Ikut Habaib, Kiyai, TGH dan Rasionalitas Santri

Patuh pada perintah kiyai adalah ibadah yang luar biasa bagi santri

434
kali tampilan.
Ahmad Patoni, SS - Kepala Madrasah Diniyah Salaf Modern Thohir Yasin Lendang Nangka, Masbagik – Lombok Timur.
Loading...

LOMBOKita – Kondisi perpolitikan hari ini semakin menghangat, lebih-lebih dengan bermunculannya surat edaran dukungan para kiyai dan habaib pada kandidat tertentu. Surat edaran berbentuk himbauan dan instruksi kepada semua santri dan simpatisan untuk sama-sama mendukung dan memenangkan calon yang direstui oleh para kiyai dan habaib tersebut.

Selain berbentuk surat edaran dan instruksi, hal lain yang digunakan para kiyai untuk menegaskan dukungannya adalah dengan cara membuat surat pernyataan dukungan, dimana surat pernyataan dukungan ini secara tidak langsung menjadi cambuk mematikan bagi siapapun santri yang berbeda-beda pilihan.

Tidak jarang kondisi ini, menjadi pemicu pro kontra di masyarakat. Bagi calon yang diuntungkan dengan keluarnya instruksi, maka dia akan berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan pembenaran dengan keluarnya surat tersebut. Berbanding terbalik dengan kelompok yang merasa dirugikan oleh maklumat tersebut, maka dia akan berupaya semaksimal mungkin memberikan kritikan pedas dengan alasan simpati dan lain-lain. Padahal jikapun ditelusuri, dia hanyalah bagian baris “sakit hati” yang kalah star.

Sebenarnya akan sangat menarik untuk kita dalami, hal apakah yang menjadi daya pikat pesantren sehingga menjadi lahan empuk dijadikan lumbung suara partai politik tertentu. Terlebih hari hari ini, sangat banyak calon dewan atau eksekutif yang tidak mau menjauh dari wilayah pesantren, dikarenakan semua politisi sudah faham titik empuk di pesantren adalah kepatuhan pada perintah guru/kiyainya.

Banyak orang mengatakan, kebodohan seorang santri adalah patuh tanpa tawar pada setiap instruksi kiyai atau tuan guru (TGH) di setiap momen politik. Pandangan ini bukan lagi suatu hal yang tabu dimata masyarakat. Maka tidak jarang masyarakat secara umum menilai kaum santri sebagai kelompok fanatik buta. Sehingga klaim sebagai komunitas fanatik buta, tanpa kita sadari menggoyahkan psikologi setiap santri. Akhirnya, perlawanan pada instruksi Kiyai/TGH dianggap sebagai sebuah kehebatan melawan arus. Terkadang sanjungan orang akan keberanian kita melawan arus dianggap sebagai langkah pasti menuju akal jernih/rasional.

Jika kita telusuri lebih dalam, benarkah kepatuhan santri pada instruksi kiyai atau tuan guru sebuah kebodohan dan keterbelakangan? Benarkah keberanian melawan arus atau perintah kiyai sebagai langkah pasti seorang berakal jernih?

Perlu diingat oleh kita semua, santri memiliki konsep nalar tersendiri. Kepatuhan santri pada instruksi politik kiyai atau tuan guru adalah rasional paripurna / kelas tinggi. Rasional paripurna sangat sulit untuk dijabarkan jika tidak dibarengi dengan faktor masa lalu (Pernah Menjadi Santri).

Analisa dari Rasional Paripurna adalah, setiap pilihan memiliki konsekwensi tersendiri. Dimana setiap yang menjadi timses atau pelaku politik. Pasti akan mendapatkan imbas dari kemenangan politik. Dan kemenangan politik tidak akan mampu memenuhi semua hajat masyarakat secara general.
Artinya kesuksesan politik tetaplah tidak akan mampu memenuhi semua hajat hidup masyarakat banyak.

Maka sangat wajar para santri memiliki analisa simpel. Kalaupun dia dukung orang lain, maka tetap orang lain yang akan menikmati hasil politik. Jika mengikuti instruksi politik kiyai/TGH. Sedikit tidak hasil politik akan berimbas pada orang yang kita cintai yakni kiyai dan TGH. Selanjutnya, santri berfikir. Kiyai/TGH tidak akan pernah mengajak kita kecuali kepada hal-hal yang baik. Jika urusan pribadi aja sering kita konsultasikan dan minta petunjuk kiyai agar kita ringan melangkah. Apalagi urusan pileg dan pilpres yang penuh polesan dan pencitraan.

Sangat tidak rugi bagi santri mengikuti arahan guru dan kiyainya. Kalah dan menang bukan orientasi santri. orientasi mereka hanya ingin menanamkan dalam jiwanya sikap husnuzon pada kiyai/TGH yang mereka tauladani. Santri juga lebih faham siapa gurunya daripada omongan pengamat yang hanya mampu bercerita dari jauh.

Santri terbiasa patuh dan tidak terbiasa melawan, santri tau betul nikmatnya hidup dilingkungan penuh kepatuhan dan saling menghargai. Santri juga sangat faham artinya berserah/Mengabdi pada kiyainya. Maka akan menjadi suatu hal yang asing penuh kejanggalan dalam diri santri ketika dia tidak mampu memenuhi harapan gurunya. Santri sangat tau arti kata terima kasih pada pengorbanan gurunya.

Jika kita tinjau dari apa yang diatas, maka dari sisi manakah santri masih kita anggap sebagai kelompok fanatik buta? Mereka patuh itu tidak dalam kondisi membabi buta atau buta. Justeru kepatuhan mereka adalah rasionalitas paripurna dari diri santri. Karena santri tau esensi dari hidupnya manusia. Mereka sadar kalo kehadiran kita di dunia ini hanya untuk beribadah. Dan patuh pada perintah kiyai adalah ibadah yang luar biasa.

Santri juga terbiasa dengan perbedaan, tapi mereka sangat tau arti kekompakan dalam kepatuhan. Dalam politik, jika kau tidak jadikan kiyaimu imam, maka sejatinya kau juga sedang mengitu orang lain yang jadi imammu. Jika dengan ikut kiyai kita tidak tergolong sebagai Manusia bebas berekspresi, maka sejatinya kita juga sedang tidak dalam kondisi bebas berekspresi. Karena ada orang lain yang sedang kita ikuti. Sangat sulit untuk menilai tradisi santri kecuali oleh orang yang pernah merasakan menjadi santri. Santri sangat senang dengan sikap saling menghargai. Santri juga sangat tidak senang dengan caci maki. Santri lebih senang berbicara dari hati ke hati.

Kemapuan mengajak santri berbicara dari hati kehati dengan tanpa caci maki. Itulah orientasi hakiki dari setiap langkah santri. Marilah kita menilai setiap sikap santri tidak lagi dalam posisi luar diri, tapi nilailah sikap santri dengan cara masuk dan menjadi bagian dari keharmonisan kehidupan santri. Wallahualam

*Penulis adalah:
Ahmad Patoni, SS – Kepala Madrasah Diniyah Salaf Modern Thohir Yasin Lendang Nangka, Masbagik – Lombok Timur.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.