupa pemberian gelar sebagai Pemangku Adat Sasak dengan gelar Yude Negare Gumi Sasak.

Gelar ini diberikan langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah, H. Lalu Moh Putria atau yang kerap disebut Datu Siledendeng.

Menurut Lalu Putria, Dandim Lombok Tengah layak mendapat gelar sebagai Pemangku Adat Sasak Yude Negare Gumi Sasak karena dianggap peduli terhadap keamanan serta mempertahankan dan melestarikan budaya adat Sasak selama bertugas di Lombok Tengah. Termasuk dengan menyelenggarakan even-even budaya selama kegiatan TMMD ke-99 tahun 2017 ini.

Diketahui, pada kegiatan TMMD ke-99 ini, Kodim Lombok Tengah menyelenggarakan beragam kegiatan sosial seperti pengobatan gratis, pelayanan KB, Bazar pasar murah, dan pembagian Sembako kepada warga tidak mampu.

“Dan upaya pelestarian budaya yang dilakukan pada kegiatan TMMD tahun ini dengan menyelenggarakan festival Gendang Beleq, salah satu alat kesenian budaya di Lombok Tengah,” tandas H. Lalu Putria.

Komentar Anda