Para Mangku Adat Sepakat Bau Nyale Dilaksanakan 16-17 Februari

Wisata
Typography

LOMBOKita – Core event Bau Nyale yang dilaksanakan setiap tahun di Pantai Seger Desa Kuta Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat akhirnya disepakati dilaksanakan pada tanggal 16-17 Februari 2017 mendatang.

Penentuan hari puncak pelaksanaan ritual adat Sasak ini berdasarkan hasil rapat para pemangku adat Sasak di Lombok Tengah yang melibatkan para pemangku empat penjuru mata angin (barat, timur, utara dan selatan) yang dilaksanakan di puncak Bukit Seger Kecamatan Pujut, Kamis (05/01/2017).

Rapat penentuan hari Bau Nyale yang disebut juga Sangkep Warige Pemangkut Adat dari empat penjuru mata angin ini dipimpin langsung Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah Haji Lalu Putria bersama sejumlah pejabat dari Dinas Budpar Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Sangkep Warige Mangku Adat Sasak ini diawali pembacaan tembang dari masing-masing mangku empat penjuru mata angin, yang dilanjutkan dengan penaburan bunga rampai kemudian pemaparan hasil penerawangan dan bacaan-bacaan tanda alam dari masing-masing pemangku adat.

Setelah berdebat cukup lama, yang kemudian dicocokkan dengan kalender penanggalan adat Sasak, akhirnya tanggal 10 bulan 10 kalender Sasak diputuskan jatuh pada hari Kamis-Jumat tanggal 16-17 Februari 2017 yang akan datang di Pantai Seger Desa Kuta Kecamatan Pujut.

“Seperti tradisi yang sejak dulu kita laksanakan dan diwariskan oleh para leluhur kita, bahwa pesta Bau Nyale dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 10 bulan 10 kalender Sasak. Alhamdulillah kita sudah tetapkan berdasarkan kesepakatan para pemangku adat,” kata H. Lalu Putria kepada sejumlah wartawan usai musyawarah bersama para pemangku adat.

Berita terkait baca : Pemangku Adat Gelar Sangkep Warige Penentuan Bau Nyale 2017

Menurut Putria, hasil Sangkep Warige para pemangku adat ini kemudian akan disampaikan kepada Bupati Lombok Tengah HM Suhaili FT dan Wakil Bupati Lalu Pathul Bahri agar segera dibentuk panitia penyelenggara sekaligus menyusun rangkaian kegiatan yang biasa dilakukan setiap tahun.

“Hari ini juga kita akan buatkan laporan hasil musyawarah sebagai rekomendasi para pemangku adat kepada pemerintah daerah untuk segera mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan ritual adat Bau Nyale,” katanya.

Pelaksanaan agenda tahunan yang telah masuk dalam kalender nasional ini, sebut Lalu Putria, merupakan gawe masyarakat Sasak untuk melaksanakan ritual mengenang kembali kisah Putri Mandalika yang menceburkan diri ke laut karena direbut oleh beberapa orang pemuda saat itu.

Tindakan Putri Mandalika tersebut, kata Lalu Putria, sangat adil karena jelmaannya justru dinikmati oleh seluruh masyarakat dalam wujud cacing laut yang dikenal masyarakat pulau Lombok dengan sebutan “nyale” hingga saat ini.

“Itu adalah langkah win-win solution. Tidak memilih salah satu, tetapi dampak dan manfaatnya dirasakan oleh semua orang,” tutup Lalu Putria.