Zeinta Tour and Travel - Solusi Ke Baitullah
Zeinta Tour and Travel

LOMBOKita – Pada tanggal 07 September 2022, Stasiun KLimatologi Nusa Tenggara Barat melaksanakan Press Release Prakiraan Musim Hujan Tahun 2022/2023 untuk wilayah NTB. Pelaksanaan Press Release Prakiraan Musim Hujan 2022/2023 dilaksanakan secara hybrid yaitu secara luring di ruang pertemuan Stasiun Klimatologi NTB dan secara daring melalui video conference Zoom Meeting.

Kegiatan ini dihadiri oleh UPT BMKG se-NTB, para stackholder baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota serta para awak media. Sebelumnya pada bulan Agustus perwakilan forecaster iklim UPT Stasiun KLimatologi NTB mengikuti kegiatan pembahasan dan penentuan awal musim hujan secara nasional dengan seluruh forecaster BMKG Indonesia. Perhelatan diskusi musim secara nasional juga secara khusus dilaksanakan pula di Pulau Lombok tepatnya di Hotel Raja, Kuta-Mandalika wilayah Lombok Tengah pada tanggal 1 hingga 5 Agustus 2022.

Data dan Zonasi Terbaru
Seiring perjalanan prakiraan musim di Indonesia ternyata perwilayah atau zonasi musim juga mengalami perubahan. Berdasarkan sejarah dan data, zonasi musim di Indonesia sudah mengalami perubahan baik dalam hal penamaan dan jumlah zonasi sebanyak tujuh kali.

Pembuatan zonasi musim dimulai pada tahun 1976 dengan 21 daerah zonasi yang terbagi 7 wilayah musim di pulau Jawa dan 4 wilayah musim di luar pulau Jawa. Pada saat itu nama wilayah zonasi disebut DPM atau Daerah Prakiraan Musim. Wilayah zonasi tersebut bertahan hingga tahun 1980. Pada tahun 1981 hingga 1985 jumlah daerah prakiraan musim bertambah menjadi 23 DPM diman jumlah DPM di pulau Jawa tetap dan terdapat penambahan 2 DPM di luar pulau Jawa.

Tahun 1985 hingga 1990 dimana UPT BMKG juga semakin bertambah maka jumlah daerah prakiraan musim juga bertambah dan menjadi 69 DPM. Penambahan DPM signifikan terjadi di pulau Jawa menjadi 63 DPM. Pada tahun 1991 istilah DPM berubah menjadi Zona Prakiraan Iklim atau disingkat dengan ZPI. Hingga tahun 1995 jumlah ZPI menjadi 101, terbagi menjadi 65 ZPI di pulau Jawa dan 36 ZPI di luar pulau Jawa. Pada rentang tahun 1996 hingga 2000 zona prakiraan iklim bertambah menjadi 163 ZPI dengan jumlah ZPI di pulau Jawa tetap, sedangkan untuk luar pulau Jawa jumlahnya menjadi 98 ZPI.

Istilah ZPI mengalami perubahan pada tahun 2001 menjadi Zona Musim atau ZOM yang kita kenal hingga sekarang. Jumlah ZOM pada waktu itu sebanyak 220 dengan pembagian ZOM di wilayah pulau Jawa sebanyak 94 dan luar pulau Jawa sebanyak 126 ZOM. Pembagian zona musim tersebut berlangsung hingga tahun 2010. Mulai tahun 2011 hingga sekarang, pemutakhiran zona musim terus dilakukan seiring dengan bertambahnnya titik-tik pengamatan baik dari UPT BMKG maupun pos hujan yang telah tersebar lebih dari 5000 titik di seluruh Indonesia. Pada tahun 2011 hingga 2021 jumlah zona musim terbentuk sebanyak 342 ZOM dengan 150 ZOM di pulau Jawa dan 192 ZOM di luar pulau Jawa.

Pemutakhiran zona musim terbaru belum lama ini dilakukan oleh teman-teman forecaster iklim di seluruh Indonesia yang dilakukan secara daring. Hasil yang didapat yaitu sebanyak 699 zona musim baru terbentuk di seluruh Indonesia. Wilayah NTB sendiri mengalami perubahan jumlah zona musim yang semula berjumlah 21 ZOM dengan pembagian 10 ZOM di pulau Lombok dan 11 ZOM di pulau Sumbawa, menjadi 27 ZOM dengan perubahan zona musim di pulau Sumbawa menjadi 17 ZOM. Perubahan yang cukup signifikan di pulau Sumbawa dikarenakan kerapatan pengamatan pos hujan di pulau Sumbawa (Sumbawa, Dompu, Bima) mengalami peningkatan. Sehingga dengan data hujan yang lebih rapat, pola-pola hujan yang sebelumnya tidak tertangkap menjadi diketahui sehingga dapat dibentuk zona musim yang lebih akurat.

