Wajah Pendidikan Karakter

79
kali tampilan.
Andi Hasliyati Ike Safitri (Koordinator Pemberdayaan Perempuan Pemuda Ulul Albab)

Istilah karakter dihubungkan dan di tukarkan dari istilah etika, akhlak, dan berkaitan erat dengan nilai moral. Sedangkan karakter menurut KBBI (2008) merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlaq atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lainnya. Pendidikan karakter merupakan sebuah kegiatan manusia yang didalamnya terdapat suatu tindakan atau usaha mendidik yang diperuntukkan kepada genersi berikutnya dengan tujuan untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemapuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik.

Dewasa ini masalah utama dari dunia pendidikan adalah dapat dideteksi dengan mudah dari rendahnya nilai moral dan karakter generasi bangsa. Tingkat pendidikan karakter dan moral yang rendah telah memberi sejarah buruk dimata bangsa, dimana hari demi hari hanya memberikan kesan buruk yang dihadapi oleh remaja terutama dikalangan pelajar yang hari ini menunjukkan adanya nilai-nilai yang belum sampai dengan tepat kepada pemahaman dan aplikasi dalam dunia remaja.

Disadari atau tidak bahwa dengan adanya perkembangan globalisasi hari ini telah merasuki pemikiran dan gaya hidup generasi bangsa. Kita tidak bisa menutup mata jika suatu gaya hidup dan pemahaman telah mentah-mentah diadopsi oleh kalangan remaja kita dari sebuah pemahaman dan gaya hidup barat yang secara jelas memusnahkan nilai moral dan karakter itu sendiri. Dimana wajah-wajah kehancuran generasi yang kian hari kian bermunculan dengan berbagai penyimpangan-penyimpangan dalam dunia remaja, ini ditandai dengan adanya pergaulan bebas, maraknya seks bebas, narkotika, bentrokan antar almamater yang tidak lagi menghiraukan status mereka sebagai pelajar yang mana suatu masa akan memegang tonggak peradaban dan menjadi generasi penerus bangsa. Yangmana seharusnya dengan adanya perkembangan globalisasi sudah semestinya kita perlu memilah dan mengambil hal-hal yang dapat memberi manfaat bagi pibadi-pribadi dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas diri generasi. Hal mendasar dari globalisasi adalah memanfaatkannya dalam hal kebaikan, yang tentunya akan melahirkan sebuah kebaikan bukan malah sebaliknya menciptakan kerusakan.

Secara keseluruhan penyimpangan-penyimpangan ini telah mencoreng berbagai upaya dan usaha yang senantiasa di tingkatkan oleh dunia pendidikan, Sebab dengan bagaimananpun sejarah didalam dunia pendidikan yang kian lama tetap memberikan perubahan dan perkembangan yang sangat mereprentasikan adanya upaya dan usaha peningkatan mutu kependidikan yang kian meningkat pula. Namun suatu hal yang tidak bisa disembunyikan lagi akan adanya perkembangan dan perubahan yang dialami dunia pendidikan tetap meninggalkan berbagai problema yang belum terselesaikan terutama adalah dalam hal pendidikan moral dan karakter.

Berbagai kegagagalan ditunjukkan kepada kinerja dunia kependidikan yang padahal segala sesuatu (akibat) tidak sertamerta terikat hanya oleh sebuah (sebab), contoh halnya dengan kegagalan dalam dunia pendidikan karakter dan moral ini, sudah seharusnya wajah-wajah yang menunjang keberhasilannya suatu pendidikan moral dan karakter juga ikut berperan dan perupaya sesuai tanggungjawab masing-masing. Sebabnya masalah dalam dunia kependidikan tidak hanya menjadi tanggungjawab dari pihak penyelenggara saja, akan tetapi menjadi tangungjawab bersama dari pribadi pelajar dan semua elemen pendukung lainnya, dimana peran aktif dari keluarga sangatlah menentukan tingkat keberhasilan pendidikan moral dan karakter itu sendiri.

Peningkatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education) dalam konteks sekarang sangat relevan dalam mengatasi permasalahan yang tengah dihadapi oleh dunia pendidikan yang mengalami krisis moral atau degradasi moral dalam sejarah generasi bangsa hari ini. Merujuk kepada konsep ta’dib (adab), Prof Muhammad Naquib Al-Attas. Menurutnya, sejak periode awal dalam Islam, konsep adab sudah terlibat dalam sunnah Nabi dan melebur bersama konsep ilmu dan amal. Lebih lanjut, Al-Attas mengatakan para muslim salaf diberitahukan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwassalam adalah perwujudan dari keutamaan akhlak sehingga beliau telah dan akan terus menjadi contoh yang terbaik. Sebagaimana tersabda oleh Nabi “…Dan tidaklah aku (Muhammad) diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak”. Dan dikuatkan lagi dengan firman Allah di dalam Al-Qur’an (QS. Al-Ahzab[33]: 21). Dengan demikian, telah jelas bahwa kaum muslim terdahulu sudah sangat memperhatikan pendidikan karakter. Karena dalam Islam telah mengatur akan pentingnya pendidikan moral dan karakter, maka sebagai sebuah cermin bagi pendidikan hari ini, sudah menjadi keharusannya pendidikan moral dan karakter dituangkan dan diupayakan dengan sebaik-baiknya sebagai sebuah sistem yang sangat penting dalam dunia pendidikan.

Oleh sebab itu, hal tersebut dapat dilakukan dengan memunculkan peran dan tangungjawab dari semua wajah-wajah berbagai pihak. Hal yang paling mendasar adalah dimulai dari pendidikan karakter dalam lingkungan keluarga, karena dalam Islam sebuah pendidikan anak adalah dimulai sejak dari dalam lingkungan keluarga. Sebagaimana disabdakan oleh Rosulullah “Semua anak terlahir dalam keadaan fitrah, orangtuanyalah yang membawanya menjadi yahudi, nasrani dan majusi…. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Huroiroh). Dan selanjutkan adalah dalam lingkungan bermain dan lingkungan sekolah. Sebuah lingkungan bermain tidak selamanya akan mengarahkan seorang anak atau remaja kepada lembah kehancuran, jika sebuah pemahaman mendasar telah lebih awal ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Dengan kata lain bahwa orangtua harus lebih awal menanamkan konsep yang secara mendasar sebagai bekal seorang anak ketika menjadi bagian dari lingkungan bermainnya. Contoh kasusnya adalah pendidikan moral dan karakter, dimana kelak seorang anak atau remaja akan menjadi pewarna atau akan diwarnai oleh lingkungan bermainnya, itu dapat ditentukan oleh bagaimana peran pendidikan moral dan karakter didalam lingkungan keluarganya. Kemudian langkah berikutnya akan diperkuat oleh penanaman konsep pendidikan moral dan karakter yang lebih serius, tepat, dan mengena terhadap nilai moral dan karakter dari lingkungan sekolahnya, yang tertuang dalam sistem pendidikan moral dan karakter yang terorganisir secara baik.

Sebagai sebuah landasan dasar penulis mengatakan bahwa penanaman pendidikan moral dan karakter ini sangat penting dijadikan sebagai sebuah sistem pendidikan, sebabnya ini merupakan pendidikan yang paling mendasar, sebagaimana dengan jelasnya seorang Rosulullah mengaku bahwa ketika memperkenalkan dirinya adalah dengan mengatakan hadir untuk menyempurnakan akhlak/karakter dan moral ummat nya. Artinya nilai moral dan karakter menduduki posisi yang sangat urgen didalam sebuah kebutuhan sosial kehidupan, dengan tujuan yang tidak lain akan mampu menggembleng dan mengarahkan setiap pemahaman dan gaya hidup generasi remaja hari ini kearah yang lebih baik lagi, yang tidak hanya mahir menjiplak dan mengkonsumsi segala penawaran pemahaman dan gaya hidup barat dan ini tentunya akan memberikan kabar baik bagi kemajuan dunia pendidikan dengan melahirkan generasi penerus yang berjiwa progresif dan terarah. Terakhir dari penulis ucapkan, selamat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2018, salam perubahan untuk pendidikan yang lebih berkualitas, bermoral, dan religius !!!

 

Penulis: Andi Hasliyati Ike Safitri

Koordinator Pemberdayaan Perempuan Pemuda Ulul Albab