PPK dan Kontraktor Proyek Pasar Sambelia Ditetapkan Tersangka 

1348
kali tampilan.
Loading...

LOMNOKita – Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Proyek Pasar Sambelia dengan inisial LM dan Kontraktornya dengan inisial A ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik pidana khusus Kejaksaan Negeri Lombok Timur.

Setelah kasusnya dinaikkan dari penyidikan umum ke penyidikan khusus dan cukup alat bukti untuk menetapkan kedua orang tersebut menjadi tersangka.

Demikian ditegaskan Kepala Kejari Lotim,Iwan Setiawan Wahyudi kepada wartawan di kantornya,Jumat (6|12) disela-sela kegiatan peringatan anti korupsi.

 ” Memang betul dua orang telah kami tetapkan sebagai tersangka yakni PPK dan Kontraktor Proyek Pasar Sambelia,” tegasnya.

Ia menegaskan pihaknya menetapkan tersangka kasus proyek pasar Sambelia dua hari yang lalu. Sedangkan pihaknya belum melakukan pemeriksaan terhadap kedua orang tersebut semenjak ditetapkan tersangka.

Loading...

” Harusnya harus dilakukan pemeriksaan setelah ditetapkan tersangka dan akan segera kami lakukan pemanggilan dan pemeriksaan,” ujarnya.

Lebih jauh Kajari menandaskan pihaknya menetapkan tersangka karena dianggap sudah memiliki cukup bukti, saksi-saksi  dan memiliki unsur-unsur. 

Begitu pihaknya juga sudah menemukan adanya kerugian Negara dalam proyek tersebut dengan nilai kerugian 20 persen dari nilai proyek yang ada.Dengan mencapai milyaran rupiah.

” Kami menggandeng ahli tehnis bangunan dalam masalah ini dan perhitungan kerugian negara sedang menunggu hasil audit BPKP sedang berjalan,” tandas Wahyudi‎

Sementara saat ditanya mengenai penetapan tersangka apakah langsung dilakukan penahanan,Kajari Lotim mengaku belum berpikir kearah sana,melainkan masih melihat perkembangan dan menunggu keluar hasil audit dari BPKP.

” Belum kita lakukan penahanan karena masih menunggu hasil audit BPKP,” tukasnya.

Ditempat terpisah Wakil Bupati Lotim, H.Rumaksi SJ menegaskan pihaknya tetap mendukung langkah aparat penegak hukum untuk memproses apabila ada pejabat Lotim yang terlibat kasus korupsi. Dengan tidak akan melakukan intervensi terhadap proses yang sedang jalan.

Akan tapi tentunya tetap mengedepankan azas praduga tak bersalah, karena belum ada keputusan ingkrah. ” Silahkan saja APH proses kalau ada pejabat Lotim terlibat kasus korupsi, dengan tetap kedepankan azas praduga tak bersalah,” tegas Wabup Lotim.

Sementara mantan PPK Proyek Pasar Sambelia,LM saat akan dikonfirmasi para awak media di kantor Kejaksaan Lotim saat mengikuti kegiatan sepeda santai dalam rangka peringatan hari anti korupsi langsung meninggalkan tempat kegiatan setelah sampai finish.

1 KOMENTAR

  1. Menjelang Pilkades Kotaraja
    ================
    Kotaraja,
    Butuh Kepala Desa Plus


    Tanggal 4 Desember 2019, adalah masa berakhir nya Jabatan Kepala Desa Kotaraja. Selama lima tahun masa pemerintahan L Supiandi, warga Desa Kotaraja banyak yang menunggu dan berharap, prestasi apakah gerangan yang akan di torehkan oleh Kepala Desa Kotaraja tersebut.