Selain pemutakhiran zonasi, pada tahun ini BMKG juga melakukan pemutakhiran data standard normal yang digunakan dalam penentuan musim hujan tahun 2022/2023. Berdasarkan World Meteorological Organization (WMO) [https://community.wmo.int/wmo-climatological-normals] periode normal data adalah periode rata-rata data iklim yang dihitung untuk jangka waktu yang seragam dan relatif panjang terdiri setidaknya tiga periode sepuluh tahun berturut-turut.

Adapun pengertian standard normal adalah ata-rata data iklim yang dihitung untuk jangka waktu yang seragam dimulai tahun berakhiran 1 hingga tahun berakhiran 0 terdiri setidaknya tiga periode sepuluh tahun berturut-turut, dimulai 1 Januari dan berakhir pada 31 Desember. Sehingga pada periode sebelumnya BMKG menggunakan standard normal 1981 hingga 2010, dan sekarang telah dimutakhirkan dengan menggunakan standard normal 1991 hingga 2020.

Musim Hujan Provinsi NTB 2022/2023
Pantauan dinamika atmosfer yang dilakukan oleh rekan-rekan BMKG memperlihatkan kondisi fenomena La Nina di Samudera Pasifik yang masih bertahan dalam skala lemah hingga moderate. Suhu muka laut di Indonesia juga terpantau hangat hingga Februari, hal ini akan menambah pasokan uap air di wilayah Indonesia. Pantauan Samudera Hindia memperlihatkan kondisi Dipole Mode negatif yang mengindikasikan penambahan uap air di wilayah Indonesia bagian Barat.

Jumlah uap air yang diprakirakan meningkat, menjadi pertimbangan BMKG bahwa musim hujan 2022/2023 diprakirakan akan maju dibandingkan dengan normalnya. Mengerucut lebih dekat ke wilayah NTB, bahwa musim hujan tahun 2022/2023 di provinsi NTB paling cepat akan terjadi pada bulan Oktober yang terjadi di Kota Mataram, Lombok Tengah bagian Tengah dan Selatan, Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa bagian Barat, dan sekitar Gunung Tambora. Sedangkan prakiraan musim hujan paling akhir terjadi pada bulan Desember yaitu di Kabupaten Bima bagian Timur. Wilayah-wilayah lainnya akan mengalami awal musim hujan 2022/2023 berkisar November dasarian I hingga November dasarian III.

Puncak musim hujan 2022/2023 di provinsi NTB diprakirakan akan terjadi pada bulan November 2022 – Februari 2023, tetapi paling banyak terjadi pada periode Desember 2022 hingga Januari 2023. Adapun prakiraan sifat musim hujan tahun 2022/2023 umumnya Normal atau sama dengan klimatologisnya.

Langkah Antisipasi
Awal musim hujan tahun 2022/2023 yang diprakirakan akan maju akan memiliki dua sisi bagi masyarakat Indonesia khususnya di wilayah NTB. Sisi positif yang dapat dilakukan dengan masuknya musim hujan yang lebih awal dapat memanfaatkan curah hujan tersebut untuk mengisi embung, waduk atau tempat penampungan lainnya sebagai langkah antisipasi dan mitigasi pada saat musim kemarau di tahun depan terutama bagi daerah-daerah yang memang rawan kekeringan. Langkah penyesuaian juga dapat dilakukan bagi sektor pertanian misalnya melakukan musim tanam lebih awal atau menambah luas tanam.

Sisi negatif dari awal musim hujan yang datang lebih awal perlu diwaspadai peningkatan kondisi cuaca ekstrim seperti hujan lebat, angin kencang, puting beliung, hujan es dan banjir yang akan terjadi pada masa peralihan yang juga akan dating lebih cepat. Pemerintah Daerah dan Masyarakat di daerah rawan banjir dan tanah longsor dihimbau untuk waspada menjelang dan pada saat periode puncak musim hujan terutama di wilayah yang mengalami musim hujan lebih basah dari normalnya. Selain itu, masyarakat diharapkan tetap pantau info BMKG setempat guna mengantisipasi bencana dan dalam perencanaan kegiatan di berbagai sektor.