LOMBOKita – Tahun 2022 sudah berlalu, sudah kita lewati. Tentu saja seperti pada waktu waktu sebelumnya, seriap momen pergantian tahun selalu saja diisi dengan berbagai macam acara. Ada yang menggelar renungan di dalam kamar, ada yang menggelar acara hiburan. Bahkan ada yang melekan hingga menjelang pagi.

Namun terlepas dari bagaimana cara mengisi detik detik pergantian tahun itu, sebenarnya ada hal lain yang tak kurang pentingnya untuk menjadi bahan renungan.

Sesungguhnya, pergantian setiap wktu, baik detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun, merupakan sebuah momentum untuk evaluasi. Evaluasi apa saja, termasuk perilaku maupum prestasi dari masing- masing orang.

Kata orang bijak, hari ini lebih baik dari hari yang kemarin. Kalau hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin, sebenarnya betapa manusia itu sudah merugi. Idealnya, hari ini harua lebih baik dari yang kemarin.

Waktu sesungguhnya, selain sekedar alat untuk menghitung perjalanan usia, lebih dari itu merupakan indikator untuk mengevaluasi dan momentum penting dalam intropeksi. Waktu juga adalah pembatas dan pengatur agar dalam kehidupan ini berjalan teratur. Ada pagi ada siang, juga ada malam. Ada waktu kerja, istirahat dan tidur.

Semua itu dalam kehidupan ini, sudah merupakan suatu irama yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Semuanya sudah ditentukan. Karyawan harus masuk dan pulang kerja sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Begitu pula setiap orang yang merencanakan sesuatu. Akan terasa sulit untuk dilaksanakan bila tidak dtetapkan waktunya. Maka muncul pula istilah ‘kehabisan waktu’ dalam mengerjakan sesuatu, karena semuanya punya deadline, punya batas waktu.

Terlepas dari semua itu, yang penting adalah, bagaimana mengisi waktu dalam kehidupan ini dengan kegiatan yang bemakna. Tidak penting berapa panjang sebuah pidato. Tapi lagi-lagi kata orang, apa isi pidatonya. Demikian pula dengan kehidupan ini. Tidak penting berapa panjang usia seseorang. Tapi yang penting adalah, mereka telah berbuat apa saja dalam mengisi hidupnya. Hal serupa juga berlaku bagi masa jabatan, usia sebuah daerah atau sebuah negara.

Melalui momen pergantian tahun ini, diharapkan ada perbaikan-perbaikan bagi perjalanan daerah kita dalam membangun masyarakatnya. Jika selama tahun 2022 lalu, masih terjadi penyimpangan, saling sikut dan saling sikat, kita berharap di tahun 2023 kali ini tidak akan terjadi lagi.

Mari sama-sama kita bertekad untuk memperbaiki diri. Yang jadi pemimpin, memimpinlah yang baik dan benar. Yang jadi pejabat dan karyawan, jadilah pejabat dan karyawan yang baik. Begitu pula dengan ulama, rakyat, pengusaha. Harapannya, tentu akan dicapai cita-cita masyarakat maju, sejahtera dan adil.

Yang terakhir, saya mengucapkan “selamat tinggal tahun 2022, selamat datang tahun 2023” Semoga di thun 2023 kali ini, masyarakat NTB khususnya dan masyarakat seluruh pelosok Nusantara umumnya, bisa lebih sejahtera lagi. Sehingga akan semkin menambah kecintaan kita pada bumi tercinta, NTB Gemilang. Semoga!