LOTIM LOMBOKita – Dalam rapat evaluasi akhir serapan APBD tahun 2023 yang dipimpin Bupati Lotim,HM.Sukiman Azmy di kantor Bupati Lotim,Selasa (6|12). Dimana terdapat sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang realisasinya dibawah 80 persen.

Seperti dari sisi belanja diantaranya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lombok Timur sebesar 68,18 persen, RSUD Patuh Karya sebesar 67,46 persen,‎ Dinas Pertanian sebesr 61,84 persen, Dinas Perindustrian sebesar  61,04 persen, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman sebesar  53,82 persen.

Sementara dari sisi pendapatan masih ada OPD dengan capaian di bawah 60 persen seperti Dinas Perdagangan sebesar 56,61 persen, Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian sebesar  27,88 persen , Dinas Pertanian sebesar  28,5 persen dan Dinas Kelautan dan Perikanan sebesar  32,8 persen.

Bupati Lotim dalam rapat tersebut menginventarisasi sejumlah permasalahan yang menyebabkan masih rendahnya realisasi belanja maupun pendapatan asli daerah (PAD) sejumlah OPD, utamanya yang berada di bawah 70 persen. 

Selain itu meminta penjelasan sekaligus komitmen para pemimpin OPD untuk target optimal yang dapat direalisasikan sampai dengan berakhirnya tahun anggaran 2022.

” Dalam evaluasi OPD yang capaiannya ‎belum bergeser sejak bulan Oktober,maka dengan  kondisi itu Lotim akan sulit untuk mengejar ketertinggalan,” tegasnya.

Mantan Dandim 1615 Lotim ini  sempat membandingkan kinerja OPD dengan Kecamatan yang realisasianya rata-rata di atas 90 persen, kecuali kecamatan Selong yang capaiannya 86,74 persen.

Meski telah berupaya optimal untuk meningkatkan PAD yang masih rendah realisasinya dengan melibatkan aparat penegak hukum,akan tapi masih tetap rendah realiasasinya.

” Kita sudah melibatkan APH dalam realiasi PAD masih rendah,” tandasnya.

Sementara ‎Kepala Bappeda Lotim, Hj. Baiq Miftahul Wasli dalam penyampaiannya bahwa  realisasi APBD tahun 2022 dari sisi pendapatan mencapai 88,67 persen  dari anggaran Rp. 2,992 triliun lebih.

” Kalau dari sisi belanja realisasinya 82,75 persen dari angka Rp.3,288 triliun lebih, sedangkan dari sisi pembiayaan penerimaan pembiayaan 83,50 persen  dan pengeluaran pembiayaan di posisi 39 persen,” tandasnya.