DKP Mataram Kaji Pengembangan Wisata Konservasi Penyu

197
kali tampilan.
Ilustrasi konservasi penyu
Loading...

LOMBOKita – Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, akan melakukan kajian terhadap wacana pengembangan wisata konservasi penyu dalam rangka meningkatkan angka kunjungan wisatawan di daerah itu.

“Kajian pengembangan wisata konservasi penyu ini untuk mendukung aktivitas masyarakat di kawasan Mapak Indah yang aktif melakukan penetasan telur penyu kemudian melepaskannya ke perairan bebas,” kata Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Mataram Emir Rumair di Mataram, Jumat.

Ia mengakui, potensi penangkaran telur penyu di kawasan Mapak Indah memang cukup bagus, dan memungkinkan untuk dikembangkan menjadi sebuah objek wisara konsevasi penyu.

Apalagi dengan melihat keseriusan dan komitmen warga sekitar untuk menjaga keberlanjutan hewan langka yang dilindungi itu cukup tinggi, karena telur-telur penyu yang ditetaskan didapat dari penyu yang “nyasar”.

Namun demikian, kajian dan evaluasi harus tetap dilakukan sebelum rencana tersebut berjalan, karena salama ini warga melakukan penangkaran penyu sebatas kebetulan menemukan penyu yang terdampar di perairan itu.

Loading...

“Jika ini memang terjadi setiap tahun pada musim-musim tertentu, bisa kita programkan dan rencanakan menjadi objek wisata edukasi,” katanya.

Di samping itu, kepemilikan lahan untuk penangkaran juga harus dipastikan, sebab informasinya lahan yang digunakan untuk penangkaran penyu saat ini bukan milik warga sekitar.

“Jadi kalau kita ingin mengembangkan kawasan Mapak Indah menjadi objek wisata konservasi penyu, lahan tersebut harus kita bebaskan,” ujarnya.

Menurut Emir, seringnya penyu terdampar di wilayah Mapak Indah karena suhu, kualitas dan kondisi pasir, serta kecepatan arus di kawasan Mapak Indah cukup mendukung.

“Karenanya, lokasi itu memang cocok untuk penangkaran penyu, sebab setiap telur yang dieramkan bisa menetas dengan baik,” katanya.

Bahkan pada akhir Agustus 2017, DKP telah memfasilitasi warga melepasliarkan sekitar 50 ekor anak penyu ke perairan bebas yang merupakan hasil penangkaran warga sekitar.

“Kalau sudah ada penangkaran, selain menunggu penyu ‘nyasar’, kita juga bisa eramkan telur-telur penyu hasil razia yang dijual di pasar-pasar tradsional,” katanya.

Kepala Humas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTB Ivan Juhanda sebelumnya mendorong Pemerintah Kota Mataram mengembangkan kawasan wisata konservasi penyu.

Pengembangan kawasan wisata konservasi penyu tersebut bisa dilakukan secara bersinergi dengan pengelola hotel.

Para pengelola hotel bisa mengarahkan tamunya untuk melihat proses penangkaran dan melepasliarkan anak penyu ke perairan laut. Kemudian mereka memberikan donasi untuk keberlanjutan proses penangkaran penyu.

“Jadi masyarakat di kawasan pesisir bisa mengambil manfaat berupa jasa lingkungan dari aktivitas ekowisata berbasis konservasi penyu,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.