Pada tanggal 17 Agustus 2022, Indonesia merayakan kemerdekaan dengan usia 77 tahun. Hampir mau satu abad lamanya, cukup muda untuk berdirinya suatu bangsa yang begitu besar yakni Indonesia. Namun bangsa kita secara idologi memiliki dasar yang cukup kuat merangkul kemajemukan yang ada dengan 5 sila yang ada dan secara konstitusional dengan UUD 1945 yang menjadi payung hukum berbangsa dan bernegara demi terlaksananya kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Namun alih-alih menjadi bangsa yang mensejahterakan rakyatnya, sampai saat ini malah membuat rakyatnya semakin menderita. Kita dapat melihat hal ini dari beberapa kebijakan yang padahal memang berdampak langsung kepada kehidupan bermasyarakat terutama yang berkaitan dengan perihal kebutuhan yakni BBM.

Pada awalnya kenaikan BBM jenis Pertamax cukup menjadi pukulan keras bagi keadaan masyarakat dan ditambah baru selang beberapa hari setelah merayakan kemerdekaan RI, pemerintah seakan kembali memberikan sinyal akan adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis RON 90 (Pertalite) dan Solar.

Dalam hal ini Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut kenaikan harga BBM akan diumumkan Presiden Jokowi pekan ini.

Jika memang benar harga pertalite yang awalnya Rp 7.500, dinaikan menjadi Rp 10.000, kenaikannya cukup besar dengan selisih kenaikan yakni Rp 2.350 dari harga awal sebelumnya Rp 7.650. Jika memang isu ini benar, tentu akan sangat berdampak terhadap kegiatan ekonomi masyarakat yang akan mengalami inflasi dan memperburuk daya beli dan konsumsi masyarakat. Kenaikan BBM juga akan berdampak terhadap ketidakstabilan harga bahan pokok.

Selain itu ketika kita melihat keadaan saat ini di tengah kondisi ekonomi masyarakat sedang dalam tahap pemulihan pasca pandemi Covid-19 selama 2 tahun, masih banyak masyarakat yang belum stabil secara pekerjaan dengan keadaan Finansial yang tidak baik, ditambah angka kemiskinan makin bertambah.

Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) memprediksikan tingkat kemiskinan Indonesia pada 2022 berpotensi melonjak menjadi 10,81% atau setara 29,3 juta penduduk. (JAKARTA, KOMPAS.com) sehingga kesenjangan sosial yang begitu jelas terjadi yang berakibat pada harapan hidup yang rendah.

Hal ini tentunya sangat bertolak belakang dengan peningkatan harga bahan pokok lainnya yang juga disebabkan oleh adanya kenaikan BBM. Perlu adanya perhatian khusus terhadap alokasi APBN perihal kebutuhan hidup masyarakat Indonesia. **