Warga Lombok Tengah Memperingati Gempa Bumi Sumba

Ilustrasi catatan gempa

LOMBOKita – Forum Tangguh Bencana Desa Kuta Kabupaten Lombok Tengah bekerjasama dengan Pusat Kajian Pengelolaan Risiko Bencana Fakultas Teknik Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, memperingati 40 tahun gempa bumi disertai tsunami di Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan bertemakan “Kita ingat, kita waspada, kita siap” tersebut digelar di kantor Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Sabtu.

Dalam acara tersebut, panitia penyelenggara menghadirkan dua pembicara, yakni Eko Pradjoko ST, M.Eng, Ph.D, dari Pusat Kajian Pengelolaan Risiko Bencana Fakultas Teknik Unram, dan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Mataram Agus Riyanto.

Dalam pemaparannya, Eko Pradjoko menyampaikan peristiwa gempa bumi tsunami Sumba pada 19 Agustus 1977, meliputi waktu kejadian, daerah yang terdampak, hingga hasil wawancara dengan masyarakat di daerah Kuta, Kabupaten Lombok Tengah dan sekitarnya.

“Ada tiga desa pesisir yg terdampak saat itu, yakni Desa Kuta, Desa Awang di Kabupaten Lombok Tengah, dan Desa Lunyuk di Kabupaten Sumbawa dengan ketinggian tsunami hingga 15 meter,” katanya.

Ia juga menggambarkan hasil pemodelan gelombang tsunami Sumba dari sumber gempa hingga sampai ke pesisir pantai Kuta.

Dari pengalaman tersebut, Eko mengajak masyarakat Desa Kuta untuk selalu tanggap bencana, terutama ketika terjadi gempa kuat yang berpusat di perairan laut.

Pusat Kajian Pengelolaan Risiko Bencana Fakultas Teknik Unram sudah melakukan simulasi bencana tsunami pada 2015. Tujuannya adalah agar masyarakat Desa Kuta tanggap terhadap bencana alam, terutama gempa bumi berpotensi tsunami.

“Dari hasil simulasi tersebut, saya berharap masyarakat Desa Kuta bisa waspada dan siap dalam menghadapi bencana termasuk gempa bumi berpotensi tsunami,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Mataram Agus Riyanto, mengatakan potensi gempa bumi di wilayah NTB, khususnya di Pulau Lombok, berasal dari dua sumber utama pembangkit gempa bumi, yaitu patahan naik busur belakang Flores (Flores back arc thrust) di utara, dan zona subduksi di selatan.

Untuk itu, BMKG juga mengambil peran dalam mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami, di antaranya dengan membangun Sistem Peringatan Dini Tsunami. Mulai dari pengamatan, pencatatan hingga pengiriman informasi gempa bumi dengan moda komunikasi yang ada.

Hasil dari tindakan tersebut dijadikan sebagai referensi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengeluarkan perintah evakuasi.

“Jadi peran serta pemerintah dan masyarakat dalam menanggulangi bencana gempa bumi dan tsunami sangat diperlukan demi terwujudnya masyarakat yang tangguh bencana. Dengan begitu bisa mengurangi korban jiwa dan harta benda,” katanya.

Peringatan 40 tahun gempa tsunami Sumba, juga dihadiri Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lombok Tengah, pejabat dari PT Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) dan anggota Forum Tangguh Bencana Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. ant