    Dalam penantian kita, dari lima tahun masa jabatan kepala desa, fakta bukanlah prestasi yang di suguhkan. Namun, yang datang adalah masalah-masalah, mulai dari masalah Prona di awal masa jabatan, Penggalian illegal Galian C tanah asset Pemda Tingkat Propinsi NTB, dan terakhir masalah intoleransi kehidupan beragama, yang sempat mengundang perhatian masyarakat luas.

    Bertolak belakang dengan apa yang terjadi di Desa Kotaraja, di desa tetangga kita, desa Kembang Kuning, kita dikejutkan dengan prestasi emas desa yang di pimpin H L Sujian itu.Tak tanggung tanggung, selain no satu dalam jumlah Pendapatan Asli Desa ( Pades) di Lombok Timur, desa ini juga di nobatkan nomer satu untuk pariwisata Nusantara, katagori Desa Berkembang.

    Di desa lain, di desa Tetebatu Selatan, kini muncul tokoh muda, Zohry Rahman, dengan pengalaman yang mafan, memilki akses di pemerintah daerah, membuat desa ini seperti nya siap kompetisi dengan desa desa lainnya yang berpestasi.
    Pertanyaannya, lalu bagaimana dengan desa Kotaraja, masih kah kita harus jalan di tempat? Atau hanya bangga dengan sebutan Kotaraja?

    Seiring dengan berjalannya waktu, saat semua pimpinan desa se Lombok Timur, berlomba-lomba meraih prestasi tingkat daerah dan nasional, desa kotaraja, terlihat masih duduk santai. Desa desa lain, telah sekian langkah menyalip, kemajuan dan prestasi di berbagai bidang.
    Apakah ini harus di biarkan?
    Tidak. Masyarakat Kotaraja, harus Move On, harus bergerak maju.
    Momentum berakhir nya masa jabatan Kepala Desa Kotaraja, adalah saat yang tepat bagi masyarakat desa Kotaraja untuk Move on, maju dalam berpikir dan bertindak untuk memilih para tokoh yang tepat, sebagai Calon Kepala Desa mendatang

    Kilas balik

    Kotaraja, adalah nama sebuah desa yang saat ini berada di Kecamatan Sikur -Lombok Timur. Meski Kotaraja adalah sebuah desa, namun di beberapa daerah, nama Kotaraja identik dengan pusat pemerintahan dan kemajuan peradaban dari daerah sekitarnya. Di daerah, yang bernama Kotaraja ini, juga akan di dukung dengan Sumber Daya Manusia (SDA) disamping Sumber Daya Alam ( SDM) yang melimpah.
    Alhasil, dari perpaduan SDM dan SDM,di desa Kotaraja Kecamatan Sikur ini, Allah telah memberi kan semua. SDM, dari Professor, sejumlah Doctor, S2, dokter, ratusan Sarjana bahkan lulusan di bidang nuklir juga ada.Ada TNI dan Polri kita. Ada Tuan Guru dan ustad, dan ada Tokoh tokoh adat Sasak.

    Bagaimana dengan SDA kita? Lihatlah hamparan kehijauan yang subur di Lendang Marang, strategiesnya desa diapit oleh dua Sungai,
    Lihatlah Gunung Rinjani tersenyum ramah dipagi hari yang cerah.
    Kemajuan ekonomi dan perdagangan, lihat jumlah ATM tersedia, ada Alfa Mart, fasilitas wisata dan sebagai nya. Lihatlah juga Kampung Marang, dengan rotasi perputaran ekonomi yang terbesar dan pusat pande besi terbesar di Lombok Timur.
    Sebagai pusat kebudayaan, lihatlah mesjid Rhaudatul Muttaqin, dengan usia hampir 500 tahun sejak didirikan di Loyok, dan 300 tahun di Kotaraja, dan kini telah di tetap kan sebagai Cagar Budaya Nasional.
    Tak salah pendiri desa, Raden Suta Negara dan Raden Lung Negara, memberikan nama tempat ini, sebagai Kotaraja.(tanah yang baik/ subur) Semoga Allah menempatkan beliau dan keturunan nya di akhirat di sebaik baik tempat. (Amin)

    Kepala Desa Plus

    Dengan melihat, limpahan SDA dan SDM yang dimiliki, ibarat sebuah perusahaan, desa Kotaraja harus lah memiliki manager yang handal, pimpinan plus, atau Kepala Desa Plus. Plus dalam arti, lebih dari sekedar calon jadi,
    namun lebih lebih sebagai calon yang ingin mengabdi dengan segala kemampuan nya.

