Dilema Masyarakat di Masa Pandemi COVID-19

Oleh : Dwi Kurniawati, Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Mataram

Seperti yang kita ketahui bahwa semenjak munculnya wabah COVID-19, banyak sekali menimbulkan perubahan dalam kondisi kehidupan sosial masyarakat. Baik itu kondisi kesehatan, ekonomi, pendidikan, pariwisata, maupun akses-akses lainya yang mulai dibatasi. Kondisi seperti ini tentu menimbulkan perubahan dalam tatanan sosial masyarakat.

Proses penyebaran COVID-19 yang begitu cepat dan mudah bahkan penularannyapun tidak mengenal kelas sosial manapun, baik itu si miskin maupun si kaya, dan tidak mengenal kalkulasi usia manusia

Jika kita lihat peningkatan jumlah penyebaran masyarakat yang terdampak COVID-19 tentu akan menimbulkan kewaspadaan dan kekhawatiran bagi masyarakat. Sehingga sering kali kita dengar dan temukan dilema masyarakt akibat COVID-19. Seperti keluhan masyarakat para tenaga kerja yang bekerja di luar negri dan belum bias pulang kampung hingga saat ini karena khawatir jika swaktu-waktu tertular COVID-19 diperjalanan. Kemudian, keluhan para tenaga kerja dalam bidang pariwisata atau bidang lainya yang terkena dampak COVID-19 yang menyebabkan penurunan pendapatan atau bahkan tidak sedikit jumlah tenaga kerja yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari perusahaan tempat mereka bekerja.

Dalam bidang pendidikanpun para tenga pendidikan dan siswa dibatasi dalam melakukan peroses pendidkan diruang kelas karena dikhawatirkan dapat saling menularkan COVID-19 sehingga para tenaga pendidikan melakukan inisiatif tertentu agar tetap bias menyalurkan pembelajaran sebagai mana mestinya, seperti sekolah yang menyediakan akses daring untuk pembelajaran siswa, melakukan tatap muka dengan siswa melalui via zoom, dan bahkan berusaha untuk melakukan peroses pembelajaran dengan tatap muka satu kali seminggu dengan mendatangi rumah-rumah siswa yang belum memiliki media akses untuk berkomunikasi dengan guru dalam peroses belajar dimasa pandemi COVID-19.

Selain dalam bidang ekonomi dan pendidikan bidang kesehatan pun sangat merasakan betapa pedihnya perjuangan para tenga medis dalam memperjuangkan kesehatan masyrakat yang terdampak COVID-19 bahkan banyak tenaga medis yang gugur dalam berjuang melawan COVID-19.

Jika kita perhatikan kondisi covid-19 saat ini dalam kacamata Sosiologi kesehatan memandang bahwan, adanya perilaku atau gaya hidup dalam kehidupan masyarakat yang mengalami perubahan dimasa pandemi COVID-19. Sehingga dalam konteks soial kultur dan perilaku dalam masyarakat mengalami gangguan dalam menjalankan peroses yang biasa dijalankan masyarakat. Seperti budaya berjabat tangan dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitar, berusaha menjaga jarak dengan sesama, dan sebagain masyarakat berusaha untuk berprilaku hidup bersih seperti membiasakan menggunakan masker ketika keluar rumah atau ketika berintraksi dengan orang lain, menggunakan handsainitaizer atau mencuci tangan setelah memegang benda-benda yang berada di tempat umum. Hal ini tentu menimbulkan kebiasaan-kebiasaan baru yang harus dilakukan masyrakat dimasa pandemi COVID-19 saat ini.

Kebiasaan baru yang dilakukan masyrakat saat pandemi COVID-19 yang menimbulkan perubahan dalam lingkungan masyarakat. Karena masyarakat berusa untuk melakukan suatu hal yang jarang atau bahkan tidak pernah mereka lakukan. Seperti yang awalnya tidak perlu mengunkan masrker sekarang dituntut untuk menggunakan masker, yang awalnya tempat mencuci tangan jarang disediakan di tempat-tempat umum sekarang sudah banyak kita temuka, dan yang awalnya bisa kedaerah manapun dan belum adanya Pembatasan Sosial sekarang akses dibatasi dan bahkan jika melakukan perjalan keluar daerah diwajibkan untuk rapid test terlebih dahulu agar peroses perjalanan diperbolehkan.

Kebiasaan baru yang dilakukan masyarakat ini juga diberikan penegasan oleh pemerintah pusat maupun derah dengan memerintahkan petugas keamanan melakukan razia masker untuk para pengendara yang tidak menggunkan masker, dan melakukan Pembatasana Sosial Bersekala Besar (PSBB). Hal ini dilakukan untuk meminimalisir perkembangan penyebaran COVID-19 dilingkungan masyarakat yang belum mengalami perubahan. Namun, pemerintah berupaya untuk melakukan program vaksinasi bagi masyarakat.

Jika kita lihat kondisi seperti ini tentu terdapat perbedaan yang sangat jauh dalam kondisi kebiasaan masyarakat dalam menjalankan sistem yang ada dalam masyarakat. Seperti yang dijelaskan juga dalam perspektif Fungsionalisme Struktural, memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan bagian yang satu tidak dapat berfungsi tanpa ada hubungan dengan bagian yang lain, kemudian perubahan yang terjadi pada salah satu bagian akan menyebabkan ketidakseimbangan dan memunculkan perubahan pada bagian lain.

Dalam perspektif ini tentu menyangkut kondisi masyarakat yang mengalami perubahan dimasa pandemi COVID-19 karena adanya beberapa fungsi yang tidak dapat dijalankan, akibat pembatasan-pembatasan yang sudah diterapkan sebagai usaha pemerintah untuk memutus penyebaran COVID-19.

- Adv -

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.