Zul-Rohmi: Membangun Peradaban Politik Bermartabat

Penulis: Ahmad Efendi - Komunitas Literacy Bale Tulis NTB

90
kali tampilan.
Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur NTB nomor urut 3, Zul-Rohmi

LOMBOKita – Ada perbedaan antara apa yang dilakukan oleh pasangan terpilih Gubnernur dan wakil Gubernur NTB baik sebelum dan setelah pemilihan dengan pasangan kontestasi lainnya. Apa itu?, strategi interaksi sosial, semua pasangan memang melakukannya tetapi interaksi sosial yang dilakukan oleh Pasangan Zul-Rohmi agak berbeda dengan pasangan yang lain.

Pasangan Zul-rohmi melakukan interaksi sosial (silaturahmi) dari lapisan masyarakat elit sampai masyarakat “akar rumput”. Mungkin semua pasangan juga mengklaim diri mereka melakukan hal yang sama, namun dalam pengamatan penulis pasangan Zul-rohmi lah yang paling intensif melakukannya bahkan hal itu terlihat sampai pemilu usai.

Khas dari interaksi sosial (silatrrahmi) Zul-Rohmi ini pun cukup liquid. Jikalau banyak pasangan melakukan interaksi sosial dalam skala besar (kecamatan) sedangkan pasangan Zul-rohmi ini interaksinya sampai lokus-lokus kekadusan. Ini dilakukan sejak sosalisasi dan kampanye telah ditabuh genderangnya oleh Panitia pemilihan (KPU).


Baca juga: Panggung Belakang Kemenangan Zul-Rohmi

Kedua personaliti ini turun secara terjadwal seperti tidak kenal lelah berkeliling ke seluruh pelosok NTB. Berkeliling masuk dari satu desa ke desa yang lain, dari satu kekadusan ke kadusan lainnya. Sepertinya apa yang dilakukan kedua personaliti ini nampak remeh-temeh. Mendatangi kelompok-kelompok kecil di dusun-dusun yang nota bene merupkan anggota masyarakat akar rumput. Mereka temui berakrab ria, mendengarkan harapan-harapan mereka, berbincang dengan tanpa jarak, namun sungguh hal ini sangat berbekas di hati para warga masyarakat. oleh karenanya penulis meyakini pada penilaian remeh-temeh itu, sesungguhnya terletak power dari taktik kedua personality yang terusung oleh partai PKS-Demokrat ini. Interkasi ini sering pula dilakukan sampai malam hari karena banyaknya lokasi yang harus dikunjungi.

Dalam hemat penulis, hal itu wajar karena periode tersebut adalah waktu untuk melakukan sosialisasi dan kampanye guna meraup suara sebesar-besarnya. Namun yang patut menjadi catatan adalah militansi dari pasangan ini yang rela turun sampai tingkat paling bawah. Menulusri jalan-jalan sempit kekadusan, guna menemui kumpulan-kumpulan masyarakat akar rumput untuk menyampaikan pesan-pesan mereka sekaligus sebagai bentuk silaturrahmi mereka berdua.

Hal itu pun dilakukan secara proporsional di mana Pak Zul melakukannya di Pulau Lombok dan Sumbawa. Begitu Juga dengan Ibu rohmi melakukan hal yang sama. Sungguh sebuah taktik yang tidak biasa, karena yang terjadi sering yang jalan sampai ke tingkat-tingkat RT adalah para tim sukses dari pasangan kontestasi.

Penulis tidak tahu apakah pasangan kontestasi lainnya menyadari ataukah tidak taktik pasangan Zul rohmi ini. Ataukah memang mereka tahu tetapi tidak mau melakukan hal yang sama karena mereka cukup mempercayakan para tim sukses mereka bekerja secara terukur dan terencana sampai ke lapisan masyarakat terbawah.

