Zul-Rohmi dan Pesan dari Penjara

Ditulis oleh: Ahmad Efendi, Komunitas Balai Tulis Literasi NTB

178
kali tampilan.
Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur NTB nomor urut 3, Zul-Rohmi
Loading...

Baru-baru ini Bang Zul dan Ummi Rohmi mendatangi Lembaga Pemasyarakatan (LP) di mataram. Hal ini cukup menarik perhatian masyarakat, disebabkan oleh karena jarang-jarang ada pejabat Negara/pemerintah secara resmi mendatangi LP. Apalagi pejabat setingkat kepala daerah Provinsi yang mendatangi LP tersebut, tentu kejadian seperti ini sepertinya barang langka.

Memang masyarakat sudah terbiasa menyaksikan Bang Zul maupun Ummi Rohmi turun berbaur dengan masyarakat dalam rangka bersilaturrahmi dan mendengarkan berbagai aspirasi dari mereka. Lalu ada momen yang sepertinya tidak disangka-sangka akan dikunjungi yaitu mengunjungi LP di Mataram. Hal ini tentu saja sebuah kunjungan anomaly jika dinilai dari kebiasaan-kebiasaan Bang Zul-Ummi Rohmi selama ini.

Penjara yang diperhalus dengan sebutan LP merupakan tempat yang “terlupakan”, tempat orang-orang “terbuang” mengisi hari-hari mereka di tempat yang “sempit”. Tempat orang-orang “belajar untuk masa depan dan merenungi” ulang mengenai kehidupan yang telah mereka lalui.

Mendengar LP bisa saja terbayang warna hitam —gelap, terbayang tempat yang dihuni oleh orang-orang “bermasalah”, dan “terbayang kesusahan dan kesediahan”.

Demikian gambaran LP yang sedapat mungkin harus dihindari oleh masyarakat. Ia harus dihindari sebagai cerminan masyarakat taat dan menjunjung tinggi aturan-aturan kehidupan.

Apapun gambaran mengenai LP, namun yang jelas Bang Zul dan Ummi Rohmi telah bersedia membuka diri dengan para penghuni LP. Bang Zul_Ummi Rohmi telah bersedia mengunjungi mereka. Bang Zul-Ummi Rohmi telah berusaha memberikan dukungan dan dorongan agar kehidupan mereka kelak dapat dibangun (dikonstruksi) positif agar dapat berguna bagi masyarakat sekitar tempat mereka berasal kelak.

Kemungkinan para warga LP tidak pernah menyangka akan dikunjungi secara resmi oleh pimpinan daerah. Mereka cukup memaklumi diri, siapalah yang akan mengunjungi mereka di tengah kondisi “serba terhukumi”? Persangkaan baik yang telah pupus kemudian terjawab dengan kunjungan Bang Zul-Ummi rohmi. Kunjungan ini tentu saja ibarat oase dipadang tandus bagi para warga LP dalam rangka mencoba menemukan kembali spirit kehidupan.

Dapat dikatakkan kehidupan para warga LP telah berada di titik nadir. Kecuali itu yang berharga adalah spirit untuk kembali menemukan kedirian mereka sebagai manusia yang layak untuk bangkit. Dalam rangka untuk berusaha memberikan dorongan/ motivasi dan lecutan semangat untuk menemukan diri mereka kembali itulah yang kiranya sangat berharga dalam nilai-nilai kunjungan Bang Zul_ummi Rohmi.
Disitulah nilai-nilai kemanusiaannya yang patut diapresiasi oleh masyarakat. Sebab bagaimanapun dalam konteks hukum di Indonesia orang yang masuk LP tersebut masih berhak untuk diberikan kesempatan guna melanjutkan kehidupannya kedepan dalam situasi baru yang tentu saja harus lebh baik dari sebelumnya.

Untuk itu Bang Zul memberikan sedikit banyak pesan untuk terus memberikan semangat kepada warga binaan LP. Terutama pesan-pesan keadilan yang kerap masyarakat dengar sebagai tumpul ke atas, tajam ke bawah. Dari penggambaran itu masyarakat kecil seringkali tidak bisa lolos dari jerat hukum sedangkan banyak orang-orang besar dengan masalah hukum besar tidak dapat disentuh.

Bang Zul sampaikan hal itu kepada warga binaan LP agar ada perlakuan hukum yang sama kepada semua, sehingga terwujud rasa keadilan. Jika hal itu terpenuhi memungkinkan adanya kepastian hukum yang selalu menjadi tiang untuk mewujudkan tata-tertib bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sedangkan Ummi Rohmi menyampaikan, perlunya mengakomodir kebutuhan-kebutuhan warga binaan agar selepas dari LP mereka bisa berkontribusi poisitf ditengah-tengah masyarakat. Adanya kebutuhan-kebutuhan bagi memfasilitasi pengembangan minat dan skill warga binaan merupakan hal yang mendesak untuk diakomodir.

Harapannya selepas dari LP para warga binaan telah mempunyai keterampilan dan atau keahlian guna bisa membuat masa depan baru bagi dirinya dan keluarganya.

Apapun komunikasi Zul-Rohmi dengan penghuni LP Mataram yang patut digaris bawahi dari kunujungan mereka berdua adalah kesediaannya mengunjungi, membuka diri sekaligus mengilangkan tirai komunikasi antara semua masyarakat, tidak terkecuali warga masyarakat yang “terlupakan” seperti warga binaan LP.

Tentu hal ini merupakan fenomena yang perlu menjadi pelajaran berharga bagi membangun masyarakat, khususnya NTB dan Indonesia umumnya. Bagaimana pun teladan pemimpin itu mempunyai daya dorong tinggi bagi memulai babakan sejarah baru dalam rangka menghimangkan sekat-sekat social kemanusiaan dengan siapapun juga.

Bersambung…..

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.