“Saya anak Indonesia, Saya Gembira” menjadi slogan yang begitu manis menjelang Hari Anak Nasional 2017.

Namun di balik itu sebuah “pekerjaan rumah” yang besar masih menunggu untuk mengantarkan mereka, anak-anak Indonesia, bisa bergembira dalam arti yang sesungguhnya.

Indonesia tercatat masih berada di jajaran negara dengan anak berstatus gizi buruk, kendati sudah ada perbaikan gizi balita di Tanah Air yang ditandai dengan penurunan “stunting” (balita yang menderita tubuh pendek) dari 37,2 persen menjadi 29 persen.

Menteri Kesehatan Nila F. Moelek mengakui sempai awal tahun ini gizi balita disini masih berada di bawah standar yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia/World Heatlh Organization (WHO) yakni di bawah 10 persen.

Bahkan dalam Indikator Kesejahteraan Rakyat 2016 juga ditemukan bahwa presentase anak dengan status gizi buruk terlihat meningkat, dari 4,9 persen di 2010 menjadi 5,7 persen pada 2013. Begitu juga dengan gizi kurang yang meningkat dari 13 persen menjadi 13,9 persen dalam periode waktu yang sama.

Angka-angka itu menjadi cermin masih begitu diperlukannya suatu program dukungan gizi untuk anak sekaligus melindungi mereka dari informasi tentang makanan yang tidak sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.

Presiden Joko Widodo saat mendapati fakta itu pada awal tahun ini juga sudah memberikan peringatan tegas kepada Kementerian Kesehatan untuk bisa menyelesaikan masalah yang disebutnya memalukan ini.

“Saya enggak bisa menerima hal-hal ini ada di negara kita,” kata Jokowi saat menghadiri Rapat Kerja Kesehatan Nasional 2017 di Jakarta, Februari 2017.

Perintah Presiden itu didasarkan pada keinginannya untuk membuat generasi masa depan dapat menghadapi Indonesia Emas 2045.

Keinginan yang kemudian ditegaskannya kembali dalam tema Hari Anak Nasional (HAN) tahun ini, Saya anak Indonesia, Saya Gembira.

Menghidupkan kembali Sisa rezim lama sejatinya tak seluruhnya buruk, Orde Baru misalnya pernah meninggalkan catatan yang begitu baik dalam hal kampanye pola hidup sehat seimbang empat sehat lima sempurna.

Cara-cara itulah yang dapat menjadi peluang untuk memperbaiki struktur gizi anak-anak di Tanah Air. Hal itu pula yang mulai disadari oleh Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani yang menyatakan ingin mengembalikan pola hidup ’empat sehat lima sempurna’ seperti dulu disosialisasikan kepada masyarakat.

Ini diakuinya semata demi membangkitkan gaya hidup sehat di kalangan masyarakat khususnya dalam kaitannya untuk mendukung pemenuhan gizi anak Indonesia sekaligus menjaga mereka dari informasi dan paparan makanan yang tidak cocok.

Puan mengingatkan diagram makanan empat sehat lima sempurna yang sering dilihat siswa SD era terdahulu yang mudah dipahami masyarakat.

“Saya ingin menggugah, menyampaikan, nanti kalau sudah diresmikan, minta gotong royong seluruh pengurus BKKBN, seluruh petugas PKK, gubernur, bupati, walikota, kita kembalikan lagi perilaku hidup sehat empat sehat lima sempurna,” kata Puan.

Ia mengingatkan masyarakat untuk juga berolahraga dan tidur yang cukup demi menjaga tubuh tetap sehat, terutama bagi anak-anak yang akan menjadi generasi penerus.

Maka apa yang dilakukan pemerintah sejatinya tidak lain untuk mendatangkan kebahagiaan hakiki anak-anak Indonesia sebab adalah hak bagi setiap anak yang terlahir untuk bergembira.

Kegembiraan itu bisa hadir jika mereka sehat, tidak lain jika pemenuhan gizi itu mendukung tumbuh kembang mereka menjadi insan yang sehat.

Informasi keliru Hari Anak Nasional kemudian diharapkan bukan sekadar seremoni sebaliknya juga bentuk dedikasi bagi generasi kecil Indonesia yang kelak akan menjadi penerus bangsa ini.

Maka tahun in, peringatan itu dilakukan dengan klaim sebagai bentuk kepedulian Pemerintah terhadap perlindungan anak Indonesia agar bisa tumbuh menjadi generasi penerus secara optimal termasuk dalam hal dukungan gizi dan paparan informasi yang baik bagi mereka.

Menteri PPPA Yohana Yembise pun mengatakan tingkah laku anak pada masa depan, tentunya dipengaruhi oleh perilaku para orang tua dan lingkungan terdekat termasuk pola hidup dan pola makan mereka.

“Baik dan buruknya keluarga, akan menjadi cerminan bagi masa depan anak,” ujar Yohana.

Oleh karena itu, kemudian wajar jika ia ingin agar tak ada lagi informasi yang keliru terutama dalam upaya pemenuhan gizi pada anak. Sebab kerap kali anak-anak dengan mudah terpapar informasi dan makanan yang tidak cocok untuk mereka.

Tokoh pemerhati anak Seto Mulyadi pun sepakat bahwa agar anak Indonesia gembira, maka mereka harus sehat, cukup gizi, dan terjaga dari informasi keliru soal makanan sehat.

Pria yang akrab disapa Kak Seto itu sepakat anak-anak Indonesia berhak untuk sehat dan gembira tidak sekadar pada jargon atau tema dalam sebuah perayaan.

Sebab, kegembiraan yang hakiki hanya dapat dihadirkan manakala tubuh anak-anak sehat karena terpenuhinya kebutuhan gizi mereka.

Komentar Anda