    Kotaraja Now

    Kondisi dan situasi Kotaraja terkini, sangat jauh di banding kan dengan desa-desa lainnya di Lotim.

    Dari luas wilayah, Kotaraja adalah ukuran untuk 3 desa pemekaran, dari keramaian lalu lintas dan keberadaan fasilitas penunjang, Kotaraja adalah sebuah desa dengan “rasa” Kecamatan. Bandingkan, dengan kecamatan Montong Gading. Sebuah kecamatan, namun masih tetap dengan “rasa” desa..

    Karena itu keberadaan Kepala Desa Plus, adalah sebuah keharusan. Kepala Desa Plus, adalah mereka yang mafan secara pribadi, memiliki akses ke pemerintah daerah, baik kabupaten atau propinsi, dan bila perlu pusat, mampu menggalang dukungan dari semua elemen masyarat di dalam desa dan diluar desa, Memiliki terobosan untuk memajukan desa, memiliki ahlak atau moral yang terpuji.
    Kriteria ini lah sesungguhnya, yang diinginkan masyarakat desa Kotaraja.

    Pertama calon kepala desa harus mafan secara pribadi
    dan bukanlah calon kepala desa yang ingin memperkaya diri, dan
    KKN.

    Kedua, Kepala Desa Plus,
    mampu menciptakan terobosan besar, misalnya menciptakan tenaga kerja.
    Menciptakan tenaga kerja ratusan orang di desa Kotaraja,
    sesungguhnya, bukanlah sebuah khayalan. Dengan kemampuan mengelola asset desa, dengan memanfaatkan Dana Desa, atau bekerja sama dengan pemda NTB dan Lombok Timur, membuat taman hiburan misalnya, maka pendapatan asli desa, hingga satu milyar per tahun, bukanlah sebuah khayalan.

    “Asset desa 9 hektar lebih, silahkan bangun, asalkan bermanfaat banyak untuk masyarakat , ” Begitulah kira kira ungkapan Pak Bupati H Sukiman.

    Banding kan dengan hasil sewa tanah pecatu Kotaraja, yang hanya memberikan kontribusi kurang lebih 80 juta. Artinya tanah Lendang Marang, yang di kenal sangat produktif, dapat di tanam 3 kli panen setahun, di sewakan dengan nilai yang sangat rendah.

    Ketiga, Kepala Desa Plus, bersama sama dengan semua tokoh Kotaraja, harus mampu mengantarkan putra-putra terbaik Desa Kotaraja, sebagai Bupati atau wakil bupati, di Lombok Selatan, sekiranya telah di mekarkan

    Karena itu Kepala Desa Kotaraja juga harus mampu sebagai penyambung aspirasi masyarakat desa Kotaraja dan desa -desa sekitarnya.
    Kita harus mulai menanamkan, bahwa Desa Kotaraja, sebagai Barometer desa desa di utara jalan negara ( Dayan Kawat), Putra Kotaraja, harus di perjuangkan untuk tampil menjadi calon wakil bupati atau bupati di Lombok Selatan.
    Ini lah sebuah harapan, dari saya, dan orang – orang yang sepaham dengan saya. Karena itu kita butuh calon kepala desa yang bukan sekedar jadi atau terpilih, akan tetapi Kepala Desa yang berpikir Plus. ***

    Penulis H L Arwan SH,
    Anggota DPRD Lotim 2004-2009, mantan Wartawan Lombok Post dan Lombok TV.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.