Masyarakat Pulau Lombok di Provinsi Nusa Tenggara Barat mengambil langkah-langkah vital untuk menciptakan komunitas daur ulang sekaligus mencegah pantai mereka dicemari sampah plastik, seiring dengan peningkatan popularitas pulau tersebut.

Lombok telah digadang-gadang pemerintah Indonesia sebagai salah satu “Sepuluh Bali Baru”. Putaran tahunan Kejuaraan Dunia MotoGP juga direncanakan untuk diselenggarakan di pulau itu melalui Proyek Mandalika berbiaya US$3 miliar.

Namun, meski bakal mendatangkan manfaat ekonomi, pembangunan infrastruktur dan kunjungan turis asing juga berpotensi membawa efek samping.

Menurut data pemerintah, Indonesia setiap tahun membuang limbah plastik sebanyak kurang lebih 85 juta kilogram ke lingkungan, sehingga negeri kepulauan ini dikenal sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah China.

Statistik dari 2015 menunjukkan bahwa negara ini mendaur ulang hanya 7% dari total limbahnya.

Bagaimanapun, ada sejumlah kelompok di Lombok yang bertekad mendongkrak angka tersebut.

Pada Agustus 2019, organisasi non-pemerintah Invest Islands Foundation, yang berlokasi hanya beberapa menit berkendara dari Sirkut Jalan Raya Internasional Mandalika di Lombok Selatan, menawarkan pekerjaan dan penghasilan tetap bagi suatu komunitas beranggotakan 10 perempuan kurang mampu.

Mereka diminta mengumpulkan sampah di pantai-pantai paling selatan sekitar Teluk Torok.

Selang 18 bulan kemudian dan setelah enam ton lebih limbah plastik dikumpulkan, yayasan itu kini tengah memasang mesin penghancur yang akan mengubah limbah tak terurai menjadi pernak-pernik, mainan, dompet, dan piring.

Dengan menjual barang-barang tersebut di toko-toko setempat maupun di kantornya di Lombok dan Perth, Australia, yayasan itu berharap menciptakan ekonomi yang berkesinambungan.

“Jumlah sampah yang berserakan di pantai-pantai Indonesia telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang mengerikan. Maka kami perlu bertindak di Lombok saat ini untuk menanganinya sebelum terlambat dan menghadapi situasi seperti di Bali,” kata Masri Asril, Manajer Proyek yayasan kepada wartawan Gary Meenaghan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia (media jaringan suara.com/Lombokita.com).

“Syukurnya, ada beberapa proyek di pulau itu yang tidak saja membantu membersihkan pantai setiap hari, namun juga ada penggunaan kembali plastik, membuat sekolah ramah lingkungan, serta menyelenggarakan kelas-kelas untuk membantu penyediaan bantuan, dan mendidik masyarakat akan pentingnya membuang sampah secara bertanggung jawab.”

Invest Islands Foundation akan memasang alat penghalau sampah (trashboom) dalam beberapa pekan mendatang untuk membantu menanggulangi polusi saluran air sekaligus mencegah limbah di sungai sampai ke lautan.

Yayasan itu juga menempatkan lima bak sampah berskala besar untuk memudahkan pembuangan sampah di selatan pulau itu.

Asril mengatakan inspirasi atas inisiatif pengelolaan sampah banyak datang dari Aisyah Odist, seorang pegiat setempat yang bergerak di bidang konservasi dan konsumsi yang bijak bagi masyarakat.

Odist mendirikan Bank Sampah Mandiri NTB pada 2011 dan kini mengelola Lombok Eco Craft di Kota Mataram, yang merupakan solusi inovatif bagi komunitasnya untuk mengatasi ketergantungan plastik sekali pakai.

Melalui cara-cara kreatif mengolah sampah yang tidak berharga seperti ban bekas dan bungkus bahan minuman kemasan menjadi tas tangan, taplak meja, gantungan kunci, dan alas piring, dia bersama puluhan perempuan setempat telah menciptakan banyak karya di ibu kota provinsi tersebut.

Beberapa produk mereka dijual secara eceran dengan harga variasi hingga Rp1 juta.
“Saya tidak menerima sampah yang bisa dijual orang-orang di tempat lain, seperti botol plastik atau kertas,” kata Odist.

“Saya hanya menginginkan sampah yang tidak ada harganya, seperti bungkus bahan minuman yang menyampahi kali-kali dan berserakan di pantai-pantai kita. Dengan cara itu, kami bisa mengubah sesuatu yang tadinya tidak berharga menjadi sebuah produk yang membuat orang ingin membelinya di masa depan dan, di saat yang sama, turut membantu membersihkan pulau.”

Odist juga mengaku tidak menerima pelanggan di lokasi yang jauh dengan harapan orang-orang di pulau itu bisa membuat usaha mereka sendiri secara mandiri.

Salah satu contohnya adalah Plastik Kembali, yaitu studio desain produk yang berlokasi di Serong Belanak dan secara mandiri mengolah plastik sekali pakai.
Didirikan pada 2019 oleh pasangan Amerika-Swiss, Elissa Gjertson dan Daniel Schwizer, Plastik Kembali hanya dimulai dari halaman belakang rumah, sebuah oven, dan disertai dengan keinginan untuk membuat perubahan melalui seni.

Sekitar setahun kemudian, usaha itu mempekerjakan 30 warga lokal, membeli sampah plastik dari masyarakat setempat, dan menciptakan ratusan produk artistik setiap bulan.

“Daur ulang plastik sekali pakai tidak akan berhasil dalam jangka panjang karena produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih rendah – pada dasarnya ini adalah “down-cycling” dan akhirnya akan berakhir di tempat pembuangan sampah,” kata Gjertson, yang berasal dari Minnesota, Amerika Serikat.

