Masa Panen Malah Impor Beras 1 Juta Ton, Miris Hati Pemerintah Bagi Para Petani

Ditulis oleh Noly Aditya Ali Putra, Menteri Sosial Politik BEM Universitas Mataram 2021

Keadaan Indonesia secara geografis memiliki potensi yang besar sebagai negara Agraris, ditambah lagi keadaan iklim dan cuaca yang sangat mendukung dalam bidang pertanian, menjadi nilai suplus Indonesia dalam ketahanan swembada pangan dalam negeri bahkan berujung pada nilai ekspor yang dapat meningkatkan devisa negara.

Bahkan hampir semua komoditas pangan dapat tumbuh subur di Indonesia, lebih khususnya komoditas utama yaitu padi, sebagai komoditas pokok utama masyarakat Indonesia dalam kosumsi kesehariannya.

Namun ironinya, akhir-akhir ini kita mendengar rencana pemerintah RI untuk mengimpor beras sebayak 1 juta ton dalam periode masa panen raya para petani, justru hal ini menjadi pertanyaan dan kebingungan lebih khususnya untuk para petani beras yang berdampak langsung terhadap komoditas padi para petani yang akan dipanen.

Melihat situasi ini menjadi kecaman keras untuk pemerintah Indonesia khususnya Presiden Joko Widodo selaku kepala negara dan Kepala Pemerintahan harus mempertimbangkan secara mendalam atas kebijakan yang mengimpor beras pada masa panen raya. Pasalnya, saat para petani akan menghadapai masa panen bahkan awal-awal bulan April sudah bisa dilakukan masa panen bagi beberapa wilayah yang sudah dulu menanam, semisalnya Bojonegoro, Ngawi, sebagain wilayah selatan sudah memulai masa panen,” kata KRKP Said Abdullah dukutip dari CNBC Indonesia, Senin (8/3/2021).

Momen panen musim tanam I (MT I) yang biasanya lebih banyak menghasilkan komoditas beras dibandingkan dengan MT II. Jika kita melihat pemerintah merasa kekurangan dari stok komoditas beras dari para petani nasional, bahkan melihat potensi peningkatan produksi beras tahun 2021.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan potensi peningkatan produksi beras dari Januari hingga April 2021 sebesar 25,37 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), mengalami kenaikan 5,37 juta ton atau 26,88 persen dibandingkan subround yang sama tahun 2020 sebesar 19,99 juta ton GKG. Bahkan stok beras per Januari 2021 Bulog terdapat stok beras sebesar 977.000 ton dan Febuari tahun 2021, Bulog menyerap beras petani lokal sebesar 35,000 ton.

Bahkan ketika kita melihat neraca stok beras secara nasional saat ini mencapai sekitar 7,5 juta ton beras, sehingga kisarannya beras tahun 2021 sebesar 7.480.042 ton. Dengan akumulasi stok beras sebanyak itu, bisa dipastikan sudah sangat cukup sebagai persedian beras secara nasional bahkan cukup juga untuk diexpor keluar negeri. Pemerintah RI seharusnya melihat konteks perhitungan dan dampak yang akan ditimbulkan sebelum melakukan kegiatan Impor, apalagi ketika kita melihat para petani mampu dalam mencukupi kebutuhan komoditas pokok kita sendiri.

Melihat konteks yang sangat potensial sebagai negara Agraris yang besar pemerintah justru harus mampu memberdayakan dan melakukan evaluasi terhadap potensi yang ada, bahkan dalam narasi Presiden Joko Widodo mengingatkan untuk tidak terus terusan mengimpor atau mengupayakan produk dalam negeri sendiri.

Jangan sampe narasi yang dibangun menjadi pukulan yang membalikkan wajah pemerintah sendiri. Penting untuk kita bersama memperhatikan segala bentuk kebijakan yang ada sebagai masyarakat yang aktif dalam konteks monetoring pemerintahan melalui tulisan dan aksi yang nyata.

- Adv -

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.