Eceng gondok yang bernama latin Eichornia crassipes dan di beberapa daerah dikenal dengan berbagai nama seperti misalnya kelipuk di Palembang, ringgak di Lampung, ilung-ilung di Dayak, tumpe di Manado, dan madeng di Lombok. Eceng gondok merupakan tanaman pengganggu (gulma) yang kerap kali tumbuh mengapung di genangan air, waduk, rawa bendungan dan sungai. Misalnya di waduk Batujai. Kadang eceng gondok tumbuh berakar dalam tanah seperti sawah. Kemampuan adaptasi tanaman ini sangat tinggi sehingga mampu berkembang dengan sangat pesat.

Oleh karena kemampuan adaptasinya yang tinggi itu eceng gondok menjadi gulma yang sulit dikendalikan terutama yang tumbuh di perairan seperti waduk dan bendungan. Jika sudah tumbuh menumpuk tentu akan mengganggu ekosistem perairan.

Adapun dampak negatif dari eceng gondok seperti yang dikutip dari http://p3ejawa.menlhk.go.id/article31-potensi-eceng-gondok.html adalah :
Pertama, meningkatnya evapotranspirasi (penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun tanaman), karena daun-daunnya yang lebar dan pertumbuhannya yang cepat.

Kedua, menurunnya jumlah cahaya yang masuk ke dalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air (DO: Dissolved Oxygens).

Ketiga, tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan.

Keempat, mengganggu lalu lintas (transportasi) air, khususnya bagi masyarakat yang kehidupannya masih tergantung dari sungai, seperti di pedalaman Kalimantan dan beberapa daerah lainnya.

Kelima, menurunkan nilai estetika atau keindahan lingkungan perairan.

Namun, selain mempunyai dampak negative, kehadiran eceng gondok ternyata juga menyimpan potensi jika dimanfaatkan. Seperti yang dilansir dari beberapa sumber antara lain Land Development Department Thailand, kontan.co.id dan balittra.litbang.pertanian.go.id, manfaat dari eceng gondok adalah : 1). sebagai bahan baku pupuk organic karena mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman 2). Kerajinan tangan yang menarik seperti tas, sandal, hiasan dinding 3). Media tanam 4). Olahan makanan 5). Pakan ternak 6). Obat gatal dan sakit gigi 7). Sumber bioenergy 8). Bahan kosmetik,seperti sabun dan masker wajah, dan masih banyak manfaat lainnya.

Eceng Gondok Sebagai Bahan Baku Pupuk Kompos Organik

Eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk kompos organik karena banyak mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman.

Syawal (2010), menyatakan bahwa pupuk organik eceng gondok memiliki kandungan unsur hara N sebesar 1,86%, P sebesar 1,2%, K sebesar 0,7%, rasio C/N sebesar 6,18%, bahan organik sebesar 25,16% dan Corganik 19,61 %. Selain itu eceng gondok juga mengandung asam humat yang sangat bagus untuk tanaman.

Adapun manfaat asam humat seperti yang di muat dalam http://cybex.pertanian.go.id/ adalah :

  1. Memiliki kapasitas tukar kation yang tinggi. Peningkatan tersebut menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur-unsur hara. Asam humat membentuk kompleks dengan unsur mikro sehingga melindungi unsur tersebut dari pencucian oleh air hujan.
  2. Memiliki kemampuan penyerapan air sekitar 80-90% sehingga mengurangi resiko erosi pada tanah dan meningkatkan kemampuan tanah menahan air.
  3. Berkemampuan mengikat dan mengendapkan polutan seperti logam berat di dalam tanah sehingga mengurangi kadar racun tanah.
  4. Meningkatkan masukan (uptake) nutrient melalui konversi hara menjadi bentuk ketersediaan.
  5. Meningkatkan permeabilitas membran tanaman.
  6. Mengikat dan mengatur pelepasan hara sesuai kebutuhan tanaman sehingga meningkatkan efisiensi pemupukan.
  7. Memperbaiki struktur tanah secara fisik maupun kimia sehingga terbentuk tanah yang lebih gembur berstruktur remah dan lebih ringan. Keasaman tanah juga dapat dikurangi, terutama tanah yang banyak mengandung alumunium karena asam humat mengikat alumunium sebagai senyawa kompleks yang sulit larut dalam air sehingga tidak dapat terhidrolisis.
  8. Menstimulasi aktifitas mikrobiologi tanah sehingga meningkatkan pertumbuhan akar tanaman. Meningkatkan aerasi tanah akibat dari bertambahnya pori tanah dari pembentukan agregat.
  9. Menciptakan situasi tanah yang kondusif untuk menstimulasi perkembangan mikroorganisme tanah yang berfungsi dalam proses dekomposisi yang menghasilkan humus (humifikasi).
  10. Aktivitas mikroorganisme di atas tanah akan menghasilkan hormon-hormon pertumbuhan seperti auxin, sitokinin, dan giberillin.

Mengolah eceng gondok menjadi pupuk kompos juga sangat mudah dan sederhana. Alat dan bahan yang perlu disiapkan adalah, terpal, eceng gondok, air bersih, decomposer/EM4, dan gula pasir/gula merah. Pertama-tama siapkan tempat pengolahan, bisa tanah lapang ataupun digali dengan kedalaman setengah meter. Kemudian eceng gondok yang sudah dikumpulkan dipotong-potong menggunakan pisau atau alat pencacah menjadi kecil-kecil. Gunakan semua bagian dari tanaman eceng gondok baik itu daun, batang dan akarnya Semakin kecil hasil pencacahan maka akan semakin bagus dan cepat proses fermentasinya.

Buat larutan EM4 dengan cara masukkan 100 ml EM4 kedalam ember yang berisi air sebanyak 1 liter, masukkan 2 sendok makan gula pasir/gula merah, lalu diamkan selama kurang lebih 30 menit supaya bakteri dalam decomposer/EM4 aktif kembali. Susun eceng gondok yang sudah dicacah tadi dengan ketinggian 20 cm, setelah itu semprotkan larutan decomposer/EM4 sedikit demi sedikit secara merata. Tambahkan kembali cacahan eceng gondok setinggi 20 cm kemudian semprotkan decomposer/EM4 sampai merata. Ulangi sampai cacahan eceng gondok habis kemudian tutup rapat menggunakan terpal atau plastik supaya tidak ada udara yang masuk selama proses fermentasi. Diamkan selama 3 minggu.

Selama proses fermentasi akan terjadi perubahan suhu yang sangat tinggi hingga mencapai 80℃. Ini menandakan pengomposan sedang berlangsung. Setelah 2 minggu suhu akan berangsur-angsur turun hingga mencapai 30℃ yang menandakan proses pengomposan sudah berakhir. Setelah 3 minggu kompos eceng gondok siap dikemas dan digunakan.