“Itu bukan lah tujuan kami, dan juga Lombok bila ingin mencegah masalah yang sudah dialami Bali.

“Tujuan kami adalah menggunakan seni untuk menciptakan produk-produk yang benar-benar meningkatkan nilainya dan memperpanjang siklus hidup plastik sekali pakai; produk-produk yang memiliki rasa desain yang kuat – dan juga mengedukasi turis dan masyarakat secara keseluruhan bahwa bahan-bahan yang tergeletak di sekitar bisa jadi bernilai, indah, dan bermanfaat.”

Plastik Kembali membuat aneka barang, mulai dari mangkuk dekoratif hingga tekstil tenunan, tas jinjing hingga tatakan gelas, rak handuk hingga wastafel dapur.

Katalog terbarunya bahkan mencantumkan sebuah bangku seharga Rp1,8 juta.
“Kami sering berbicara mengenai bagaimana mangkuk yang kami buat adalah pusaka keluarga yang baru karena bisa bertahan ratusan tahun,” seloroh Gjertson, yang usahanya sudah menggunakan kembali sekitar 1.100kg sampah plastik dan lebih dari 100.000 kantong plastik polietilen sekali pakai sejak Agustus lalu.

Inisiatif-inisiatif seperti Plastik Kembali, Invest Islands Foundation, dan Lombok Eco Craft menjadi alasan bagi pemerintah provinsi untuk yakin bahwa pulau tersebut kini siap untuk menghadapi lonjakan pariwisata – dan juga sampah – yang diperkirakan terjadi pada beberapa tahun mendatang.

Firmasyah S. HUT. M. Si, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan di Nusa Tenggara Barat, mengatakan bahwa provinsi tersebut kini menjadi rumah bagi 372 bank sampah.

Adapun kesadaraan perlunya pengelolaan limbah yang bertanggung jawab telah meningkat pesat dalam 10 tahun sejak Odist membuka Bank Sampah Mandiri NTB.

“Bila dibandingkan 10 atau 20 tahun yang lalu, tidak ada korelasinya,” kata Firmansyah.

“Bahkan bila dibandingkan dengan lima tahun lalu, sudah banyak kesadaran di dalam masyarakat dan pemerintah. Kami memiliki suatu komunitas yang peduli akan sampah dan lingkungan serta aktif dalam kampanye dan edukasi.

“Kami sangat yakin tidak akan menjadi seperti Bali karena ada begitu banyak inisiatif di dalam komunitas setempat untuk membantu pemerintah: yaitu skema pengomposan sampah organik, bio-gas dari sampah dapur, batu bata ramah lingkungan, membuat bahan bakar dari limbah…”

Provinsi Nusa Tenggara Barat meluncurkan Program Bebas Sampah pada 2018 dengan dua tujuan, yaitu meningkatkan jumlah sampah yang dikelola secara bertanggung jawab, dari 20% menjadi 70% dalam lima tahun – dua tahun lebih cepat dari target nasional.

Sejak bulan lalu, pengelolaan sampah telah meningkat mendekati 40 persen.
“Betul, kami memasang target mengelola 100% sampah mulai 2023,” tambah Firmansyah. “Itu adalah target kami. Mungkin targetnya ambisius, namun saya pikir kita perlu memasang target ambisius agar kita bekerja lebih keras.”

Sebelum pandemi COVID-19 menangguhkan pariwisata dari luar negeri, Lombok secara konsisten mencatat rata-rata penambahan jumlah pengunjung tahunan lebih dari 20% berbasis tahun-per-tahun.

Jumlah turis dari luar negeri ke Lombok setiap tahun sekitar satu juta orang memang masih lebih rendah dari jumlah yang di Bali, yaitu enam juta pengunjung. Namun Odist yakin, ketika makin populer, Lombok akan menjadi lebih makmur ketimbang tetangga di bagian Barat itu.

“Tentu saja, kami masih butuh lebih banyak lagi kolaborasi, tapi kami siap,” ujarnya.

“Sebelum [pandemi] virus corona, orang-orang sudah lupa soal lingkungan dan terlalu sibuk kejar uang. Kini, kita punya waktu luang: waktu untuk bersih-bersih dan bersiap.

“Setiap pulau punya aturan sendiri-sendiri, jadi sulit untuk membandingkan. Tapi Lombok memulai dari posisi yang lebih baik karena sudah memiliki sejumlah komunitas baru yang benar-benar peduli lingkungan.”

Berkolaborasi dengan Odist, Invest Islands Foundation telah membantu menciptakan tiga sekolah ramah lingkungan di pulau itu dan yang keempat diperkirakan akan dibuka akhir tahun ini. Asril, manajer proyek tersebut, mengatakan bahwa kolaborasi adalah kunci.

“Satu dekade lalu cuma sedikit inisiatif kecil, namun sejak Program Bebas Sampah dimulai beberapa tahun lalu kami telah menyaksikan terbentuknya banyak proyek dan kampanye baru yang bertujuan untuk mengurangi dan penggunaan kembali sampah.

“Ada rasa kebersamaan yang besar di Lombok dan itu tercermin dalam kolaborasi antar inisiatif yang beragam, yang benar-benar membantu mereka untuk berkembang dan memberi dampak.”

“Bila tren itu berlanjut dan generasi mendatang terus diedukasi mengenai perlunya tindakan yang bertanggung jawab dalam konsumsi yang bijak dan pembuangan sampah, saya yakin bahwa – walaupun populasi dan turis kian bertambah – kita bisa menghindari masalah seperti yang dihadapi Bali.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.