Kelompok KKN Tematik Universitas Mataram dengan tema stunting di Desa Senanggalih mengadakan program PMT door-to-door dan sosialisasi dampak pernikahan dini guna meminalisir terjadinya stunting yang ditujukan untuk anak stunting, ibu hamil, dan remaja sebagai sasarannya sebanyak 46 peserta.

Jumlah tersebut sesuai data yang diperoleh dari Polindes untuk pembagian PMT sebanyak 18 anak stunting yang dilakukan oleh Mahasiswa KKN Desa Senanggalih dan untuk peserta sosialisasi 28 orang yang dihadiri oleh ahli gizi dari puskesmas, DP3AKB, dan PMD Kecamatan Sambelia.

Banyak upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah anak stunting, salah satunya dengan pembagian PMT dan sosialisasi terkait bahaya pernikahan dini di setiap dusun yang ada di Desa Senanggalih, dimana pada program ini diberikan banyak materi, penjelasan, dan ilmu pengetahuan penting yang perlu diketahui oleh ibu hamil dan remaja.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah 5 tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan pada masa awal setelah bayi lahir, akan tetapi kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun.

Dengan demikian, tidak salah lagi bahwa stunting menjadi salah satu permasalahan serius yang banyak mendapatkan perhatian dari berbagai pihak, khususnya bagi tenaga kesehatan.

Untuk itu, mahasiswa KKNT Universitas Mataram Desa Senanggalih melakukan sosialisasi yang didampingi oleh tenaga kerja profesional dalam bidangnya, yaitu Ibu Difa selaku tim ahli gizi dari Puskesmas Sambelia.

Materi penting disampaikan oleh Ibu Difa selaku tim ahli gizi dari Puskesmas Sambelia yang memberikan pemaparan terkait dengan makanan sehat dan bergizi yang harus dikonsumsi selama masa kehamilan, kemudian dijelaskan mengenai ASI eksklusif, cara membuat makanan yang tepat, seimbang, dan bergizi untuk anak-anak balita usia 6-12 bulan.

Selain materi yang disampaikan mengenai pembagian PMT untuk mencegah anak stunting, materi lain juga yang disampaikan oleh Bapak Busri dari DP3AKB dan Mamiq Adi mengenai bahaya pernikahan dini untuk meminimalisir kasus stunting di Desa Senanggalih.

Kehamilan di usia remaja berpotensi meningkatkan risiko kesehatan pada wanita dan bayi. Ini karena sebenarnya tubuh belum siap untuk hamil dan melahirkan. Wanita yang masih muda masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan.

Jika ia hamil, maka pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya akan terganggu. Biasanya kondisi yang muncul akibat hamil di usia muda yaitu:

  1. Tekanan Darah Tinggi. Hamil di usia remaja berisiko tinggi terhadap tingginya tekanan darah. Seseorang mungkin dapat mengalami preklampsia yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, adanya protein dalam urine, dan tanda kerusakan organ lainnya.
  2. Anemia disebabkan karena kurangnya zat besi yang dikonsumsi oleh ibu hamil. Anemia saat hamil dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur dan kesulitan saat melahirkan.

Bayi Lahir Prematur dan BBLR. Bayi prematur biasanya memiliki berat badan lahir rendah (BBLR) karena sebenarnya ia belum siap untuk dilahirkan. Bayi lahir prematur berisiko mengalami gangguan pernapasan, pencernaan, penglihatan, kognitif, dan masalah lainnya bisa menyebabkan kematian saat persalinan. Ini karena tubuhnya belum matang dan siap secara fisik saat melahirkan.

KKN Tematik Unram Desa Senanggalih, berharap bahwa kegiatan ini tidak hanya sebatas seremonial saja untuk menunaikan kewajiban,Namun, masyarakat sasaran dapat menghayati dan mengimplementasikan materi yang disampaikan dan menerapkannya di kehidupan sehari-hari untuk meminimalisir kasus stunting yang ada.