Zul-Rohmi dan Pembangunan Desa Wisata

Penulis: Ahmad Efendi, Komunitas Balai Tulis Literasi NTB

152
kali tampilan.
Gunernur NTB Dr. Zulkifliemansyah saat meresmikan Desa Penujak Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah sebagai desa wisata tagline Penujak Reborn / Foto: Istimewa

LOMBOKita – Salah satu yang menjadi hirau dari NTB Gemilang yang dinakhodai oleh Bang Zul-Ummi Rohmi adalah pariwisata. Hal ini tentu sesuatu yang sangat wajar, mengingat NTB merupakan daerah yang terus menerus membangun diri sebagai daerah layak kunjung bagi para wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun wisatwan dalam negeri maupun regional. Sebagai bentuk turunan dari perhatian Bang Zul-Ummi rohmi dalam aspek pariwisata ini maka dalam kebijakannya terdapat tekanan dalam membangun desa-desa wisata yang ada di NTB.

Perluasan perhatian akan pembangunan pariwisata ini layak mendapatkan sambutan dan apresiasi. Apalagi berbicara pariwisata berarti berbicara mengenai hubungan kompleksitas orang, badan, organisasi, perusahaan, masyarakat. Bahkan berbicara pariwisata juga secara tidak langsung berbicara hubungan antar Negara-negara antar benua.

Pembicaraan mengenai pariwisata sudah menjadi topic yang “special dan bergengsi” karena sudah menjadi kegiatan orang tanpa mengenal ras, suku, etnis dan bangsa. Melainkan pariwisata terkait dengan semua orang yang hendak melakukan perjalanan (keliling) dan atau bertamasya. Di samping itu pariwisata dikatakan sebagai industri yang tidak akan pernah lekang oleh panas dan tidak akan pula lapuk oleh hujan. Ia adalah industry yang berkelanjutan (sustainable). Persoalannya adalah mampu tidak elemen-elemen yang terlibat di dalamnya melestarikan obyek-obyek pariwisata yang ada. Jawabanya tentu tergantung dari seberapa besar usaha pemerintah dan masyarakat dan pihak-pihak terkait untuk mempertahankan obyek-obyek tujuan wisata tersebut.

Demikian pula ketika berbicara keberadaan desa-desa wisata. Dalam hemat penulis kebijakan Bang Zul-Ummi Rohmi dalam rangka terus memacu pembangunan desa-desa wisata ini telah on the track. Minimal kebijakan ini ada argumentasi yang melandasinya, sehingga layak untuk didukung oleh semua pihak, warga masyarakat NTB umunya dan pelaku-pelaku yang terlibat pada khususnya.

Loading...

Sharpley seperti dikutip oleh Dr. I. Gde Pitana melihat ada dua motivasi dalam rangka melakukan kegiatan wisata, yaitu; pertama motivasi Intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Secara intrinsic, motivasi terbetnuk karena kebutuhan dan atau keinginan dari manusia itu sendiri. Motivasi ini bersandar pada teori kebuthan Abraham Maslow, di mana kebutuhan dasar, sekunder yang sudah terpenuhi, maka kebutuhan tersier seperti bertamsaya juga akan berusaha dicapai. Ini sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan manusia. Kedua, Motivasi Ekstrinsik yaitu motivasi yang terbentuk yang dipengaruhi oleh factor-faktor eksternal, seperti norma social, pengaruh atau tekanan keluarga dan situasi kerja.

Pada motivasi intrinsic dapat dilihat bahwa alasan orang untuk datang berwisata, karena memang secara financial mereka telah bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer dan sekunder mereka. Sedangkan pada motivasi ekstrinsik dapat dilihat sebagai motivasi hendak menemukan hal —hal yang membuat mereka tertarik seperti kondisi khas suatu wilayah baik alam maupun keberadaan social-budaya masyarakatnya. Dengan kata lain motivasi ektrinsik ini mempunyai keterkaitan dengan keinginan untuk ingin mengenal, mengetahui bahkan lebih dari itu ingin mempelajari daerah dan kebudayaan masyarakat yang hendak dikunjungi.

