Opini Masyarakat Mengenai Penyuntikan Vaksin Pemberantas Covid-19

Ditulis oleh Aida Ridatul Rizki, Mahasiswi Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Mataram

Satu tahun delapan hari kasus Covid-19 di Indonesia masih berada pada zona yang belum aman. Pada bulan kesebelas (26/01/2021) kasus di Indonesia bertambah hingga satu juta kasus dalam satu hari. Persebaran kasus Covid Di Indonesia juga semakin luas dan sudah memasuki semua klaster penduduk.

Berdasarkan data Satuan Tugas (Stagas) Penangana Covid-19 sejak senin ( 8/3/2021 ) selasa hingga (9/03/2021) kasus Covid di Indonesia berjumlah 1.361.098 orang terhitung sejak diumumkannya pasien pertama pada 2 Maret 2020. Peningkatan kasus ini menyebabkan berubahnya tatanan kehidupan masayarakat karena mengharuskan mereka turut serta berperang melawan virus Covid-19 dalam upaya mengehentikan penyebaran virus tersebut.

Berbagai hal dalam upaya menghentikan penyebaran kasus Covid-19 telah dilakuakan, mulai dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilakukan pertama kali di daerah DKI Jakarta dan diikuti oleh daerah lainnya, penerapan 3M (Mencuci Tangan, Menggunakan masker dan Menggunakan hand sanitizer), Work From Home (WFH) bagi pekerja kantoran da pekerja lainnya mulai dari instasi negara hingga swasta hingga mempengaruhi dunia pendidikan yang hingga saat ini diakukan secara (online) satu dalam jaringan.

Pengobatan dari dalam diri sudah mulai diupayakan oleh pemerintah salah satnya dengan pengadaan vaksin yang diupayakan mampu membentuk antibody masyarakat agar semakin kuat dan diharapkan mampu melawan virus corona sehingga penambahan kasus Covid-19 dapat dihentikan. Vaksin ini dikenal dengan vaksin Sinovac yang digunakan oleh Presiden Joko Widodo walaupun diketahui dari berita-berita yang beredar terdapat lima jenis vaksin yang akan diedarkan. Vaksin corona yang didatangkan Pemerintah Indonesia telah terdaftar di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan telah melalui uji klinis. Hal tersebut sesuai dengan yang dikatakan Erick Tohir selaku Manteri BUMN (CNN.Indonesia). Pemberian vaksin ditujukan kepada seluruh masyarakat Indonesia berdasarkan tingkatan umur yang sudah ditentukan, Kegiatan vaksisnisasi tersebut dilakukan secara bergelombang dan bertahap. Gelombang Pertama telah dilakkan oleh Kepala Negara pada tanggal 13 Januari 2021 kemudian penyuntikan tahap kedua dilakukan rentang 14 hari.

Pemberitaan Vaksinisasi telah sampai ke pada msayarakat yang menimbulkan munculnya berbgai respon terkait hal tersebut, muncul opini-opini pada kalangan masyarakat. Terdapat penerimaan dan penolakan pada opini yang dibawa masyarakat tentang vaksin penolakan dan penerimaan tersebut dalam hal ini tentu akan mempengaruhi jalannya vaksinisasi masyarakat. Tidak sedikit dari masyarakat yang berfikir bahwa suntik vaksin akan berdampak buruk pada kesehatan, sehingga menimbulkan ketakutan untuk diberikan suntik vaksin.

Timbul pertanyaan-pertanyaan yang mengundang opini dari masyarakat yang satu sama lainnya saling mempengaruhi antara masyarakat. Apakah vaksin yang disuntikkan pada Presiden sama dengan vaksin yang akan di suntikkan kepada msayarakat? Pertanyaan tersebut menimbulkan pernyataan yang beragam dari masyarakat. Karena jenis vaksin yang beredar tidak hanya satu jenis, tentu menimbulkan kebingungan pada msayarakat, apakah vaksin yang mereka terima akan sama dengan yang diterima oleh kepala negara dan aparat negara lainnya?.

Dalam hal ini tidak sedikit dari masyarakat yang belum memahami prosedur dari suntik vaksin ini sehingga menimbulkan ketidakjelasan pada masyarakat. karena ketidakjelasan ini menyebabkan timbulnya pemikiran-pemikiran masyarakat yang saling mempengaruhi satu sama lainnya, terlebih lagi pada masyarakat desa yang penerimaan informasinya masih sangat kurang akan hal tersebut. Stigama masyarakat banyak mengutarakan kecemasan akan kesehatan mereka, namun di lain sisi jika menolak anjuran dari pemerintah juga ditakutkan akan mempengrahui kehidupan mereka berikutnya.

Kemudian bagaimana efek samping vaksin yang belum dijelaskan. Secara keseluruhan suntuk vaksin belum disosialisasikan kepada masyarakat oleh tim kesehatan yag khusus untuk menemui masyarakat terkhsus bagi masyarakat desa, sebelum dilakukannya suntik vaksin. Hal ini menimbulkan berbagai tanda tanya yang dapat menimbulkan opini-opini dari masyarakat itu sendiri. Tidak sedikit dari masyarakat yang berfikir bahwa vaksin tersebut memang dapat membentuk antibody untuk menolak virus corona, namun hal tersebut tidak dapat menutupi kemungkinan timbulnya efek samping yang dapat menimbulkan penyakit baru bagi masyarakat.

Munculnya berbagai kabar yang simpang siur yang mendorong stigma-stigma masyarakat akan hal tersebut, seperti misalnya beredar kabar yang tidak jelas bahwa vaksin memberikan efek samping yang mengancam nyawa. Karena ketidaktahuan masyarakat semakin membuka pikiran-pikiran yang tidak berdasar seperti vaksin ini dianggap datang dari China, yang mana China sendiri yang mengedarkan virus dan memberikan obat bagi virus tersebut, seakan virus ini dan obatnya memang sengaja dibentuk untuk menyusahkan masyarakat dan kepentingan politik.

Jika melihat tangapan dan respon masyarakat tersebut diatas, dapat diperluas dengan teori Stigma Erving Goffman dengan menggunakan paradigma definisi sosial. Teori Erving Goffman menggunakan self dan identity. Self berkaitan dengan diri individu bagaimana mereka memaknai dirinya dan membentuk makna atas dirinya serta pandangan individu dapat membentuk makna untuk individu lainya. (George Ritzer Douglas J. Goodman, 2014: 397)

- Adv -

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.