Warga Sade Penuhi Pantai Kuta Ritual “Marek Madak”

250
kali tampilan.
Tenda-tenda warga Sade di sepanjang Pantai Kuta untuk ritual Marek Madak

LOMBOKita – Masyarakat Sade Desa Rembitan Kecamatan Pujut masih mempertahankan ritual budaya yang dilakukan secara turun temurun berupa “Marek Madak” di Pantai Kuta Lombok Tengah.

Ritual turun-temurun itu tetap dipertahankan oleh masyarakat Sade di tengah arus globalisasi yang semakin modern

Para warga yang mendirikan tenda menggunakan terpal di sepanjang pantai Kuta mengaku tidak terhalangi melakukan ritual adat tersebut meski pemerintah sedang melakukan penataan di kawasan pantai Kuta.

“Tidak bisa yang menghalangi kami melakukan ritual adat ini. Karena ini merupakan tradisi yang telah diwariskan oleh nenek moyang kami,” ucap Inaq Saenah ditemui Lombokita.com di tenda yang terbuat dari terpal di pantai Kuta, Kamis (7/8/2017).

Tradisi “Marek Madak” ini, katanya, dilakukan bukan semata-mata untuk mencari ikan di laut kemudian dimakan secara bersama-sama. Tetapi lebih dari itu, “Marek Madak” ini sebagai ajang silaturrahmi dan simbol rasa persaudaraan masyarakat Sade seperti yang telah ditinggalkan para leluhur.

“Kalau sekadar buat makan, kami bisa beli di pasar kemudian masak sendiri di rumah, tetapi ini menyangkut adat dan kearifan lokal yang filosofinya untuk mempererat rasa persaudaraan,” kata Inaq Saenah sambil mengunyah “pamak” (mengunyah pinang dan kapur yang juga tradisi masyarakat Suku Sasak).

Sebelum turun menangkap ikan atau Madak, masyarakat Sade terlebih dahulu melakukan ritual tabur beras yang telah diseong (menggoreng tanpa minyak), kemudian dilemparkan ke laut dengan hajat untuk mendapat keberkahan. Setelah itu barulah para warga turun ke laut untuk menangkap ikan saat air laut surut.

Yang lebih unik lagi, para warga ini meski mendirikan tenda penginapan di pinggir pantai, mereka tidur tanpa alas maupun bantal. “Kami tidur beralaskan pasir pantai, bantal juga kami tumpuk-tumpuk pasir ini seukuran bantal. Itulah cara kami diajarkan oleh orang tua kami terdahulu,” tambah Inaq Saenah.

Apakah tidak bisa dipindahkan lokasi ritual Marek Madak ini?, Inaq Saenah bersama beberapa warga lainnya mengatakan tidak bisa. Sebab, dulu nenek moyang mereka melakukan ritual yang sama di pantai Kuta.

Masyarakat Sade melakukan ritual Marek Madak ini setiap tahun pada bulan keempat dan kelima penanggalan Sasak, tahun ini jatuhnya pada bulan September dan Oktober. Ritual Marek Madak ini dilakukan selama tiga hari, setelah itu mereka akan pulang kembali tanpa membawa ikan hasil tangkapan laut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here