Di sisi lain ada referensi yang lebih tegas membagi motivasi berwisata yaitu Bussines Tourism yaitu perjalan yang dilakukan untuk tujuan dinas, perdagangan atau yang berhubungan dengan pekerjaan, seperti menghadiri kongres di dalam maupun luar negeri, seminar, konfrensi, symposium, musyawarah dan lain-lain. Kedua Vacational Tourism, yaitu perjalanan untuk berlibur dan ketiga Educational Tourism yaitu perjalanan untuk pendidikan, studi dan penelitian.

Jadi, motivasi ekstrinsik ini merupakan hal yang cukup urgen dalam hal manusia memutuskan untuk melakukan kegiatan kepariwisataan. Hal ini tentu dapat menjadi bahan dasar bagi masyarakat yang berada pada wilayah-wilayah tujuan wisata untuk dapat mengambil celah. Artinya mereka para turis tidak sekedar datang untuk menghabiskan uangnya semata melainkan hendak berinteraksi lebih jauh mengenai daerah-daerah yang mereka datangi. Untuk hal ini maka keberadaan otentisitas suatu masyarakat perlu dipelihara dan dipertahankan.
Kearifan Lokal.

Melihat dan menyaksikan fenomena motivasi ekstrinsik ini maka keberadaan desa-desa wisata yang menjadi perhatian pemerintah perlu dilanjutkan, perlu segera dibenahi, dan perlu dilestarikan. Pada termin untuk mengenal, mengetahui dan mempelajari kekhasan suatu wilayah ini terkandung bahwa seperangkat nilai-nilai, norma-norma yang menjadi dasar dari keunikan entitas kebudayaan menjadi tidak bisa ditawar-tawar untuk dipertahnkan dan dijaga keberadaannya.

Desa sebagai bagian penyangga dari keberadaan nilai-nilai, norma-norma kebudayaan khas yang dimiliki NTB sudah pasti merupakan asset yang tidak ternilai. Untuk itu desa wisata perlu terus berbenah memastikan kearifa-kearifan local yang ada tetap terjaga dan lestari. Mulai dari ajaran-ajaran moral, etika, sejarah, karakter, ke-khas-an suatu wilayah (desa_desa) merupakan hal yang menarik bagi para wisatawan asing. Sedangkan panorama alam sudah pasti including.

Berangkat dari sini maka menurut hemat penulis, beruntung masyarakat yang mengembangkan desa-desa menjadi tujuan wisata yang mampu mempertahankan semua bentuk kearifan lokalnya baik yang bersumber dari aturan-aturan agama maupun aturan-aturan tardisi —budaya khas NTB. Beruntung masyarakat membuka diri mereka sembari memperkenalkan ke-otentik-an berbagai asset lokalitas seperti kuliner, atraksi dan keunikan-keunikan lainnya yang melekat di desa-desa mereka.

Di sisi lain terdapat kerugian jika masyarakat —masyrakat Desa malah menghilangkan nilai-nilai, norma-norma yang bersumber dari kebudayaan dan agama mereka. Jika ini tergerus maka asset yang sesungguhnya sangat bernilai itu dikhawatirkan hancur dan tidak ada lagi yang menjadi magnet untuk menarik para wisatawan luar untuk berkunjung selain hanya untuk menemukan hal yang sama (homogen) karena ke-khasan masyarakat desa-desa telah berubah mengikuti arus budaya pop. Jelas ini bukan lagi unik tetapi telah menjadi hal yang umum ditemukan, apalagi oleh para wisatawan yang umunya datang dari Negara-negara maju.

Oleh karenanya pemerintah yang sudah mencanangkan keberadaan desa-desa wisata di NTB harus ikut pula mendorong agar Desa-desa yang berpotensi sebagai desa wisata untuk supaya tetap bisa menjaga keunikan-keunikan lokalnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan para wisataawan yang datang dapat meneliti, belajar, dan mempraktekkan nilai-nilai lokal dan seterusnya dari desa-desa tersebut sehingga NTB menjadi NTB gemilang. Bukan sebaliknya para warga desa yang kehilangan jati diri mereka.

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.