Satu hal yang jelas taktik yang dilakukan pasangan Zul-Rohmi ini jelas mempunyai “gigitan” yang jauh lebih kuat dalam rangka melakukan sosialisasi dan kampanye. Di sisi lain hal itu dapat menjadi titik mula menabur ikatan social-emosional dengan masyarakat luas guna meneguhkan hati mereka untuk berlabuh kepada mereka berdua. Jikapun pasangan ini tidak terpilih nantinya hal itu tidak akan pernah sia-sia karena akan terus menjadi ikatan social-emosional antara kedua pasangan dengan masyarakat yang dikunjunginya.

Di sini hendak dikatakan, jarang-jarang masyarakat akar rumput mendapatkan kunjungan orang/tokoh-tokoh besar yang sebbenarnya mempunyai great tersendiri di masyarakat. pada kenyataanya pasangan ini menang sehingga diyakini ada korelasi positif antara militansi pasangan dalam mengunjungi pemilih dari level teratas sampai lini masyarakat grass root.

Interaksi Sosial Berlanjut
Sampai kemenangan pasangan ini diraih pun ternyata kebiasaan melakukan kunjungan ke masyarakat akar rumput terus berlanjut. Seiring dengan itu juga kunjungan ke para tokoh-tokoh berpengaruh juga dilakukan. Bagi penulis ini adalah sesuatu yang berbeda dan sangat menarik itu dijelaskan lebih jauh.

Kebetulan juga penulis berkawan dengan sang Gubernur terpilih ini sehingga dengan mudah saja bisa melihat semua kegiatan-kegiatan kunjungannya nya setiap hari ke berbagai tempat, ke berbagai lapisan masyarakat. Ini fenomena baru dari seorang pemimpin, karena selama ini tidak ada yang melakukannya seintensif yang dilakukan oleh Pak Zulkiflimansyah. Untuk sementara ini penulis akui dialah yang begitu rajin mengunjungi semua lapisan masyarakat. mulai dari tokoh menengah-elit. Mulai dari tokoh partai yang berbeda dengan partainya sampai sesama tokoh satu partai. Mulai dari tokoh yang sejalan sampai tokoh yang menjadi lawan kontestasi pada pilkada yang baru saja usai ia kunjungi. Mulai dari tokoh muda sampai tokoh yang dituakan, semua dikunjungi.

Jelas ini tidak main-main. Ada kekuatan besar pada cara /taktik politik yang dilakukan oleh pak Zulkiflimansyah ini. Memang dimaklumi tentu baginya telah khatam pekerjaan politik untuk politik sehingga garapan lainnya tentu lebih dari sekedar hal itu. Boleh jadi dari kegiatannya yang begitu intensif ia telah menempatkan politik bukanlah untuk politik melainkan politik untuk beribadah. Hanya dengan logika ini tindakan Pak Zulkiflimansyah itu dapat dipahami.

Andai ia melakukan semua kegiatannya berangkat dari kerangka politik untuk politik tentu saja itu tidak masuk akal. Ia pilih aja duduk-duduk di rumah, lalu menyusun semua program yang hendak dijalankan. Mengapa harus menghabiskan waktu untuk menemui semuanya toh juga jika programnya bagus automatically semuanya akan merasakan manfaatnya? Ah tidak itu bukan sesuatu yang hendak ingin dilakukan oleh Pak Zul, melainkan ingin betul-betul membangun sebuah kohesi social-emosional secara langsung dengan masyarakat luas. Ia hendak mengatakan bahwa silaturahmi dan ikatan social dapat dibangun secara kokoh harus dengan bertemu langsung sehingga ikatan social itu mempunyai kekuatan yang tidak mudah rapuh oleh karena adanya berbagai perbedaan dipermukaan.

Hal ini juga dapat menjadi contoh teladan yang baik untuk dilanjutkan oleh siapa pun kelak. Berkompetisi boleh, namun ikatan persaudaraan tentu tidak bisa dihargakan dengan nilai kompetisi itu sendiri. Lebih jauh apa yang dilakukan oleh Pak Zul tentu dapat menjadi modal tangguh untuk membangun NTB selama lima tahun ke depan. Pak Zul hendak menghilangkan sekat—sekat yang sempat tercipta lewat momen pilkada kemarin lalu kini hal itu telah usai maka mari kita membangun NTB tercinta ini bersama-sama, seolah demikian yang hendak dibahasakan. Dahsyatnya itu ia lakukan dengan menyampaikannya langsung kepada masyarakat dengan cara menemuinya.

