Warga Pujut Gelar Aksi 212 Tolak Karnaval Bau Nyale di Praya

1412
kali tampilan.
Puluhan perwakilan masyarakat Kecamatan Pujut saat mendatangi gedung DPRD Kabupaten Lombok Tengah untuk dengar pendapat menolak pelakanaan Karnaval Bau Nyale di Kota Praya

LOMBOKita – Puluhan perwakilan masyarakat Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah memprotes pemerintah daerah yang berencana melakukan karnaval Bau Nyale di Kota Praya.

Aksi protes masyarakat Pujut yang dilabeli “Aksi 212” digelar di Kantor DPRD Kabupaten Lombok Tengah, Kamis (12/2/2019).

Aksi protes dan penolakan tersebut dipimpin para tokoh adat tetua di wilayah selatan daerah Tatas Tuhu Trasna (Tastura) itu, atau wilayah tempat pelaksanaan core event Bau Nyale.

Ketua Krame Adat Kecamatan Pujut Lalu Saladin mengungkapkan, ritual Bau Nyale yang sejak lama dilaksanakan di Kecamatan Pujut, semestinya seluruh rangkaian acaranya juga dilaksanakan di wilayah Pujut.

Loading...

Terlebih lagi, katanya, pesisir pantai yang berada di Kecamatan Pujut merupakan salah satu obyek wisata andalan tujuan kunjungan wisatawan.

“Bukan berarti kami menafikan keberadaan beberapa destinasi lainnya di Lombok Tengah. Cuma Bau Nyale itu memang dari dulu seakan telah memiliki hak paten masyarakat Pujut,” tegas Lalu Saladin pada dengar pendapat yang diterima anggota dewan Suhaimi dan H. Lalu Arabiah yang didampingi Camat Pujut Lalu Sungkul.

Lalu Saladin pada kesempatan itu bahkan merasa khawatir pemerintah daerah dengan sengaja melakukan upaya menjauhkan masyarakat dengan akar budaya yang selama ini dilaksanakan masyarakat.

“Saat ini berkembang di masyarakat Pujut ungkapan ‘Kenapa ndak laut juga sekalian dipindah ke Kota Praya. Bau Nyale juga di Praya sekalian,” tukas Lalu Saladin.

Karena itu, ungkap Lalu Saladin, perayaan pesona Bau Nyale yang kini telah menjadi top even kalender nasional melalui Kementerian Pariwisata RI, hendaknya dapat memberi manfaat bagi masyarakat, tapi merubah adat budaya yang ditinggalkan para leluhur. Lebih-lebih lagi jika dikaitkan dengan pariwisata yang 60 persennya ditopang dengan keberadaan adat dan budaya masyarakat setempat.

“Kami masyarakat Pujut berharap agar segala proses dan tahapan pelaksanaan pesona Bau Nyale ini seluruhnya terkonsentrasi di wilayah kecamatan Pujut, terutama acara karnaval budaya dan Bau Nyale. Kalau acara-acara pendukung lainnya seperti lomba masak ikan, presean, pemilihan putri mandalika dan lain-lain itu silakan saja mau diadakan dimana saja, kami tidak keberatan,” pungkas Lalu Saladin disambut tepuk tangan warga yang hadir saat itu.

“Seperti pemilihan Putri Mandalika itu, apa untungnya buat masyarakat Pujut, apa pentingnya dengan kelangsungan acara adat Bau Nyale, apa hajatannya diadakan. Jangan-jangan hanya upaya eksploitasi dan tujuan proyek saja. Putri-putri itu mengerti tentang pakem adat itu gak?,” imbuh Lalu Saladin.

Selama ini, katanya, masyarakat di wilayah kecamatan Pujut hanya mendapatkan sampah dan limbah setelah acara Bau Nyale dilaksanakan. Usai acara, kawasan pantai Kuta, pantai Seger dan sekitarnya seketika sepi, yang ada hanya tumpukan sampah yang berserakan dimana-mana.

Oleh sebab itu, Lalu Saladin meminta pemerintah daerah terutama yang masuk dalam kepanitiaan core event Bau Nyale itu agar melibatkan masyarakat dalam upaya pengembangan adat tersebut. Dengan demikian, tidak ada muncul penafsiran-penafsiran bahwa acara Bau Nyale yang dilaksanakan itu adalah “Nyale Pemerintah”. Sebabnya, karena masyarakat adat sendiri tidak dilibatkan dalam prosesi dan atraksi-atraksi budaya yang diadakan.

Tokoh adat lainnya, Sapta mulia juga angkat bicara. menurutnya, apapun kegiatan dan rangkaian acara Bau Nyale harus terfokus di lokasi budaya itu sendiri.

“Ambil contoh saja, perang topat di Pura Lingsar Lombok Barat. Jangan coba-coba mau pindahkan ke pura lain meski lebih megah. Pun juga dengan Perang Timbung di Makam Serewe Pejanggik, jangan coba-coba berani pindahkan ke lokasi lain. Pasti akan menimbulkan pertentangan. Bau Nyale juga demikian, jangan alihkan rangkaian acaranya ke tempat lain, kami juga bisa protes,” katanya.

Sejak tahun lalu, kata Sapta Mulia, karnaval Pesona Budaya Bau Nyale dilaksanakan di Kota Praya. Pemerintah daerah selalu punya alasan agar tetap dilaksanakan di Praya, tanpa peduli keluhan masyarakat Pujut selaku pemilik acara adat Bau Nyale.

“Lain waktu lain alasan. Tahun dulu alasannya karena proyek ITDC sedang berjalan, alasan lainnya juga karena hujan, alasan becek dan sebagainya. Tahun ini juga alasannya mobilisasi peserta karnaval. Jangan-jangan memang ada upaya untuk menggeser nilai-nilai budaya Bau Nyale,” katanya.

Sapta Mulia khawatir, jika terus-terusan dilaksanakan di Kota Praya, maka daerah lain pun akan melaksanakan karnaval Bau Nyale.

Sementara itu, Camat Pujut Lalu Sungkul menjelaskan, setiap tahun perdebatan masalah lokasi parade budaya dan karnaval Bau Nyale selalu terjadi. Padahal, parade itu merupakan sarana promosi budaya dan pariwisata Lombok Tengah.

“Karnaval itu bisa dilakukan dimana saja, di Jakarta bahkan di Jerman pun bisa. Karena itu bagian dari upaya promosi pariwisata kita,” ucap Lalu Sungkul.

Tahun ini karnaval budaya Bau Nyale dilaksanakan di Kota Praya karena itu permintaan dari 11 Camat di Lombok Tengah yang ikut dalam rapat koordinasi pelaksanaan Bau Nyale beberpa waktu lalu.

Selain itu, kata Sungkul, alasan dilaksanakan di Kota Praya hanya untuk memudahkan mobilitas peserta karnaval. Sebab, pesertanya juga ada dari beberapa kabupaten di NTB.

“Tidak ada keinginan dari masyarakat Praya untuk mengambil dan memiliki budaya Bau Nyale itu,” ujar Lalu Sungkul.

Parade Budaya dan Fashion Show Pesona Bau Nyale tahun 2019 akan dilaksanakan pada Hari Sabtu tanggal 23 Februari di Kota Praya. Acara parade budaya ini akan diikuti seluruh ASN, kalangan pelajar, utusan dari 12 kecamatan di Lombok Tengah. Tujuannya untuk membangun kreatifitas masyarakat, sehingga akan dikemas lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.