Ilustrasi rain water harvesting / Ist

LOMBOKita – Pada pertengahan bulan September 2021 yang lalu, BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat melaksanakan kegiatan “press release” prakiraan musim hujan untuk tahun 2021/2022 yang dilaksanakan secara daring dan iikuti oleh UPT BMKG di wilayah Nusa Tenggara Barat serta para undangan media dan stakeholder terkait.

Secara klimatologisnya musim hujan di wilayah NTB terjadi pada kisaran November dan Desember, tetapi sedikit mengalami perbedaan pada tahun 2021 ini. Adanya pengaruh dari fenomena iklim dan cuaca secara regional menyebabkan awal masuknya musim hujan pada tahun ini juga berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dan berbeda dengan kondisi normalnya.

Fenomena La Nina yang mempengaruhi musim kemarau tahun ini ternyata diprediksi akan kembali aktif pada musim hujan 2021/2022.

Hal ini jelas akan memepengaruhi baik dari waktu mulainya musim hujan di wilayah NTB, sifat hujannya serta intensitas hujan yang terjadi.

Prakiraan Musim Hujan 2021/2022
Kondisi laut dan atmosfer yang terpantau pada pertengahan September 2021 masih menunjukkan kondisi yang normal. Akan tetapi memasuki awal musim hujan prediksi terkait fenomena La Nina kembali muncul dan akan terjadi hingga puncak musim hujan 2021/2022. Gangguan global ini mempengaruhi maju mundurnya awal musim hujan di berbagai wilayah di NTB.

Selain dari kondisi global yang kita kenal dengan La Nina, fenomena lain yang tak kalah memberikan efek signifikan pada pertumbuhan awan hujan di wilayah NTB adalah fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang kita rasakan beberapa hari yang lalu. Kondisi tersebut cukup memberikan peningkatan curah hujan yang signifikan menjelang masuknya musim hujan.

Berdasarkan rapat koordinasi nasional pada forum prakiraan musim hujan 2021/2022 antara BMKG kantor pusat dan UPT di daerah yang tersebar dari Sabang hingga Merauke dan dilaksanakan secara daring didapatlah kesimpulan masuknya musim hujan 2021/2022 khususnya di wilayah NTB. Hasil forum musim nasional tersebut menyatakan bahwa dari total 21 Zona Musim (ZOM) di wilayah NTB, sebanyak 5% (1 ZOM ) akan mengawali musim hujan di wilayah NTB pada bulan Oktober dasarian ke-II, yaitu di wilayah Kota Mataram dan sebagain kecil Lombok Barat. Sementara itu, sebanyak 14% (3 ZOM) diprediksi akan menjadi wilayah terakhir masuknya musim hujan 2021/2022 yaitu pada Desember dasarian ke-II. Wilayah-wilayahnya antara lain Zom 228 : Lombok Timur (Pringgabaya), Zom 233 : wilayah Sumbawa (Utan, Rhee, Labuhan Badas), dan Zom 240 : wilayah Bima (Rasanae, Wawo, Sape, Belo, Wera). Prosentase terbesar awal musim hujan yaitu 29% terjadi pada Desember dasarian ke-I.

Kondisi iklim global yang menunjukkan adanya potensi La Nina berpengaruh pada prediksi awal musim hujan yang terjadi di tahun ini. Sebesar 52% (10 Zom) wilayah NTB akan mengalami awal musim hujan yang sama dengan normalnya dan 29% (6 Zom) akan mengalami awal musim hujan yang maju artinya lebih cepat dibandingkan dengan normalnya dan sisanya yaitu 19% (5 Zom) mengalami awal musim hujan yang lebih lambat.

Sifat hujan pada musim hujan 2021/2022 yang terjadi di pulau Lombok umumnya diprediksi berada pada kondisi Normal, sementara itu di pulau Sumbawa diprediksi akan mengalami sifat hujan Normal hingga Atas Normal terutama di wilayah Bima dan Dompu. Puncak musim hujan diprediksi terjadi pada bulan Januari hingga Februari 2022.

Peningkatan Curah Hujan artinya Saatnya “Panen Air Hujan”
Dibalik fenomena global La Nina yang diprediksi akan muncul pada saat musim hujan dan akan meningkatkan potensi hujan lebat serta potensi bencana hidrometeorologi, ada hal positif yang dapat dimanfaatkan dari kondisi tersebut. Berdasarkan hasil “Press Release” Awal Musim Hujan 2021/2022, Koordinator bidang Data dan Informasi mengatakan bahwa priode musim hujan yang terjadi lebih awal dan potensi sifat hujan yang lebih basah dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menambah luas tanam, mengisi waduk atau embung untuk keperluan pertanian, serta dapat melakukan “Panen Air Hujan”.

Rainwater Harvesting adalah tehnik yang sudah tidak asing dan sudah banyak diterapkan oleh negara-negara semi-arid seperti Afrika. Beberapa wilayah NTB yang memang menjadi “langganan” kekeringan sangat bisa untuk menerapkan tehnik tersebut agar dapat dimanfaatkan ketika musim kemarau tahun depan tiba. Curah hujan yang jatuh ke permukaan tidak semua dapat terserap ke dalam tanah karena adanya kapasitas serap air tanah sehingga ada sebagian air yang menjadi limpasan terutama di daerah yang banyak pemukiman dan pembangunan jalan.

Jika jumlah limpasannya cukup banyak hal itulah yang mengakibatkan banjir. Dengan adanya Rainwater Harvesting kita dapat mengurangi dampak dari limpasan air tersebut, selain itu air tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga seperti mencuci pakaian, mandi bahkan bisa digunakan untuk kegiatan usaha seperti jasa pencucian kendaraan dan Laundry.

Proses pemanenan air hujan sangat sederhana. Hujan yang jatuh di atap rumah di alirkan melalui pipa menuju pipa penyaringan. Guna pipa penyaringan disini adalah untuk menyaring debu dan pasir-pasir halus yang terbawa oleh air hujan. Sehingga saringan dalam pipa baiknya menggunakan saringan yang memiliki pori-pori cukup kecil. Setelah melewati pipa penyaring air bisa masuk ke dalam penampungan bisa berupa sumur, tandon atau bak air.

Pemanenan air hujan adalah salah satu bentuk mengurangi polusi air dan mengurangi pemakaian air yang tidak efisien. Selain itu, Rainwater Harvesting adalah bentuk upaya kita dalam mitigasi dan adaptasi terhadap iklim yang tidak menentu diwaktu yang akan datang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.