Kerangka Sosiologis
Jika hendak dianalisis lewat teori social, penulis hendak mengajukan tiga kerangka teori dalam menganalisa fenomena Zul_rohmi ini, yaitu pertama; teori aksi. Kedua; teori interkasionisme simbolik dan ketiga; teori Behavioral. Teori aksi menekan pada tindakan. Asalakan tindakan sesorang itu adalah tindakan penuh makna maka sudah dapat dinilai sebagai aksi social seseorang kepada orang lain atau kepada masyarakat luas. Tidak ada artinya seorang berteriak di tengah padang sunyi jikalau tidak ada yang mendengarnya atau tidak ada niat sesorang yang berteriak itu untuk di dengar oleh sipapun. Maka tindakannya bukanlah tindakan yang dapat dimaknai oleh orang lain.

Sedangkan tindakan Pak Zul pada hemat penulis jelas mempunyai makna. Mendatangi para pemuda, berbincang dengan mereka atas apa-apa yang menjadi obsesi mereka, apa-apa yang menjadi rencana mereka, adakah solusi dan atau rekomendasi yang harus dilakukan. Mendatangi tokoh-tokoh lintas sektorla dan seterusnya. Semuanya itu adalah tindakan penuh makna dari seorang calon Pemimpin dalam hal ini calon Gubernur yang akan hendak dilantik.

Sedangkan teori kedua yaitu teori interaskionisme simbolik merupakan teori yang menjelaskan bahwa semua tindakan individu kepada orang lain atau kelompok dapat diinterpretasikan, dapat ditafsirkan sebagai symbol-symbol. Tafsir positif tentu mudah dilekatkan kepada Pak Zul karena kerelaannya berkeliling menemui masyarakat. ini tentu saja akan menyebarkan energy positif bagi semua pihak.

Apalagi yang ditemui adalah simpul-simpul dari kesatuan /komunitas-komunitas sosial. Bahkan tidak hanya itu yang ditemui adalah mereka (masyarakat ) kebanyakan juga yang bermakna bahwa pak Zul tidak/bukan type pemimpin elitis berdiri di atas menara gading melainkan pemimpin yang low profil.

Behaviorisme juga bisa dipakai sebagai landasan pijak untuk memotret fenomena silaturrahmi pasangan pemenang pilkada ini. Pertanyaannya adalah apakah personality pasangan ini memang sudah mempunyai tingkah laku senang menyambung silaturrahmi yang mempribadi ataukah taktik yang diperankan semata-semata bagi mencitrakan diri meraka dekat dengan semua pihak? Teori behaviorisme meyakini bahwa tindakan-tindakan individu dikatakan otomatis dari tuntutan dari dalam individu itu sendiri.

Teori ini mengumpamakan individu itu berada dalam posisi tidak terlalu longgar (bebas) menentukan sikap. Berbeda dengan interaksionisme simbolik di mana Individu ditempatkan sebagai pribadi yang bebas menafsirkan makna yang dilihat, di dengar dan dirasakan. Jadinya berdasarkan teori interaksionisme simbolik individu melakukan tindakan lebih didasarkan pada rangsangan dari luar sedangkan teori behaviorisme ini mengasumsikan tindakan individu akibat tuntutan dari dalam individu itu sendiri.

Akhirnya Penulis berasumsi bahwa fenomena silaturrahmi intensif Zul-Rohmi ke masyarakat adalah fenomena yang dapat dipahami dari berbagai sisi. Bisa jadi dari adanya nilai-nilai yang diperjuangkan, norma-norma yang telah mempribadi pada masing-masing tokoh sehingga kemudian mengambil strategi interaksi social (silaturrahmi (bahasa agamanya)) dilakukan secara automatically, bukan lifstic service (polesan), bukan pencitraan. Melainkan ikhlas dilakukan sekaligus menjadi strategi jitu untuk membangun masyarakat NTB lima tahun ke depan.